Wartawan Itu Tak Mengenal Namanya Pensiun

Syahdan Nurdin, nurterbit
·Bacaan 2 menit

VIVA - Beginilah keseruan Reuni Dadakan 3 "Wartawan Bangkotan" (wartawan senior, istilah halus dari wartawan tua, uzur, gaek, lapuk). Dari kiri ke kanan Bang Upa Labuhari (mantan Sinar Harapan), Mas Dwi Yantoro (mantan Pos Kota), Bang Nur Terbit (mantan Harian Terbit) era 1970-an hingga 2019-an.

Dari ketiga "Wartawan Bangkotan" ini, sekarang mereka semuanya sudah alih profesi ke bidang lain seiring era surat kabar memasuki senjakala. Bang Upa Labuhari sudah beralih profesi jadi pengacara, Mas Dwi Yantoro juga jadi pengacara, tapi kemudian belakangan lebih fokus jadi notaris dan PPAT (Pejabat Pembuat Akte Tanah).

Saya sendiri (Nur Terbit), meski sudah alih profesi juga jadi lawyer, tapi tetap masih setia menulis berita, artikel dan buku. Masih aktif sebagai wartawan dan sesekali nekat terbawa emosi turun ke lapangan berburu berita hehe ...

Karena itu, saya selalu mengatakan bahwa "wartawan itu tak kenal pensiun". Baik di setiap "kopdar" sesama wartawan dan mantan wartawan, atau di acara pelatihan jurnalistik saat berbagi pengalaman menulis di media cetak, online dan media sosial.

Di foto ini, juga sebagai bukti bahwa kami bertiga masih tetap berkomunikasi dengan lancar, saling mengunjungi satu sama lain. Lalu dipilihlah kantor notaris Mas Dwi -- Jalan Raya Narogong, Rawalumbu, Kota Bekasi -- sebagai tempat pertemuan para mantan ini, Selasa siang 17 November 2020.

Meskipun untuk "reuni dadakan" kali ini, kami tentu sudah datang dengan profesi baru masing-masing: Mas Dwi sebagai notaris, Bang Upa sebagai pengacara, dan saya yang masih abu-abu : setengah wartawan, separuh pengacara hahaha....

Tujuan utama reuni pun, akhirnya "melenceng" pula ke mana-mana. Yang dibahas juga melebar karena memang acara "diskusi" ini tanpa kendali moderator hahaha....

Dari persoalan kekinian, ngobrol ngarol-ngidul, hingga cerita zaman beheula sambil tetap bernuansa nostalgia.

Ya.. apalah yang bisa dibicarakan lagi kalau ada tiga "wartawan Bangkotan" (wartawan uzur dan terlanjur sudah tua) ini, kalau bukan pengalaman "heroik" dari diri masing-masing di masa lalu, ketika masih jaya-jayanya era media cetak (koran).

Ya begitulah indahnya pertemanan. Saling berkunjung, saling menyapa, saling tetap berkomunikasi, di tengah musim pandemi Covid-19 saat ini. Sehat selalu bro....(Nur Terbit)