Warsi dan Kemendikbud beri pelatihan kerajinan rotan untuk Orang Rimba

Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi bersama Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melatih kecakapan hidup untuk Orang Rimba di Kabupaten Sarolangun berupa pelatihan kerajinan rotan.

Pelatihan ini diikuti Orang Rimba atau Suku Anak Dalam (SAD) yang dilangsungkan di Pusat Pendidikan Belajar Mengajar (PKBM) Bunga Kembang selama tiga hari dan mereka diajarkan cara membuat kerajinan aneka produk dari bahan rotan, kata Koordinator Unit Orang Rimba Taman Nasional Bukit Budabelas KKI Warsi Anggun Nova Sastika, di Jambi Sabtu.

Tugas pemerintah pada dasarnya adalah memfasilitasi aspirasi dan harapan masyarakat. Untuk masyarakat adat, mari kita belajar bersama dan ikuti perkembangan zaman, namun tidak lupa akar budaya dan adat istiadat kita.

Pelatihan ini sekaligus untuk menjaga kebudayaan kita dapat lestari, terlindungi, termanfaatkan, dan dapat dikembangkan dengan baik.

Baca juga: Pangan dari "tano behuma" Orang Rimba

Baca juga: Orang rimba kehilangan budaya

“Orang Rimba lah tokang (Orang Rimba Sudah Bisa),” kata Orang Rimba sambil mengangkat hasil kerajinan rotan beraneka ragam.

Rotan merupakan hasil hutan yang akrab dengan Orang Rimba. Biasanya rotan dianyam menjadi ambung, alat pengangkut barang, untuk penggunaan sendiri.

Belum ada produk olahan rotan yang dikomersialkan. Padahal rotan sejatinya bisa diolah dengan berbagai kerajinan, bernilai ekonomi. Namun belum dilakukan Orang Rimba, kata Kapokja Masyarakat Adat Dr Julianus Limbeng.

Di sisi lain, sumber penghidupan Orang Rimba semakin menipis, akibat terus berkurangnya tutupan hutan. Hutan merupakan rumah Orang rimba yang menyediakan kebutuhan Orang Rimba.

Dengan kondisi ini, penting bagi Orang Rimba untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan kecakapan hidup.

Selama ini Orang Rimba telah memanfaatkan rotan. Hanya saja hasil hutan bukan kayu ini dijual dalam bentuk batangan, tanpa ada pengolahan. Penjualan rotan juga dilakukan hanya ketika ada permintaan dari pengumpul. Harga jualnya masih tergolong rendah.

Mata pencaharian Orang Rimba bertumpu pada hasil hutan bukan kayu, termasuk rotan dan kini berupaya untuk meningkatkan nilai jual dengan mengolah rotan menjadi berbagai produk bernilai ekonomis.

"Harapannya dapat menjadi sumber ekonomi baru, dan meningkatkan penghasilan Orang Rimba,” kata Julianus Limbeng.

Dalam pelatihan yang dipandu oleh pengrajin dan pemilik usaha kerajinan rotan Fajar Adenin ini, Orang Rimba dilatih untuk membuat berbagai produk kerajinan, seperti piring, keranjang, dan vas bunga.

Fajar menjelaskan dari sebatang rotan semua komponennya bisa dimanfaatkan untuk kerajinan dan jika menjual satu batang rotan, Orang Rimba hanya bisa mendapat uang tidak sampai lima ribu rupiah. Dengan menganyam satu batang rotan tersebut bisa mendapatkan uang 10 kali lipat.

Sementara itu, Beraden salah seorang peserta pelatihan mengatakan ia baru mendapatkan pelatihan serupa ini. Ia berharap ke depan terus diadakan pelatihan serupa hingga bimbingan untuk pemasaran.

“Semoga ada dukungan pemerintah untuk pengadaan alat-alat untuk menganyam,” kata Beraden, Orang Rimba dari Kelompok Tumenggung Ngrip.*

Baca juga: Batanghari usulkan ke Kemensos Tahura jadi permukiman orang rimba

Baca juga: Menteri Sosial mengajar di KAT Orang Rimba Jambi

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel