Warisan budaya arkeologis di Ambon didominasi oleh tinggalan kolonial

·Bacaan 2 menit

Hasil pendataan dan penelusuran Balai Arkeologi Maluku terhadap warisan budaya berupa objek arkeologi yang tersebar di sepanjang pesisir Teluk Ambon, Provinsi Maluku pada 2021, didominasi oleh objek peninggalan masa kolonial Eropa dan Jepang.

"Data warisan budaya berupa objek arkeologi yang tersebar di sepanjang pesisir Teluk Ambon relatif didominasi oleh objek tinggalan masa kolonial Eropa dan Jepang," kata Arkeolog Muhammad Al Mujabbudawat dari Balai Arkeologi Maluku di Ambon, Selasa.

Ia mengatakan secara garis besar pembabakan sejarah pemerintahan Kota Ambon merujuk sejak masa kolonialisme, yakni pendudukan Portugis pada 1575-1605, Belanda pada 1605-1942 dan Jepang pada 1942-1945, kemudian menjadi bagian dari Indonesia pada 1945.

Masa kolonial Eropa mewariskan sejumlah infrastruktur bangunan, tata kota dan jaringan jalan di kawasan pesisir Teluk Ambon, sehingga objek yang terdata lebih banyak terasosiasi dengan bangunan benteng, baik dalam kondisi relatif utuh maupun hanya tersisa strukturnya.

Baca juga: Arkeolog telusuri objek warisan sejarah dan budaya di Teluk Ambon

Baca juga: Benteng Nieuw Victoria terima sertifikat cagar budaya nasional

Sedangkan kolonial Jepang lebih banyak meninggalkan objek-objek kubu pertahanan yang erat kaitannya dalam strategi mempertahankan Teluk Ambon selama periode Perang Pasifik atau Perang Dunia Dua di Ambon pada 1942-1945, seperti meriam dan bangunan pillbox atau bunker.

"Ambon adalah kota yang memiliki sejarah yang panjang, baik dalam sejarah Maluku, Nusantara maupun sejarah dunia. Kota Ambon pernah menjadi pusat kedudukan para gubernur jenderal pertama VOC di Nusantara," katanya.

Menurut Mujabbudawat, selain objek masa pendudukan kolonial Eropa dan Jepang, dalam pendataan yang ia lakukan juga ditemukan tinggalan budaya masyarakat setempat, di seperti sumber air atau mata air, situs negeri lama dan objek lainnya.

Artefak dan ekofak pada masa pra kolonial yang dijumpai tersebar di sejumlah lokasi negeri lama berupa objek artefak benda pusaka, perkakas keramik Cina, tembikar, batu teong, meja batu dan toponimi kuno yang merujuk pada lokasi bekas baileo dan bangunan baileo yang masih berdiri.

"Temuan tinggalan yang berhasil direkam di lokasi pengumpulan data penelitian antara lain bunker, loopgraaf, stellen, meriam, struktur bangunan benteng, situs negeri lama, objek kapal karam bawah air dan objek budaya lainnya," ujarnya.

Baca juga: Revitalisasi Benteng Victoria, Kemenhan-Pemkot Ambon jalin kerja sama

Baca juga: Museum Siwalima tampilkan pameran temporer sejarah perjuangan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel