Warholm tampil sebagai bintang saat atletik kembali digelar di Oslo

Oslo (AFP) - Juara dunia halang rintang 400m Karsten Warholm mengesampingkan kekhawatiran pandemi virus corona untuk memecahkan rekor dunia jarak 300 meter di stadion tertutup di Stadion Bislett yang hampir kosong pada Kamis.

Setelah pertemuan Diamond League di Oslo, yang dijadwalkan minggu ini dan dibatalkan karena pandemi, panitia memilih untuk berinovasi ketika kejuaraan atletik kembali menggelar event internasional multi-disiplin pertamanya, yang dipertandingkan secara daring sehingga dijuluki 'Impossible Games'.

Dalam pertandingan tersebut, masing-masing atlet harus berlari seorang diri, menghadapi atlet lain yang tampil di tempat terpisah di berbagai negara.

Dan favorit tuan rumah Warholm, tampil tidak mengecewakan, dan atlet Norwegia itu mencatat waktu 33,78 detik dalam nomor yang jarang dipertandingkan tersebut, memecahkan rekor sebelumnya 34,48 detik yang diciptakan pelari Inggris Chris Rawlinson pada 2002.

Seperti pada stadion lain, terdapat guntingan karton sebagai pengganti penonton yang dilarang menyaksikan kejuaraan karena wabah COVID-19, dan boneka dipajang di tribun penonton untuk memeriahkan suasana. Prestasi Warholm ternyata jauh lebih mengesankan saat ia berlari seorang diri di lintasan.

Mengambil garis start di lintasan nomor tujuh yang merupakan lintasan favoritnya, pelari berusia 24 tahun itu mempercepat laju untuk menjaga ritme dan kemudian melesat menuju garis finish.

"Saya banyak bermain Lego, dan saya sudah berlatih hampir sama banyaknya dan berusaha menjadi lebih baik," kata Warholm tentang waktu yang banyak dihabiskan di luar kegiatan olahraga.

"Tentu saja, saya merindukan kerumunan penonton tetapi sangat menyenangkan bisa kembali. Lebih baik melakukannya sendiri daripada tidak melakukannya sama sekali."

Sukses lain juga diraih atlet tuan rumah ketika nomor beregu Norwegia yang dipimpin oleh tiga bersaudara Ingebrigtsen, memenangi momor 2000 meter, mengalahkan tim tangguh asal Kenya yang dimotori Timothy Cheruiyot dan Elijah Manangoi, juara dunia 1500m pada 2019 dan 2017.

Pelari Kenya tersebut berlari secara simultan melalui tautan video dari Nairobi, di mana mereka tidak hanya harus menaklukkan kondisi kota dengan ketinggian kota 1.795m, tetapi juga hembusan angin dan hujan.

Ingebrigtsens, Filip, Henrik dan Jakob, berhasil mempertahankan kepemimpinan awal atas tim Kenya, terutama melalui dua bersaudara yang menjadi pelari terakhir.

Kemenangan akhirnya diraih Jakob Ingebrigtsen, yang masih berusia 19 tahun, menciptakan rekor Eropa dengan waktu 4 menit 50,01 detik yang memecahkan rekor sebelumnya dari 4: 51,39 yang diciptakan pada 1985 oleh Steve Cram dari Inggris.

Tapi catatan tersebut masih tertinggal jauh dari rekor dunia milik Hicham Guerrouj dari Maroko dengan rekor 4: 44,79 diciptakan pada 1999.

Ketiga bersaudara Norwegia menyelesaikan lomba dengan catatan 4:57, sementara catatan terbaik untuk Kenya diraih Cheruiyot dengan catatan 5: 03.05.

"Cheruiyot adalah pesaing utama kita. Tidak mudah mengalahkan juara dunia itu, tetapi kita berhasil!" kata Jakob Ingebrigtsen.

"Saya telah menghabiskan banyak waktu melakukan sesi pelatihan yang membosankan, ini adalah kompetisi yang paling penting dan menyenangkan."

Steve Cram, sekarang seorang komentator untuk BBC, mengatakan pertemuan atletik di Oslo telah menjadi "peristiwa khusus dan penting karena atletik kembali ke level tertinggi".

"Ini sedikit berbeda karena tanpa penonton seperti saat normal, tetapi para atlet memiliki platform untuk melakukan yang terbaik dan mereka tentu saja memberikan semuanya."

Sementara itu di nomor lompat galah putra, pemegang rekor dunia Armand Duplantis dari Swedia berhadapan dengan juara Olimpiade 2012 Renaud Lavillenie dari Perancis.

Lavillenie, bertanding dari kebun belakang rumahnya sendiri - dari landasan yang jauh lebih pendek - dan pertemuan mereka disiarkan bersamaan dengan saingan dari Swedia.

Kedua atlet tersebut pada bulan lalu sama-sama membuat film sendiri di tempat masing-masing, tetapi Duplantis lebih diuntungkan karena kondisi lintasan yang tepat untuk menang, mencatat lompatan 5,86m pada upaya ketiga. Sementara Lavillenie gagal dalam tiga upayanya pada ketinggian yang sama.

"Saya ingin melompat sedikit lebih tinggi, tapi saya tahu tidak dalam kondisi terbaik. Saya seolah sudah berkarat!" kata Duplantis.

"Saya telah kehilangan kompetisi dan meski tidak seperti kejuaraan biasanya, masih menyenangkan bisa kembali berkompetisi.

"Saya bisa tidur nyenyak malam ini, saya tidak akan mengeluh. Menyenangkan berada di luar sana. Hari yang menyenangkan di tempat kerja."