Warganet Kaget Orang Asing Muncul Tiba-Tiba di Zoom, Apa yang Terjadi?

Liputan6.com, Jakarta - Zoom tidak dimungkiri tengah menjadi aplikasi video conference yang kini banyak digunakan. Meroketnya aplikasi ini tidak lepas dari imbauan untuk melakukan aktivitas di rumah.

Nah, sama seperti aplikasi populer lain, Zoom yang tengah naik daun tidak luput dari aksi hacker atau pihak tidak bertanggung jawab.

Salah satu yang baru-baru ini sempat menarik perhatian banyak orang adalah munculnya orang asing dalam sebuah video conference. Aksi ini dilaporkan terjadi di banyak negara, tak terkecuali Indonesia.

Untuk di Indonesia, aksi semacam ini sempat dilaporkan akun Twitter @collegemenfess beberapa waktu lalu. Akibatnya, banyak warganet yang bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi di Zoom.

Dikutip dari Fortune, Sabtu (4/4/2020), aksi yang sedang marak itu dikenal dengan nama Zoom Bombing. Jadi, seseorang yang tidak dikenal masuk dalam sebuah pertemuan dan mengacakuannya.

Laporan menyebut aksi ini terjadi di banyak pertemuan, mulai dari kasual hingga tingkat tinggi. Biasanya, para pelaku mengacaukan sebuah pertemuan dengan olok-olok bernada rasial hingga mengirimkan gambar yang mengganggu.

Dengan kondisi itu, sudah jelas para peserta dalam pertemuan di Zoom akan terganggung dan memilih meninggalkan pertemuan. Lantas, mengapa hal ini bisa terjadi?

Bukan Sepenuhnya Salah Zoom

Ilustrasi pertemuan virtual dengan menggunakan aplikasi Zoom. Kredit: Zoom

Setelah ditelusuri, aksi Zoom Bombing ternyata kebanyakan bukan berasal dari masalah di platform tersebut. Pengguna sendiri yang menjadi menyebabkan aksi ini terjadi.

Menurut Cofounder dan CEO Cybint, Roy Zur, kebanyakan pengguna yang menjadi korban aksi ini biasanya menyetel pertemuan Zoom menjadi publik, sehingga dapat diakses siapa pun yang mempunyai tautan pertemuan itu.

Roy mengatakan, pelaku tinggal mencari pertemuan yang digelar melalui Facebook atau media sosial lain dengan mengetik zoom.us. Hal ini dilakukan sebab biasanya tautan pertemuan semacam itu diunggah di media sosial.

Selain itu, ada beberapa forum khusus, seperti di Reddit yang memang ditujukan untuk mengungkap deretan ID pertemuan Zoom Classroom.

Kasus ini juga sempat mencuat tinggi di Amerika Serikat. Dalam sepekan terakhir laporan mengenai insiden ini di Amerika Serikat menurut FBI cukup tinggi.

Bahkan, menurut laporan CNN, dua pengguna Zoom mengajukan gugatan hukum terhadap perusahaan di pengadilan distrik California Utara pekan ini. Salah satu gugatan menuduh aplikasi video itu "telah gagal melindungi informasi pribadi jutaan pengguna perangkat lunaknya."

Cara Antisipasi Zoom Bombing

Ilustrasi Zoom (sumber: Zoom)

Lalu, apa yang dapat dilakukan pengguna Zoom untuk menghindari aksi ini? Jawabannya sederhana, pengguna tidak seharusnya berbagi tautan pertemuan secara publik.

Alih-alih membagikan tautannya di Facebook atau media sosial lain, pengguna dapat memanfaatkan kanal komunikasi lebih privat, seperti lewat email.

Selain itu, setel pertemuan tersebut menjadi 'private'. Saat ini, Zoom sendiri sudah menyetel kondisi awal sebuah pertemuan menjadi 'Private', sehingga diperlukan kata kunci untuk berpartisipasi.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah jangan berbagi personal meeting ID, sebab identitas ini tidak berubah. Apabila ingin berbagi identitas, pastikan dilakukan dengan orang yang dipercaya.

Lebih lanjut Ray mengatakan, kerentanan di Zoom memang kebanyakan berasal dari kurangnya pemahaman pengguna ketimbang bug. Hanya, karena kepopuleran terus meningkat, risikonya pun lebih tinggi.

"Seperti biasa, produk dengan kepopuleran tinggi, tentu akan menarik peretas," tutur Ray. Kendati demikian, upaya untuk mengatasi masalah keamanan siber juga terus digalakkan antara lain oleh white-hat hacker.

(Dam/Ysl)