Waspada, di kota besar kualitas air tanah sudah hampir sama buruknya dengan air sungai

Banyak orang menganggap air tanah lebih bersih dibandingkan air sungai. Sebab, air tanah berasal dari proses peresapan air hujan dan tidak tersingkap ke permukaan.

Namun kondisi itu tidak selamanya terjadi. Saya bersama tim membandingkan kualitas air tanah dan air sungai di bantaran Sungai Cikapundung, Kota Bandung. Hasilnya, kualitas air tanah – terutama yang berada di bantaran sungai – kian mirip dengan air sungai di daerah perkotaan.

Penelitian lainnya di beberapa sungai seperti Kali Sumpil dan Kali Jilu di Malang, Jawa Timur; Sungai Cisadane di Tangerang, Jawa Barat; dan Sungai Ciliwung di Jawa Barat-DKI Jakarta juga menghasilkan temuan senada.

Temuan-temuan di atas menunjukkan bahwa upaya rehabilitasi sungai tercemar sangatlah penting. Tak hanya untuk kelestarian ekologis sungai dan daerah alirannya, upaya perbaikan juga semestinya dilakukan guna menopang kualitas akses air masyarakat – di mana mayoritas di antaranya masih bergantung pada air tanah.

Bagaimana air sungai meresap ke air tanah

Penelitian kami menemukan kadar total dissolved solids (TDS) atau zat padatan terlarut di air tanah sudah sama tingginya dengan air sungai. Karena mampu mencerminkan seberapa banyak kandungan unsur (termasuk unsur logam) di dalam air, TDS digunakan sebagai indikator tingkat pencemaran. Makin tinggi nilai TDS mengindikasikan makin tercemar airnya.

Nilai TDS pada air tanah di Sungai Cikapundung (Bandung), Sungai Ciliwung (Jakarta), dan Sungai Cisadane (Banten) bisa mendekati 1000 ppm. Bandingkan dengan kandungan TDS pada mata air yang berkisar antara 100-500 ppm (Gambar 1).