Waspadai Pandemic Fatigue, Berpotensi Gagalkan Penanggulangan Covid-19

·Bacaan 2 menit
Tim medis yang membawa pasien COVID-19 tiba di RSD Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Selasa (17/11/2020). Koordinator RSD Wisma Atlet Mayjen TNI Tugas Ratmono mengatakan jumlah pasien COVID-19 di Tower 6 dan 7 saat ini mencapai 53,8 persen dari kapasitas. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
Tim medis yang membawa pasien COVID-19 tiba di RSD Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Selasa (17/11/2020). Koordinator RSD Wisma Atlet Mayjen TNI Tugas Ratmono mengatakan jumlah pasien COVID-19 di Tower 6 dan 7 saat ini mencapai 53,8 persen dari kapasitas. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta Hingga kini, Pandemi Covid-19 belum berakhir. Hampir 8 bulan virus corona menyebar di Indonesia, sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret 2020. Kasus-kasus baru juga masih menunjukkan peningkatan. Penyebaran Covid-19 belum bisa dikendalikan, meski sejumlah upaya pencegahan virus sudah dilakukan.

Kini faktor yang mempersulit pengendalian pandemi di luar PSBB dan penanganan medis adalah kelelahan karena pandemi atau "pandemic fatigue" diantara masyarakat.

Pandemic fatigue merupakan kondisi kelelahan secara fisik dan mental yang dialami seseorang karena ia sudah bosan dengan situasi pandemi.

Mengutip laman WHO, pandemic fatigue disebabkan munculnya demotivasi untuk mengikuti berbagai langkah perlindungan diri yang dianjurkan.

Pandemic fatigue dilaporkan muncul di berbagai negara seiring dengan adanya peningkatan jumlah orang yang mulai tidak mengikuti protokol kesehatan di era New Normal.

Orang-orang juga mulai mengurangi langkah-langkah melidungi diri serta berkurangnya kekhawatiran mereka terhadap bahaya virus Corona. Dengan adanya kelelahan karena pandemi ini, orang-orang mulai mengabaikan cuci tangan dengan sabun secara tepat, memakai masker, serta menjaga jarak fisik yang sebelumnya mereka patuhi.

Penyebab munculnya Pandemic Fatigue

Profesor Departemen Ilmu Psikiatri dan Perilaku Universitas California, Elissa Epel, mengatakan, munculnya pandemic fatigue adalah respon yang normal.

"Itu adalah respons normal terhadap apa yang terjadi," ungkapnya.

Epel menyebutkan, ada beberapa hal yang menyebabkan munculnya pandemic fatigue. Misalnya, karena dampak pandemi yang menyebabkan orang yang bersangkutan kehilangan pekerjaan atau mereka yang mengalami tekanan finansial.

Kelelahan karena pandemi juga dapat terjadi saat orang bosan mengikuti langkah-langkah pencegahan pandemi dan cenderung tidak mengikuti protokol kesehatan.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, dia memahami kesulitan yang dihadapi orang-orang. Ia pun menekankan, setiap orang harus tetap waspada, apalagi di beberapa negara yang dulunya membaik kini kasusnya meningkat lagi.

“Bekerja dari rumah, anak-anak disekolahkan dari jarak jauh, tidak dapat merayakan momen spesial bersama teman dan keluarga. Atau tidak berada di sana untuk bersama orang yang dicintai, itu sulit. Dan, kelelahan akibat Covid-19, itu nyata,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

WHO meminta orang-orang tidak menyerah di masa pandemi covid-19

Pandemic fatigue dapat dialami oleh siapa pun dan ciri-ciri tiap orang yang mengalaminya pun berbeda. Namun beberapa ciri yang sering muncul di antaranya ialah perasaan gelisah, mudah tersinggung, kurang motivasi dan sulit berkonsentrasi.

WHO pun meminta orang-orang tidak menyerah. Tedros menyebutkan, kelelahan karena pandemi pada dasarnya dirasakan banyak orang.

“Seiring waktu berlalu dan dunia telah belajar untuk hidup dengan virus dalam kapasitas tertentu, para ahli percaya bahwa menjaga tindakan pencegahan seperti menjaga jarak secara fisik, menutupi dan mencuci tangan dapat terasa semakin menjadi tantangan,” ujar Tedros.

Ia mengingatkan agar setiap orang mencari caranya masing-masing untuk mengatasi kelelahan ini dan terus waspada terhadap penyebaran virus Corona Covid-19.