Waspadai, 4 Perubahan Kulit Disebabkan COVID-19

Donny Adhiyasa
·Bacaan 3 menit

VIVA – Tiga gejala paling umum dari virus corona telah kita pahami bersama sejak awal pandemi seperti demam, batuk kering dan kehilangan indra perasa juga penciuman. Namun, salah satu gejala virus corona yang belum banyak menarik perhatian publik adalah berbagai jenis ruam yang bisa muncul di seluruh tubuh.

Meskipun hal itu lebih jarang terjadi, penting bagi Anda untuk mengetahui bagaimana COVID-19 dapat memengaruhi kulit sehingga dapat mengidentifikasi potensi terjadinya infeksi sedini mungkin.

Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa untuk 17% pasien COVID-19 dengan lebih dari satu gejala, ruam kulit adalah gejala pertama yang muncul.

Berikut 4 jenis utama ruam kulit yang terjadi saat terinfeksi virus corona tercantum di bawah ini, dengan alasan mengapa hal tersebut dapat terjadi:

1. Lesi seperti chilblain "jari kaki COVID".
Satu sampai dua minggu pertama kali muncul, lesi akan menjadi lebih berubah warna tetapi berkurang pada pembengkakan, jenis lepuh merah dan bengkak ini lebih sering ditemukan di kalangan remaja dan dewasa muda tanpa atau hanya gejala ringan COVID-19.

Itu adalah masalah kulit paling umum yang terkait dengan virus. Penting untuk dicatat bahwa belum ada bukti medis konkret antara lesi kulit dengan COVID-19, lesi seperti chilblain juga dapat muncul sebagai akibat dari sejumlah penyakit lain.

Sebuah penelitian yang menganalisis 26 pasien dengan dugaan perubahan kulit terkait COVID menemukan bahwa 73% dari mereka yang berpartisipasi menunjukkan lesi seperti chilblain. Anehnya, tidak ada pasien yang memiliki gejala pernapasan dan semuanya dinyatakan negatif COVID pada awal ketika lesi mereka muncul.

Satu teori menunjukkan bahwa lesi dipicu oleh sel darah yang rusak yang disebabkan oleh respons sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi virus atau beberapa gumpalan darah mini di jari kaki.

2. Ruam makulopapular
Jenis ruam ini memicu area kulit yang berubah warna dan rata. Sebuah penelitian di Spanyol terhadap 375 pasien dengan perubahan kulit terkait COVID menemukan bahwa 47% menunjukkan jenis ruam ini.

Ruam ini dikaitkan dengan gejala COVID-19 yang lebih parah, kebanyakan ditemukan pada pasien yang masih sangat muda hingga lanjut usia.

Biasanya berlangsung 7-18 hari, muncul 20-36 hari setelah infeksi. Sama seperti lesi seperti chilblain, ruam makulopapular dapat dipicu oleh sistem kekebalan tubuh yang berjuang keras melawan infeksi.

Dalam beberapa kasus, fase hiperinflamasi dimulai 7-10 hari setelah infeksi, yang pada gilirannya menyebabkan kerusakan jaringan dan dalam skenario kasus terburuk penyakit dan kematian yang lebih parah.

3. Gatal-gatal
Jika terkait dengan COVID-19, gatal-gatal biasanya mendahului atau hadir bersamaan dengan gejala lain, menjadi lebih gampang untuk ketahui sebagai gejala virus corona.

Ruam ruam muncul setelah infeksi karena menyebabkan kerusakan sel yang kemudian memicu pelepasan histamin melalui sistem kekebalan. Obat yang digunakan untuk mengobati COVID-19 juga dapat menyebabkan biduran, seperti kortikosteroid dan remdesevir.

4. Lesi Vesikuler
Mirip cacar air, lesi vesikuler adalah kantung berisi cairan bening yang terbentuk di bawah kulit. Sehubungan dengan virus corona, lesi vesikuler adalah ruam kulit yang paling jarang dari yang terdaftar, dengan penelitian di Spanyol yang disebutkan sebelumnya menunjukkan bahwa hanya 9% pasien yang terinfeksi COVID yang menunjukkan lesi ini.

Sering muncul pada pasien dengan penyakit ringan sekitar 14 hari setelah infeksi awal dan dipicu oleh periode peradangan yang lama, dengan antibodi menyerang kulit dan merusak lapisannya, mengakibatkan kantung berisi cairan.
Laporan: Aufa Prasya Namyra