Waspada, 5 Hal Ini Berpotensi Rusak Momentum Pemulihan Ekonomi Indonesia

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta Ada lima persoalan global akibat pandemi Covid-19 yang berpotensi mengganggu pemulihan ekonomi Indonesia. Hal tersebut diungkapkan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.

Persoalan pertama yaitu normalisasi kebijakan moneter dan fiskal negara maju.

Perry bilang, normalisasi kebijakan oleh sejumlah negara maju akan berdampak pada terbatasnya aliran modal asing ke. sejumlah negara berkembang. Alhasil, akan menekan nilai tukar negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Ini memang harus kita terus upayakan dalam presidensi G20. Ini agar betul-betul lebih kemudian direncanakan secara baik, dikalibrasi secara baik, dan terutama dikomunikasikan secara baik," katanya dalam webinar bertajuk Outlook Perekonomian Jakarta 2022, Jakarta, Jumat (24/12).

Kedua, dampak memar atau scarring effect pandemi terhadap korporasi dan stabilitas sistem keuangan. Khususnya di negara-negara maju.

"Seperti Amerika dan Tiongkok yang banyak mengalami luka memar. Langkahnya apa? tentu saja reformasi di sektor riil maupun langkah-langkah penanganan sektor khususnya korporasi," jelasnya.

Ketiga, meluasnya sistem pembayaran digital antar negara, termasuk juga risiko aset kripto.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Faktor Selanjutnya

Warga melakukan aktivitas di kawasan Jakarta, Jumat (15/10/2021). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mencatat realisasi anggaran Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) mencapai Rp416 triliun sampai 8 Oktober 2021. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Warga melakukan aktivitas di kawasan Jakarta, Jumat (15/10/2021). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mencatat realisasi anggaran Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) mencapai Rp416 triliun sampai 8 Oktober 2021. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Keempat, semakin kuatnya tuntutan ekonomi dan keuangan hijau dari negara maju. Untuk itu, lanjut Perry, Indonesia terus mempercepat transisi proyek-proyek ekonomi hijau yang lebih ramah lingkungan

"Termasuk sektor keuangan, perbankan tentu saja harus mempersiapkan bagaimana bisa membiayai proyek-proyek yang hijau. BI pun akan melakukan langkah-langkah sustanaible tersebut," bebernya.

Terakhir, melebarnya kesenjangan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Alhasil, Bank Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan inklusi di Indonesia.

"Karena saat ini, inklusi keuangan lah yang menjadi penting untuk mengatasi (kesenjangan), termasuk melalui digitalisasi," tandasnya.

Reporter: Suleman

Sumber: Merdeka.com

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel