Waspadai Penyebaran Misinformasi pada Mesin Pencari

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Mesin pencari atau search engine seperti Google, Bing, dan Baidu merupakan salah satu hal yang sangat familiar di era internet. Mesin pencari ini juga merupakan salah satu gerbang bagi orang untuk menelusuri suatu informasi atau berita.

Tapi, siapa yang menyangka bahwa mesin pencari juga dapat menjadi salah satu saluran bagi misinformasi atau informasi yang salah.

Mengutip dari theconversation.com, mesin pencari memiliki algoritma yang mirip dengan media sosial. Mesin pencari juga dapat bermasalah.

Mesin pencari akan mempelajari apa yang telah orang klik sebelumnya, dan menampilkan yang orang tersebut tertarik. Karena pada dasarnya orang akan tertarik pada sensasi, penggabungan antara algoritma ini dan sifat manusia-lah yang dapat mendorong penyebaran informasi yang salah.

Perusahaan mesin pencari menghasilkan uang tidak hanya dari menjual iklan, tetapi juga melalui pelacakan pengguna dan menjual data. Orang yang diarahkan ke informasi yang salah karena keinginannya.

Berdasarkan pelacakan yang dilakukan oleh mesin pencari dan menampilkan berita yang menghibur dan sensasional. Secara sederhana ini dimaksudkan untuk memberikan informasi yang relevan, akan tetapi relevansi tersebut mulai menghilang setelah orang menggunakan pencarian untuk menemukan hasil yang menghibur dari informasi yang relevan.

Temukan Informasi yang salah

Ilustrasi Internet | unsplash.com/@olegmagni
Ilustrasi Internet | unsplash.com/@olegmagni

Untuk menguji seberapa baik orang dalam membedakan informasi yang akurat dan salah, Chirag Shah, Professor of Information Science, University of Washington melakukan penelitian dengan mengandalkan permainan sederhana yang dilakukan 2.100 responden dari lebih dari 30 negara. Permainan ini hanya melakukan penempatan kategori dapat diandalkan, dapat dipercaya, atau paling relevan.

Hasil dari penelitian ini adalah sebagian orang secara keliru memilih informasi yang salah ke dalam kategori ‘dapat dipercaya’. Dapat diartikan bahwa sebagian orang mengambil hasil berisi teori konspirasi dan berita palsu. Karena semakin banyak orang yang memilih hasil yang tidak akurat ini, mesin pencarian akan menghadirkan hal serupa karena itulah yang diinginkan orang tersebut.

Dengan kesimpulan tersebut, yang dapat dilakukan kembali ke masing-masing individu dalam menyortir informasi yang akan dikonsumsi atau dibagikan. Karena pada dasarnya mesin pencarian akan melakukan hal serupa berdasarkan yang dilakukan oleh penggunanya.

Sumber:

https://theconversation.com/its-not-just-a-social-media-problem-how-search-engines-spread-misinformation-152155

(MG/Jihan Fairuz)

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia.

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu.

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silakan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Saksikan Video Cek Fakta di Bawah Ini