Waspada Ancaman Kelelahan Akibat Pandemi

·Bacaan 5 menit

Saat ini fenomena menurunnya kepatuhan masyarakat dalam menjalani protokol kesehatan di tengah pandemi covid-19 banyak terjadi di sekitar kita. Menurunnya kepatuhan masyarakat dalam menjalani protokol kesehatan disebut sebagai pandemi fatigue atau kelelahan akibat pandemi covid-19. Organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa pandemic fatigue merupakan kondisi yang terjadi ketika seseorang kehilangan motivasi untuk mengikuti perilaku pencegahan dan mencari informasi terkait covid-19. Kondisi kelelahan akibat pandemi ini muncul secara bertahap dari waktu ke waktu yang dipengaruhi oleh sejumlah emosi, pengalaman, persepsi, budaya, sosial, struktural, dan kebijakan di lingkungan.

WHO secara resmi mendeklarasikan Covid-19 sebagai pandemi pada tanggal 9 Maret 2020 yang menandakan bahwa virus tersebut telah menyebar secara luas di dunia. Data dari WHO per tanggal 9 juni 2021 sebanyak 173.609.772 kasus terkonfirmasi covid-19 dan 3.742.653 kematian di dunia. Berdasarkan laporan WHO, grafik kasus covid-19 saat ini semakin tinggi bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya tidak terkecuali di Indonesia. Pada tanggal yang sama jumlah kasus di Indonesia menunjukkan 1.8777.050 kasus terkonfirmasi covid-19 dan 52.162 (2,8%) kasus kematian. Penelitian Tim Sinergi MAHADATA UI Tanggap COVID-19 tahun 2020 mengemukakan bahwa peningkatan kasus disebabkan kurangnya kepatuhan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan 3M (Memakai Masker, Mencuci Tangan, Menjaga Jarak). Masih banyaknya kasus terkonfirmasi baik di dunia maupun Indonesia saat ini menandakan bahwa pandemi covid-19 belum berakhir dan kita harus menghadapinya bersama-sama.

Kelelahan akibat pandemi ini merupakan suatu yang wajar terjadi ketika terjadi pandemi dalam waktu yang lama. Penurunan motivasi muncul saat masyarakat menjadi terbiasa dengan virus covid-19 ini sehingga terbentuk persepsi bahwa ancaman virus telah menurun meskipun data kasusnya meningkat. Selain itu, kerugian yang dirasakan akibat pandemi seperti adanya pembatasan semakin meningkat karena masyarakat mengalami pembatasan secara pribadi, sosial, maupun ekonomi jangka panjang. Pembatasan secara lama dan terus menerus ini menyebabkan seseorang merasa mempunyai sedikit kontrol sehingga masyarakat menjadi terbiasa dengan pandemi dan ancaman yang ditimbulkannya, serta merasa puas diri dengan pandemi yang masih terjadi. Ketika masyarakat merasa sudah terbiasa dengan pandemi dan tidak mencari informasi mengenai covid-19 didukung dengan perilaku masyarakat di sekitarnya yang juga sudah mulai abai dengan protokol kesehatan serta kebijakan yang tidak konsisten membuat terbentuknya kebosanan dalam menjalani protokol kesehatan sehingga terbentuk perilaku tidak mentaati protokol kesehatan.

Meskipun kelelahan akibat pandemi adalah hal yang wajar, kita tidak boleh membiarkannya terus menerus. Apabila kelelahan akibat pandemi ini berlanjut dampaknya banyak masyarakat yang tidak mentaati protokol kesehatan sehingga meningkatnya kasus covid-19 di Indonesia. Menurut Direktorat Jenderal Pelayanan Kementerian Kesehatan RI, bila terjadi lonjakan kasus yang begitu tinggi maka ada kemungkinan beberapa masyarakat tidak akan tertampung di rumah sakit dan ini berdampak pada tingginya angka kematian dan angka penularan. Tingginya kebutuhan akan pelayanan kesehatan ini juga berdampak pada beban kerja tenaga kesehatan yang meningkat. Penelitian yang dilakukan Program Studi Magister Kedokteran Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (MKK FKUI) menunjukkan bahwa petugas pelayanan medis di garda terdepan selama masa pandemi covid-19 memiliki risiko 2 kali lebih besar untuk mengalami burnout syndrome. Tingginya risiko menderita burnout syndrome akibat tingginya kebutuhan fasilitas kesehatan selama pandemi ini dapat mengakibatkan efek jangka panjang terhadap kualitas pelayanan kesehatan karena para tenaga kesehatan bisa merasa depresi, kelelahan ekstrim bahkan merasa kurang kompeten dalam menjalankan tugas.

Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengatasi kelelahan akibat pandemi agar masyarakat mau mematuhi protokol kesehatan lagi. Menurut dr. Natalia Widiasih Raharjanti, SpKJ(K) dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam video YouTube bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada tanggal 10 Januari 2021, beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelelahan pandemi ini yaitu :

1. Kenali dan terima bahwa sedang kelelahan

Tanda dan gejala kelelahan ada tiga yaitu emosi, kognitif, dan perilaku. Contoh tanda dan gejala emosi adalah mudah sensitif atau marah. Contoh tanda dan gejala kognitif adalah ketika melihat pandemi ini tidak ada jalan keluar. Contoh tanda dan gejala perilaku adalah mulai bersikap acuh atau apatis terhadap protokol kesehatan. Apabila terdapat tanda-tanda tersebut kita harus mulai istirahat.

2. Istirahat

Saat kita lelah kita harus beristirahat untuk mengembalikan energi. Cara kita mengembaikan energi juga harus benar dengan makan makanan bergizi dan tidur yang cukup. Dalam kondisi kelelahan akibat pandemi ini kita berada dalam kondisi tegang sehingga di dalam diri kita akan bingung untuk memilih melawan kondisi ini atau kita ingin lari. Kondisi ini meningkatkan sumber kecemasan (stressor) sehingga kita perlu belajar teknik relaksasi. Teknik relaksasi setiap orang berbeda-beda seperti yoga ataupun aktivitas fisik untuk menyalurkan energinya. Kita perlu mengetahui teknik relaksasi apa yang tepat untuk diri agar dapat rileks.

3. Kenali dan kendalikan sumber kecemasan (stressor)

Kita harus mengetahui apakah sumber kecemasan ini dapat dikontrol atau tidak. Salah satu cara mengendalikan sumber kecemasan adalah dengan berhenti mencari berita-berita yang sifatnya hoax sehingga meningkatkan kecemasan dan stress. Melalui cara tersebut, pikiran kita akan tetap positif.

4. Tetap aktif

Cara kita melatih pikiran untuk tetap positif adalah tetap aktif. Interaksi dengan lingkungan akan belajar mengenali orang disekitar kita agar bisa melakukan komunikasi dengan tepat untuk sama-sama berupaya mengatasi pandemi covid-19.

5. Tetap praktikan protokol kesehatan

Salah satu bentuk kontrol kita terhadap pandemi adalah dengan melawan pandemi ini melalui penerapan protokol kesehatan sehingga mencegah perasaan putus asa. Kita harus selalu berpikir bahwa setiap tindakan kita akan memberikan pengaruh terhadap kondisi saat ini dan kita dapat mencegah penyebaran covid-19.

6. Pembatasan fisik bukan berarti pembatasan sosial

Untuk tetap selalu berhubungan dan menjalin komunikasi yang baik tidak hanya dilakukan melalui bertemu tatap muka secara langsung. Kita dapat melakukan interaksi secara rutin dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Interaksi bisa dilakukan melalui chat ataupun video call.

Selain langkah-langkah tersebut, jika kelelahan mulai dirasa mengganggu aktivitas sehari-hari, pola makan, tidur terganggu, memunculkan keinginan untuk melukai diri sendiri atau menyudahi hidup segera mencari pertolongan profesional melalui fasilitas kesehatan ataupun layanan konseling secara daring. Dengan mengatasi kelelahan pandemi ini secara bersama-sama diharapkan kepatuhan terhadap protokol kesehatan meningkat sehingga pandemi covid-19 ini segera teratasi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel