Warung kelontong di Bali yang didigitalisasi raih omzet Rp2 juta sehari

Sekitar 50 ribu warung kelontong, kios, dan UMKM di Bali yang tergabung sebagai mitra perusahaan teknologi Bukalapak mendapat edukasi untuk merambat ke arah digitalisasi, hingga berhasil meraih omzet Rp2 juta per hari.


Saat dijumpai di Denpasar, Jumat, contohnya, salah satu pemilik warung kelontong di kawasan Denpasar Barat, bernama Ni Made Suartini dulunya hanya menjual produk makanan, namun melalui fitur mitra Bukalapak ia mencoba menjual produk virtual dan berhasil sukses.


“Banyak yang memilih datang ke warung saya dibandingkan ke tempat lain karena saya menyediakan macam-macam produk dan layanan virtual, seperti pulsa dan pembayaran tagihan. Hasilnya, saya dapat menaikkan pendapatan dari sekitar Rp300 ribu ke Rp2 juta per hari," kata pemilik warung kelontong yang sempat dipajang usahanya dalam rangkaian G20 September 2022 lalu.


Sementara itu, CEO Buka Mitra Indonesia Howard Gani menyampaikan bahwa pasar o2o (offline to online) yang digagas perusahaannya telah diinisiasi sejak 2016 lalu dan mulai menjajaki warung kelontong, kios, maupun UMKM sederhana terutama di daerah-daerah sejak 2017.

Baca juga: Bukalapak masuk dalam 50 besar perusahaan pengubah dunia

Kepada media di Denpasar, Gani mengatakan bahwa ini merupakan salah satu upaya pihaknya dalam mendukung visi pemerintah dalam hal digitalisasi, di mana berdasarkan riset Nielsen Mei 2022 terhadap 2.736 warung kelontong dan kios di 14 kota seluruh Indonesia, baru 25 persen yang ter-digitalisasi.


"Kami ingin dampak yang diciptakan oleh Mitra Bukalapak dapat dirasakan secara merata dan inklusif oleh pelaku bisnis kecil di seluruh Indonesia. Karena itu, kami akan terus memperluas akses ke berbagai layanan, dengan begitu kapabilitas bisnis mereka akan terus tumbuh dan bisa terus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," kata dia.


Pemilik warung kelontong yang sudah ter-digitalisasi lainnya adalah Adiwitari, bahkan pemilik UMKM yang berdiri di tengah kawasan Gajah Mada, Denpasar itu memanfaatkan fitur di aplikasi untuk memesan stok dagangannya.


"Saya bisa belanja stok barang dan bahan-bahan makanan untuk dijual warung dengan lebih mudah karena tinggal pesan, kemudian barangnya diantar langsung ke warung saya. Karena inilah saya jadi pionir penjual produk segar di lingkungan saya," ujarnya.


Adiwitari bercerita bahwa sejak pandemi keuntungannya justru meningkat karena memanfaatkan digitalisasi. Pebisnis kuliner yang baru memulai usaha di sekitarnya kerap memesan bahan melalui dia.

Baca juga: Bukalapak pamerkan warung digital di acara G20

Selain produk fisik, Adi juga menjual produk virtual seperti pulsa, token listrik, pembayaran BPJS, hingga transfer uang sehingga dalam sehari omzetnya mencapai Rp2,5 juga.


Kedua pemilik warung kelontong yang dihadirkan Bukalapak mengaku ragu awalnya memulai bisnis menggunakan teknologi, bahkan mendapat penolakan dari keluarganya karena dinilai tak akan mampu menguasai sistem.


Akhirnya dengan diedukasi selama dua sampai tiga hari dan didukung grup diskusi akhirnya mereka paham, bahkan disediakan fitur pencatatan sehingga mudah bagi keduanya mengetahui pemasukan hariannya.


CEO Buka Mitra Indonesia Howard Gani menuturkan bahwa hingga saat ini di Bali jumlah komunitas dari Mitra Bukalapak sekitar 26 ribu dengan total mitra lebih dari 50 ribu pengusaha. 50 persen diantaranya berada di Kota Denpasar dan sisanya tersebar di tiap Kabupaten se-Bali.