Waspadai 5 Tanda Relasimu dengan Partner Itu Toxic

Syahdan Nurdin, bonisindyarta-346
·Bacaan 4 menit

VIVA – Tak diragukan lagi, perasaan kita dapat mengaburkan kemampuan kita untuk berpikir jernih. Saat kita sedang terlibat asmara dengan seseorang, kita cenderung mengidolakan dia dan menganggapnya sempurna.

Kita abai pada tanda-tanda yang kentara bahwa dia bukan partner yang cocok untuk kita. Sampai akhirnya, relasi kalian makin memburuk dan kamu pun bertanya pada diri sendiri. "Apa relasiku dengan dia itu sehat?" Memang tidak mudah untuk menetapkan batasan mana relasi yang sehat atau tidak.

Hal menarik yang patut dicatat adalah, kita punya tendensi untuk terlibat dalam relasi yang toxic, di mana ini berakar pada masa kecil kita. Kita cenderung mencari jenis koneksi yang sama dengan saat kita masih kecil.

Jadi jika relasimu sekarang ini tidak sehat, kemungkinan kamu sedang membawa dan mengulang pola relasi serupa hingga masa dewasa.

“Tendensi untuk tanpa sadar mencari relasi yang toxic kerap berawal pada pengalaman-pengalaman masa lalu yang negatif semasa kecil, yang mungkin kita bawa sepanjang hidup kita,” kata Rosemary K. M. Sword, seorang terapis dan konselor.

“Orang-orang toxic dalam hidup kita, biasanya terfokus pada diri mereka sendiri dan kebutuhan-kebutuhan mereka. Relasi ini biasanya bersifat kodependen”.

Berikut ini adalah tanda-tanda kamu terlibat dalam relasi yang toxic dan tidak sehat dengan partnermu:

Satu: partermu memunculkan sifat terburuk dalam dirimu

Saat kamu ada dalam relasi yang stabil dan sehat, kamu cenderung jadi lebih bahagia dan energi positif ini biasanya meluap keluar pada aspek-aspek lain hidupmu, seperti: karir, relasi pertemanan, dan yang terpenting, relasimu dengan diri sendiri.

Dr. Kristin David, Psy.D., menjelaskan bahwa saat kamu terlibat dalam relasi toxic, “kamu tidak merasa leluasa untuk mengungkapkan pikiran dan perasaanmu. Kamu merasa harus mengenakan wajah yang lain agar dapat diterima oleh partnermu.”

Saat kamu tidak bisa menjadi dirimu yang autentik, ini dapat membuatmu lelah secara emosional. Relasi yang sehat semestinya dapat membuatmu mengalami kepuasan batin,” kata David. “Bahkan, ada kasus dimana teman-temanmu merasa kamu tidak bisa menjadi dirimu sendiri lagi seperti dulu.”

Dua: kamu selalu terlibat dalam adu kekuatan

Saat kalian berdebat, apa kamu merasa dia selalu fokus untuk ingin menang dan bukannya mau memecahkan konflik? Bukannya menunjukkan empati dan belas kasih, apa dia ingin selalu pegang kendali?

Relasi yang seimbang dapat dianalogikan sebagai permainan jungkat-jungkit, kata Suzanne Lachmann, Psy.D.

“Saat kedua partner mengerti kekuatan mereka, atau merasa saling diberdayakan, maka jungkat-jungkit ini relatif seimbang dan setara, jelas Lachmann. “Tapi jika satu pihak membuat pihak lain merasa tak berdaya, maka pihak lain itu berusaha mengkompensir dengan menginjak tanah kuat-kuat, untuk menaikkan posisinya sehingga membuat pihak yang di atas kehilangan keseimbangan.

Tiga: kalian punya gaya berkomunikasi yang bertolak belakang

Saat kalian terlibat adu argumen, apa kamu cenderung pergi menjauh dan bukannya menyelesaikannya. Partner yang toxic biasanya bersikap mengabaikan dan bukannya mendiskusikannya.

Jika kamu tergolong tipe pasif dan lebih memilih mengolah emosimu sendirian. Namun partnermu lebih tipe asertif dan lebih senang membereskan segera dan langsung, akan lebih sulit untuk memelihara relasi yang sehat. Sering terjadi, sikap asertif berubah jadi agresif sehingga melukai pihak lain.

“Berusaha melukai pihak lain biasanya bukan cara yang baik untuk memecahkan konflik atau mengomunikasikan perasaan yang terluka,” kata Keri Nola, seorang psikoterapis. “Konflik biasanya jadi memanas ketika kata-kata kasar menyalahkan dan menyakiti dilontarkan. Ini semakin menyulitkan intimitas dan koneksi dalam relasi,” paparnya lebih lanjut.

Empat: partnermu sering bersikap irasional dan menunjukkan rasa cemburu

Kita kadang menyalahartikan rasa cemburu sebagai tanda sayang dan peduli, namun ini biasanya lebih merupakan kedok dari sifat posesif dan ingin menguasai. Ini juga untuk menutupi rasa tidak percaya yang menyulitkan relasi yang sehat.

Rasa cemburu sebenarnya adalah cara untuk mengungkapkan, “Kamu harus membuktikan bahwa kamu tidak akan melukaiku. Maka, aku akan mengawasimu lekat-lekat.” Namun dengarlah apa yang dikatakan oleh salah seorang konselor dari eharmony expert, “Kamu bebas untuk menjadi dirimu sendiri. Aku akan tetap percaya padamu, sampai kamu memberiku alasan untuk sebaliknya.”

Lima: kamu merasa negatif tentang dirimu sendiri saat kamu sedang di dekat partnermu

Relasi yang sehat dan saling mengasihi biasanya sarat dengan dukungan, bukan kritik dan celaan. Salah satu bentuk celaan yang paling umum adalah partnermu mengejekmu tanpa perasaan.

Jeffrey Bernstein, Ph.D. mengatakan, “Saat orang yang kamu kasihi, atau pernah kamu kasihi, membombardirmu dengan kata-kata bernada menyalahkan sangatlah tidak sehat secara emosional.”
Saat kamu merasa selalu gelisah dan takut berbuat salah di dekat partnermu, maka ini menunjukkan bahwa relasi kalian disfungsi.

Maka, perlu untuk bersikap obyektif dan jujur tentang relasimu dengan partnermu. Jika relasi ini tak membuatmu berkembang menjadi the best version of yourself, maka pertimbangkan baik-baik untuk mengakhirinya.