Warna-warni Bersama Gojek saat Pandemi COVID-19

Mohammad Arief Hidayat, Nur Faishal (Surabaya)
·Bacaan 4 menit

VIVA – Apa yang akan Anda lakukan ketika dalam kondisi penuh keterbatasan? Sementara kebutuhan untuk memenuhi hajat dasar diperlukan dalam waktu cepat dan tepat. Bujang yang tengah sakit dan tak boleh telat makan, misalnya. Atau ketika butuh cepat sampai ke lokasi pekerjaan sementara jalanan macet, atau bahkan kendaraan rusak. Apalagi saat pandemi COVID-19 melanda seperti sekarang.

VIVA coba memosisikan diri dengan keadaan sulit seperti itu. Tanpa bantuan, tanpa harus merepotkan orang lain. Sabtu menjelang siang, 10 Oktober 2020. Lokasi di sebuah warung kopi tepat di sebelah Rumah Sakit Mata Masyarakat di Jalan Ketintan Baru, Kecamatan Gayungan, Kota Surabaya, Jawa Timur. Sarapan telat. Bagi penderita maag atau asam lambung, itu waktu sarapan yang terbilat telat.

Di warung kopi, yang tersedia hanya gorengan dan beberapa cemilan lain. Selain kopi dan minuman lain tentunya. Sarapan kurang baik untuk kesehatan. Muncullah di pikiran: kacang ijo. Tapi di mana bisa mendapatkan kacang ijo dalam waktu cepat? Oh, GoFood.

Pukul 11.00 WIB. Aplikasi Gojek VIVA klik. GoFood jadi pilihan. Di layar bagian atas, tersedia kolom pencarian dengan tulisan lamat-lamat: Mau makan apa hari ini? Ketik Kacang Ijo, muncullah beberapa tempat makan yang menyediakan menu itu. Yang paling dekat di kawasan Ketintang Madya. Klik, muncul menu pesanan sekaligus harga makanan dan ongkos kirimnya.

Screen shot layanan Gojek.
Screen shot layanan Gojek.

VIVA memesan secara tunai. Dengan cara yang agak jadul seperti orang kebanyakan. Pukul 11.09, ngeklik, langsung muncul layar peta lokasi tempat makanan dan driver GoFood bernama Mansyur Ketintang dengan kendaraan bernomor L 36**GV. Di bagian bawah peta, muncul tulisan: Makanan lagi disiapin. Paling bawah tertulis, suhu tubuh dicek, kendaraan didisinfeksi. Mungkin Gojek ingin meyakinkan pelanggan bahwa pelayanan sesuai protokol kesehatan.

Pukul 11.20 WIB, sang driver tiba di lokasi VIVA berada, membawa kacang ijo yang dipesan. Tak sampai 15 menit. Ia menyapa lalu menanyakan nama, memastikan yang ia temui adalah benar-benar si pemesan. "Sampean cek dulu, Mas," ujarnya.

Itu bukan pengalaman pertama. Sebelum itu, VIVA coba memesan bubur ayam, juga untuk sarapan pagi. Juga dengan cara yang sama dan pembayaran tunai. Lokasinya di kawasan Manyar Regency di dekat kantor Kepolisian Sektor Sukolilo. Lokasi tempat makan lebih dari empat kilometer. Mungkin faktor sinyal atau Google Map di telepon pintar pemesan, driver nyasar ke kampung-kampung belakang Manyar Regency.

Tapi tak lama. Tak sampai 30 menit dari VIVA menge-klik pemesanan, si driver datang dengan membawa makanan yang dipesan. Tetap dengan wajah tersenyum, kendati sempat muter-muter mencari lokasi VIVA berada. "Saya ikuti Google Map, muter-muter enggak ketemu. Untung sampean saya telepon langsung jawab. Kadang ada yang enggak angkat-angkat telepon, Mas," ujar si driver sambil tersenyum.

Minggu, 4 Oktober 2020. Juga dari kawasan Manyar Regency, Sukolilo. Ada acara yang harus didatangi di sebuah hotel di Jalan Raya Darmo. GoRide dipesan. Lancar. Tak sampai 30 menit sampai. Hal yang berkesan sekaligus degdegan ketika mau pergi dari lokasi acara. GoRide lagi. Tujuan warung kopi biasa VIVA bersama teman-teman wartawan lain bersantai dan mengetik di Ketintang.

Driver tiba di pintu keluar hotel 30 menit kemudian. Padahal lokasinya stanby tak begitu jauh. Begitu sampai, ternyata si driver sudah agak berumur. Mungkin 50-an tahun. Tak perlu VIVA sebut nama dan nomor polisi motornya. Ia lama karena berputar-putar mengikuti penunjuk arah Google Map. Sepanjang perjalanan, si driver memacu motornya sangat pelan: 30 kilometer/jam.

Ia pelan karena sebentar-bentar melihat Google Map. Tentu sambil basa-basi mengobrol. Padahal rutenya gampang, terutama bagi warga Surabaya. VIVA agak degdegan. Karena terlalu pelan, khawatir diseruduk kendaraan dari belakang. Sampai di jalan kampung, laju motor tak stabil. Tangan si driver seperti tak kuat memutar gas.

"Bapak sakit? Kalau sakit saya yang nyetir," pinta VIVA.

Si driver menolak. Ia mengaku sehat. Kami sampai 30 menit kemudian dari titik berangkat. Lega.

Senin sore, 12 Oktober 2020. Seorang teman meminta bertemu di kawasan padat permukiman di Jalan Raya Simo Gunung. GoRide diklik. Muncul pesan 'layanan GoRide tidak tersedia'. Mungkin layanan itu sementara ditiadakan Gojek karena pertimbangan COVID-19. Terpaksa menge-klik GoCar, kendati terbayang rute yang sukar dilalui karena masuk perkampungan padat.

VIVA memperoleh driver bernama Budianto berpelat W 18** SQ. Hanya sekira 10 menit si driver tiba. Mobilnya sesuai protokol kesehatan. Ada penyekat plastik antara tempat duduk pengemudi dan penumpang. Berangkatlah kami dari kawasan Ketintang. Jika dengan mobil, perkiraan waktu tempuh lebih dari 30 menit. Sepanjang perjalanan.

Masalahnya, teman yang berada di lokasi tujuan keliru mengirim shareloc. Ia mengirim lokasi tujuan ketika masih berada di kawasan Jalan Simo Gunung Wetan. Kami ikuti dengan penunjuk arah Google Map. Masuk jalan kecil di kampung padat. Begitu mau sampai di titik tujuan, kami malah terbentur jalan buntu. "Jalan Raya Simo Gunung, Mas, bukan Simo Gunung Wetan," kata teman di pesan singkat.

Lokasi tujuan terakhir yang di-shareloc teman sebenarnya tidak jauh. Tapi karena di perkampungan padat, kami harus berputar. VIVA merasa tak enak pada si driver. Tapi, dengan ramah dia tak mempermasalahkan itu dan mengantar sampai tujuan. "Bukan salah sampean, kok, Mas. Salah teman sampean yang salah ngasih shareloc," ujarnya dengan ramah.

Lebih dari seminggu VIVA di Surabaya coba merasakan bagaimana memanfaatkan pelayanan Gojek dalam situasi yang terbatas. Tak salah jika Wikipedia menulis: Ide mendirikan Gojek muncul dari pengalaman pribadi Nadiem Makarim menggunakan transportasi ojek hampir setiap hari ke tempat kerjanya untuk menembus kemacetan di Jakarta. (ase)