Warga Villa Mutiara Sediakan Rumah Karantina untuk Pasien COVID-19

Mohammad Arief Hidayat, Muhammad AR (Bogor)
·Bacaan 3 menit

VIVA – Kekompakan masyarakat di perumahan Vila Mutiara Bogor (VMB) dalam penanganan 11 orang warganya yang terpapar positif COVID-19 patut dicontoh. Meski masyarakat harus ikhlas kehilangan seorang warganya yang meninggal, kini jumlah yang terpapar mulai berkurang dan berangsur sembuh.

Kisah kekompakan ini diungkapkan, Haryono, Ketua RW 11 Kelurahan Mekarwangi, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat. Ia menuturkan, lingkungan tetangga berperan penting memberi semangat dan kebutuhan warga yang positif COVID-19.

COVID-19 pertama kali menjangkiti sepasang suami istri yang tinggal di RT 02. Beberapa pekan kemudian, warga yang mengalami gejala bertambah. Kali ini dua orang di RT 01 dinyatakan positif COVID-19, dan dua orang di RT 03. Dan terakhir, satu keluarga, yakni suami istri dan tiga orang anaknya.

Belasan yang positif COVID-19 tak membuat warga ketakutan dan bersikap menjauhi tetangganya. Sebaliknya, pria yang dipanggil Hary ini mengatakan, warga VMB juga membentuk satgas penanganan COVID-19. Warga mulai memperketat kedisiplinan protokol kesehatan warga dari mulai 3M (menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) dan tidak berkerumun. Tempat ibadah dan lokasi umum pun ditutup.

Para orang tua pun mengawasi aktivitas anak-anak di luar rumah. Selain itu, Satgas berperan membantu kebutuhan warga yang diisolasi mandiri di rumah maupun yang menjalani perawatan di rumah sakit.

Hary mengatakan, peran penanganan dibagi masing-masing RT dengan berkoordinasi dengan RW. Nantinya RW mengakomodasi keperluan untuk memenuhi yang dibutuhkan warga. Contohnya, ketika kebutuhan seorang pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit, sementara istri dan anaknya diisolasi di rumah. Selama isolasi mandiri itu RT memenuhi segala kebutuhan warga.

Selain itu, setiap RT membentuk tim khusus yang secara bergiliran mendistribusikan kebutuhan warga yang sedang diisolasi. Warga membangun komunikasi dengan warga yang menjalani isolasi melalui WhatsApp Group.

"Di rumah menyediakan tempat untuk menyimpan bantuan makanan. Nanti ada yang menekan klakson motor lalu dari dalam rumah warga yang isolasi itu akan ambil. Kami merangkul, membantu, support yang [positif] COVID-19. Dari awal saya selalu koordinasi dengan Pak Lurah, Puskesmas dan Pak Camat. Pak Camat, Pemkot Bogor selalu memberikan bantuan berupa sembako, obat-obatan, vitamin," kata Hary.

Kekompakan warga juga terlihat saat salah seorang remaja yang isolasi mandiri akibat COVID-19 lulus seleksi masyk Universitas Diponogoro, Semarang, Jawa Tengah. Satu per satu warga membantu kebutuhan remaja itu dari mulai mencetak formulir, membeli materai, hingga kebutuhan scan dokumen.

Berbulan-bulan berlalu, dari 11 orang positif, 6 orang di antaranya dinyatakan sembuh dan negatif COVID-19 setelah melihat hasil PCR swab terakhir. Termasuk seorang warga yang dinyatakan sembuh setelah hanya lima hari dirawat. Namun ia masih harus isolasi mandiri di rumah. Untuk mencegah penularan kepada keluarganya, Satgas RT menyediakan rumah karantina.

"Di rumah karantina sukarela ini dari warga. Beliau diisolasi selama tujuh hari sebelum bergabung dengan keluarganya," kata Hary.

Namun, Hary menambahkan, kesedihan menyelimuti perumahan VMB ketika warga yang merupakan kader organisasi meninggal dunia akibat COVID-19 dengan penyakit penyerta. Sementara keluarga dari Almarhum, yakni istri dan ketiga anaknya, kini dinyatakan positif COVID-19 dan mereka isolasi mandiri.

“Karena semuanya tanpa gejala dan warga semua berharap dan berdoa agar diberi kesembuhan sehat sediakala dan kembali beraktivitas seperti biasa. Menurut pihak Puskesmas, setelah swab terakhir tanggal 2 November ini, masa isolasi keempatnya sudah berakhir dan bisa dikatakan pulih," ujarnya.


Baca: Tingkat Kesembuhan COVID-19 Indonesia Lebih Tinggi dari Dunia

#pakaimasker
#jagajarakhindarikerumunan
#cucitanganpakaisabun
#ingatpesanibu
#satgascovid19