Waspada, Naiknya Harga Pangan dan Energi Bisa Picu Krisis Kesehatan Global

Merdeka.com - Merdeka.com - Meningkatnya kekurangan pangan dikhawatirkan dapat memberi ancaman kesehatan yang sama bagi dunia seperti pandemi Covid-19.

Direktur Eksekutif Dana Global untuk Memerangi AIDS, Tuberkulosis dan Malaria, Peter Sands mengatakan, naiknya harga pangan dan energi, sebagian dipicu oleh perang di Ukraina, dapat membunuh jutaan orang baik secara langsung maupun tidak langsung.

"Kekurangan pangan terjadi dalam dua cara. Pertama, Anda memiliki tragedi orang yang benar-benar mati kelaparan. Tetapi kedua adalah Anda memiliki fakta bahwa seringkali lebih banyak orang yang kekurangan gizi, dan itu membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit yang ada," kata dia ditulis reuters dikutip Antara, Rabu (8/6).

Dia mengatakan, upaya untuk meningkatkan kesiapsiagaan pandemi seharusnya tidak membuat kesalahan klasik dengan hanya memikirkan krisis yang menyerupai ancaman terbaru yang dihadapi dunia.

"Ini tidak terdefinisi dengan baik seperti beberapa patogen baru yang muncul dengan gejala baru yang khas. Tapi itu bisa sama mematikannya," katanya.

15 Juta Orang Meninggal Akibat Covid-19

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa 15 juta orang mungkin telah meninggal akibat Covid-19.

Sands mengatakan, investasi diperlukan untuk memperkuat sistem kesehatan guna membantu mempersiapkan dampak kekurangan pangan, yang merupakan bagian dari tanggung jawab Dana Global.

Dana yang berbasis di Jenewa, Swiss bertujuan untuk mengumpulkan USD 18 miliar untuk meningkatkan sistem kesehatan, memerangi tiga penyakit inti, dan membalikkan kemunduran yang disebabkan oleh pandemi. Ini telah meningkatkan lebih dari sepertiga dari targetnya untuk 2024-2026. [idr]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel