Warga Sekitar Ledakan Petasan Tulungagung Sempat Bungkam pada Polisi

·Bacaan 2 menit

VIVA – Polisi sempat kesulitan melacak informasi ledakan petasan yang melukai sembilan pemuda di Desa Sukorejo Wetan, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung, Jawa Timur, karena warga sekitar memilih diam saat ditanyai petugas yang turun ke lokasi.

"Kami sempat tanya-tanya warga karena tidak ada laporan kejadian ke polisi. Kami justru tahu dari kabar dari media sosial yang beredar, termasuk awak media," kata Kepala Polsek Rejotangan AKP Heri Poerwanto memberi keterangan di kantor Kecamatan Rejotangan, Selasa, 11 Mei 2021.

Alih-alih proaktif memberi petunjuk awal kepada polisi, warga malah menutup semua pintu rumah. Lampu-lampu rumah juga dimatikan. Akibatnya petugas tidak mendapat informasi akurat mengenai kejadian maupun titik lokasi ledakan yang sudah beredar di medsos.

Polisi baru mendapat kepastian insiden ledakan setelah mendatangi RS Madinah dan RSUD dr. Iskak Tulungagung. Di tempat yang disebut terakhir itu, petugas mendapati 9 warga Desa Sukorejo Wetan yang luka bakar serius mendapat perawatan intensif di Instalasi Gawat Darurat. Empat orang di antara mereka kritis dan lima lainnya luka bakar skala sedang.

"Setelah mendapat kepastian korban ini baru petugas kami kembali ke Desa Sukorejo Wetan dan mendatangi warga demi mendapat klarifikasi dan lokasi kejadian. Awalnya masih ada yang mengelak sampai akhirnya ada salah satu warga yang menangis histeris dan menunjukkan rumah korban," kata Heri.

Sikap tertutup juga terkesan saat warga Desa Sukorejo Wetan yang anggota keluarganya ikut menjadi korban ledakan petasan, menunggu proses penanganan di Instalasi Gawat Darurat RSUD dr. Iskak.

Beberapa keluarga korban "pelit" bicara soal kronologi kejadian, terutama terhadap orang selain petugas rumah sakit. Namun mereka membenarkan anggota keluarganya menjadi korban ledakan petasan.

"Kami tidak tahu mengapa warga tidak bersikap proaktif melaporkan kejadian ini. Mungkin takut," katanya.

Heri memastikan kasus itu akan diusut tuntas. Hasil olah tempat kejadian perkara yang pertama maupun kedua, tim Inafis Satuan Reserse Kriminal Polres Tulungagung menemukan sejumlah bukti petunjuk.

Mulai dari bubuk mesiu, tiga buah petasan seukuran betis orang dewasa yang masih utuh dan siap pakai, selongsong petasan terbuat dari kertas, peralatan untuk membuat petasan, uang, sumbu petasan hingga parang di dalam rumah Abdullah yang menjadi titik lokasi ledakan.

Semua barang bukti dibawa ke Polres Tulungagung untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut.

Penyelidikan kasus ledakan petasan yang merenggut korban jiwa dan sejumlah lainnya luka-luka ini menjadi perhatian penuh Polres Tulungagung.

Dua korban yang terlibat dalam proses pembuatan petasan telah bisa dimintai keterangan karena kondisi fisiknya stabil. Namun lima warga lain masih terus dilakukan observasi oleh tim medis di Instalasi Rawat Darurat.

"Keterangan awal yang kami terima, insiden ledakan terjadi setelah salah satu buah petasan yang telah diisi bubuk mesiu, coba ditutup menggunakan potongan besi sisa proyek," katanya. (ant)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel