'Waspada Penyebaran Narasi Radikal Terorisme Berstigma Agama'

Merdeka.com - Merdeka.com - Masyarakat harus mewaspadai narasi yang menyebutkan bahwa radikal terorisme merupakan stigmatisasi agama. Radikalisme dan terorisme bukan stigmatisasi agama, melainkan musuh agama dan musuh negara.

"Harus dipahami bahwa radikalisme terorisme ini bukan klaim perlawanan terhadap umat Islam, bukan. Dibilang islamofobia juga bukan," kata Direktur Amir Mahmud Center, Amir Mahmud dalam keterangan diterima di Jakarta, dikutip Sabtu (5/11).

Hasil riset menurut Amir, radikalisme sengaja dibangkitkan kembali oleh kelompok radikal mengatasnamakan Islam. Sehingga dia berpandangan aksi teror dikaitkan dengan stigma terhadap Islam tidak mendasar.

"Ini dimainkan oleh kelompok-kelompok yang senantiasa ingin merusak tatanan nilai kehidupan bangsa dan bernegara," ujar dia.

Dia menambahkan, kelompok teror tersebut selalu menjadikan perlawanan pemahaman ideologi mereka dengan Pancasila sebagai ideologi atau dasar negara Indonesia. Dia melihat menjelang tahun politik 2024 sudah ada gejala dari kelompok radikal tersebut unjuk kekuatan.

Hal itu dilakukan dengan langkah-langkah seperti pengajian tablig dengan menggerakkan kelompok-kelompok atau komponen masyarakat yang tidak mengerti.

Amir mengungkapkan bahwa mereka menggunakan dalih olahraga dan dalih ukhuwah islamiah. Adapun simbol-simbol yang dimainkan adalah simbol-simbol kekerasan seperti bendera bersimbol pedang dan sebagainya.

Menurut Amir, jika hal itu dibiarkan akan menjadi permasalahan bagi anak-anak muda serta kalangan yang lain.

Di sisi lain, kata dia, masih banyak komponen masyarakat yang tidak tahu dan tidak sadar mengenai bahaya, dampak, atau dahsyatnya paham radikal dan terorisme yang mengatasnamakan Islam ini jika membiarkan berkembang.

"Sebenarnya persoalan radikalisme dan terorisme adalah persoalan lama," ujar Amir, yang merupakan alumnus Akademi Militer (Akmil) Mujahidin Afghanistan.

Untuk itu, Amir meminta masyarakat agar benar-benar memahami bahwa penanganan radikalisme dan terorisme bukanlah stigmatisasi agama, melainkan menyelamatkan agama dari fitnah kelompok teror.

"Radikalisme dan terorisme adalah musuh negara dan juga musuh agama," tandasnya. [gil]