Warga Thailand gelar lari antipemerintah untuk gulingkan "paman"

Bangkok (Reuters) - Pekerja kantor Thailand Pinyo Tongleun, 33, pernah berpartisipasi dalam protes "Kaos Kuning" menentang Perdana Menteri saat itu Yingluck Shinawatra, yang akhirnya digulingkan dalam kudeta militer pada 2014.

Tetapi pada Minggu, ia bergabung dengan lebih dari 12.000 orang yang mengikuti "Lari Melawan Kediktatoran" untuk mengungkapkan frustrasi karena pemimpin kudeta - mantan panglima militer Prayuth Chan-ocha, yang dikenal dengan nama panggilannya "Paman Tu" - masih berkuasa setelah pemilihan yang disengketakan tahun lalu.

"Saya bosan dengan Paman Tu. Dan saya ingin dia mengembalikan demokrasi ke negara ini," kata Pinyo saat mengikuti acara lari itu, yang diadakan di sebuah taman di Bangkok. Itu adalah pertunjukan perbedaan pendapat terbesar sejak kudeta hampir enam tahun lalu.

Beberapa peserta berteriak "Prayuth, turun!" dan "Hidup demokrasi!" sambil berlari sejauh 2,6 km (1,6 mil).

Mereka adalah generasi baru pegiat dari kelompok demonstran yang saling bersaing yang berulang kali melumpuhkan Bangkok selama satu dekade sebelum militer mengambil alih.

Mereka menggambarkan diri mereka hanya sebagai pro-demokrasi, berbeda dengan kamp-kamp bekas "Kaos Merah" dan "Kaos Kuning" yang sebagian besar untuk dan melawan mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra yang digulingkan dan kemudian saudara perempuannya, Yingluck.

Banyak dari mereka yang berlari pada Minggu adalah pendukung partai baru Future Forward Party, yang didirikan oleh pewaris perusahaan onderdil mobil berusia 41 tahun, Thanathorn Juangroongruangkit.

Beberapa pendukung pemerintah menuduh Thanathorn mengatur acara tersebut, sebuah tuduhan yang dibantah oleh Future Forward dan penyelenggara - walaupun Thanathorn ikut serta dalam acara itu.

"Kami ingin demokrasi kembali. Ini adalah semangat mereka yang menolak dikalahkan oleh kediktatoran," kata Thanathorn kepada wartawan ketika dia tiba.

Tanawat Wongchai, 21, penyelenggara utama dari "Lari Melawan Diktatorship", mengatakan bahwa ia bukan anggota partai politik tertentu.

"Orang Thailand memiliki ingatan pahit tentang protes politik sehingga kami ingin menjadi kreatif dalam kegiatan kami melawan pemerintah," kata Tanawat.

Putaran baru konfrontasi jalanan tampaknya tidak mungkin, setidaknya dalam jangka pendek. Para pemimpin gerakan baru mengatakan mereka ingin menghindari protes di jalan tetapi itu belum sepenuhnya dikesampingkan.

PEMICU KUDETA BERAKSI

Pada kenyataannya, para pegiat hanya memiliki sedikit cara untuk benar-benar menggulingkan Prayuth. Perdana menteri saat ini yang memimpin pemerintahan koalisi 18-partai yang sulit yang memiliki mayoritas tipis tapi stabil di Dewan Perwakilan Rakyat.

Para pemrotes bersatu sebagian besar karena muak dengan pemerintah yang didominasi militer yang telah berusaha untuk menjelekkan oposisi - termasuk mengajukan tuntutan pidana terhadap Thanathorn dan bergerak untuk membubarkan Future Forward.

Dibentuk pada tahun 2018 sebagai alternatif untuk partai-partai mapan, Future Forward membuat penampilan yang kuat dalam pemilihan umum Maret lalu, berada di urutan ketiga dengan memenangkan 6,2 juta suara. Ia bergabung dengan aliansi oposisi "Kelompok Demokrasi" yang bertujuan untuk membatalkan warisan dan cengkeraman militer dalam politik.

"Lari Melawan Kediktatoran", yang dalam bahasa Thailand disebut "Lari untuk Mengusir Paman", menerima izin hanya setelah tempat asli ditolak oleh pihak berwenang.

Polisi juga menggeledah peserta saat mereka memasuki taman tempat diadakannya acara itu.

Acara saingan "Jalan untuk Mendukung Paman", yang diadakan di taman lain, untuk menunjukkan dukungan bagi Prayuth, hanya dijaga sedikit petugas keamanan.

"Secara keseluruhan situasinya tidak mencerminkan kemajuan dalam transisi Thailand menuju demokrasi dengan cara apa pun dan menunjukkan bahwa pemerintah memegang kendali penuh," kata Titipol Phakdeewanich, dekan ilmu politik di Universitas Ubon Ratchathani.

PEMBENCI BANGSA

Sekalipun mantan pendukung Kaos Merah pro-Thaksin juga berpartisipasi dalam "Lari Melawan Kediktatoran", salah satu pemimpin mereka, Jatuporn Prompan, mengatakan jelas bahwa fokus gerakan oposisi telah bergeser.

"Ini adalah waktu mereka seperti waktu kita 10 hingga 20 tahun yang lalu. Fenomena Thanathorn dan acara lari untuk mengusir paman adalah untuk generasi baru," kata Jatuporn.

Para pembela pemerintah, sementara itu, telah meningkatkan retorika terhadap para aktivis demokrasi baru ini.

Saat Thaksin dan saudara perempuannya dinyatakan korup, baik Thanathorn maupun para pendukungnya digambarkan berusaha untuk menghancurkan budaya tradisional Thailand, bahkan monarki konstitusional yang merupakan pusat identitas Thailand - meskipun tidak ada seorang pun di acara pada Minggu yang berbicara tentang menentang monarki.

Warong Dechgitvigrom, seorang anggota Koalisi Aksi untuk Partai Thailand yang propemerintah, menyebut generasi baru aktivis itu sebagai "pembenci bangsa".

"Grup saya akan terus memberi tahu orang-orang tentang pembenci bangsa karena Thanathorn ingin mengubah negara dan menggulingkan monarki," katanya.

Dia mendesak sesama warga Thailand untuk waspada dan mengawasi anak-anak kita.