Warga Rusia Ogah Diterjunkan ke Ukraina untuk Ikut Perang

Merdeka.com - Merdeka.com - Keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memobilisasi parsial (sebagian) angkatan bersenjatanya ditolak masyarakat dengan menggelar demo. Sejumlah demonstran ditangkap pihak berwenang.

Mereka enggan diterjunkan ke medan perang dan berusaha menghindari panggilan militer meski ancaman tahanan mengintai.

"Itu (mobilisasi) seperti film fiksi ilmiah dari tahun 1980-an. Jujur saja agak menakutkan," jelas Dmitry (28 tahun), seperti dilansir BBC, Kamis (22/9).

"Saya tidak yakin apa yang harus dilakukan selanjutnya: naik pesawat berikutnya ke luar negeri atau tinggal di Rusia sedikit lebih lama dan dikejar polisi di beberapa demonstrasi anti-perang," kata dia.

Bukan hanya Dmitry, namun Sergei (26), bukan nama sebenarnya, mengaku dia juga dipanggil militer Rusia meski dia adalah seorang dosen dan mahasiswa S3 yang tidak memiliki pengalaman tempur.

Sergei mendapat surat panggilan mobilisasi dan diminta untuk segera menandatangani surat itu serta datang ke tempat rekrutmen tentara.

Sebelumnya Presiden Putin mengatakan bahwa yang akan dipanggil mobilisasi hanyalah orang-orang yang telah melakukan dinas aktif dan memiliki keterampilan khusus serta pengalaman tempur.

Sergei pun khawatir karena hukum Rusia menyatakan bahwa orang-orang yang menghindari panggilan negara dapat ditahan karena tindakan kriminal.

Nasib Sergei tidak beda jauh dari masyarakat Rusia lain, namun mereka punya cara untuk menghindarinya, seperti yang dilakukan Vyacheslav, seorang warga Moskow, yang mencari bantuan medis untuk menghindari perintah itu.

"Kesehatan mental atau pengobatan untuk kecanduan narkoba terlihat seperti pilihan yang baik (untuk menghindari panggilan), murah atau bahkan gratis," katanya.

"Jika Anda mabuk (karena narkoba) dan ditangkap saat mengemudi, mudah-mudahan SIM Anda dicabut dan harus menjalani perawatan. Anda tidak bisa memastikan tapi mudah-mudahan ini cukup untuk menghindari dibawa menjadi tentara," lanjutnya.

Kakak ipar Vyacheslav nyaris lolos panggilan karena dia tidak ada di rumah saat petugas menelepon.

"Dia sekarang mengunci dirinya di ruangan dan menolak untuk keluar," kata Vyacheslav.

"Dia punya dua anak kecil berusia tiga dan satu tahun: apa yang harus dia lakukan?" lanjutnya.

Bahkan seseorang dari Kaliningrad mengatakan "saya akan mematahkan lengan saya, kaki saya, saya akan masuk penjara, apa pun untuk menghindari semua ini."

Kabur ke luar negeri

Masih ada cara lain untuk menghindari panggilan, yaitu seperti yang dilakukan Mikhail (25) dengan pergi ke negara tetangga.

Mikhail pergi ke Georgia semenjak mulainya perang, namun beberapa waktu lalu dia sempat kembali ke kotanya di wilayah Ural. Mikhail ingin kembali lagi ke kotanya namun dia takut dengan panggilan itu.

“Kami dalam keadaan panik. Di kota saya banyak yang sudah menerima surat panggilan tetapi saya tidak terdaftar untuk tinggal di sini jadi tidak akan mendapatkannya,” jelasnya.

Mikhail sendiri sudah tidak lagi peduli dengan keadaan negaranya. Mikhail menjelaskan bahwa dia hanya hidup untuk saat ini tanpa memedulikan masa depan.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]