Waspada! Jangan Sepelekan Orang Tanpa Gejala Virus Corona

Jakarta - Pandemi virus Corona masih terus mengancam. Hingga kini, lebih dari 200 ribu orang telah terjangkit virus ini.

Di Indonesia, bahkan, hingga Sabtu (21/3), sudah 38 orang meninggal lantaran virus Corona. Maka itu, masyarakat pun diminta benar-benar waspada, tanpa harus panik.

Kepala Pusat Kesehatan Angkatan Darat Mayjen TNI Tugas Ratmono meminta seluruh masyarakat dapat menyadari akan bahaya penyebaran virus Corona. Ada kelompok Orang Tanpa Gejala (OTG) dan hal tersebut sangat penting menjadi perhatian bersama.

"Dalam pengendalian orang tanpa gejala sangat penting dilakukan dari seluruh komponen, supaya orang tanpa gejala tidak dianggap tenang-tenang dan diketahui dengan baik," tutur Tugas di Kantor Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta Timur, Minggu (22/3/2020).

Social Distancing Penting

Tugas menegaskan, itulah yang membuat pembatasan interaksi sosial atau sosial distancing menjadi sangat penting. Jangan lantaran merasa sehat kemudian meremehkan penularan virus tersebut.

"Artinya semua harus menganggap ini Covid-19 bahaya. Semua harus disiplin mengendalikan diri atau karantina sendiri di rumah. Kemudian sosial distancing atau jaga jarak," jelas dia.

Pembagian Kluster

Han Yi (belakang), petugas medis dari Provinsi Jiangsu, bekerja di sebuah bangsal ICU Rumah Sakit Pertama Kota Wuhan di Wuhan, 22 Februari 2020. Tenaga medis dari seluruh China telah mengerahkan upaya terbaik mereka untuk mengobati para pasien COVID-19 di rumah sakit itu. (Xinhua/Xiao Yijiu)

Dalam dunia medis, lanjut Tugas, dikenal sejumlah pembagian atau kluster pasien. Untuk kasus Covid-19, ada mulai dari orang sehat hingga Orang Tanpa Gejala yang perlu pemeriksaan untuk menentukan kesehatannya.

"Mungkin sehat, ada juga mungkin terpapar Covid-19. Kemudian setelah diketahui ada kontak dengan Covid-19, masuk dalam pemantauan. Dan saat timbul gejala, maka harus mendatangi fasilitas kesehatan dan ditentukan apakah cukup karantina pengawasan atau dirawat di rumah sakit," kata Tugas.

Pentingnya Koordinasi

Kemudian tidak kalah penting adalah koordinasi antar instansi terkait dalam upaya pengendalian Orang Tanpa Pengawasan. Tanpa adanya kerjasama, kecil kemungkinan keberhasilan upaya menekan kasus Covid-19.

"Kami TNI mendukung penuh melakukan penanganan secara cepat demi menangulangi bencana Covid-19," Tugas menandaskan.

Rapid Test

Petugas medis dari Provinsi Jiangsu bekerja di sebuah bangsal ICU Rumah Sakit Pertama Kota Wuhan di Wuhan, Provinsi Hubei, 22 Februari 2020. Tenaga medis dari seluruh China telah mengerahkan upaya terbaik mereka untuk mengobati para pasien virus corona COVID-19 di rumah sakit itu (Xinhua/Xiao Yijiu)

Pemerintah Indonesia sudah mengambil langkah-langkah khusus melawan virus ini. Sejak Jumat (20/3/2020), Pemerintah RI telah menerapkan tes COVID-19 massal dengan metode rapid test.Test ini dilakukan dengan cara menggunakan pengambilan sampel darah.

Namun begitu, rapid test massal ini bukan untuk mendiagnosis apakah seseorang positif atau tidak terkena virus corona COVID-19. Tidak semua orang akan diperiksa. Namun, hanya mereka yang beresiko.

Tes massal ini baru tahap skrining, bukan untuk deteksi atau diagnosis pasti orang yang bersangkutan positif atau tidak kena COVID-19.

Datangkan Obat

Kabar baik lainnya, Pemerintah juga mendatangkan obat Avigan dan Chloroquine untuk menangani pengobatan virus corona. Hal ini diumumkan Presiden Jokowi di Istana Negara, Jumat (20/3/2020).

Menurut Jokowi, pemerintah telah memesan dua juta obat flu Avigan, yang diantaranya sebanyak 5.000 telah didatangkan. Sedangkan, obat Choloroquine juga telah disiapkan sebanyak tiga juta.

Avigan dan Chloroquine telah diuji dan diklaim dapat memberi kesembuhan bagi penderita Covid-19 oleh negara lain.

 

Sumber: Liputan6.com

Disadur dari: Liputan6.com (Nanda Perdana Putra/Yusron Fahmi/Fitri Haryanti Harsono/Dyah Puspita, published 22/3/2020)

Saksikan Video Virus Corona Covid-19 di Bawah Ini