Waspadai stadium preshock pada anak penderita DBD

Dokter spesialis anak dr. Nita Dewanti Sp.A mengatakan perlu mewaspadai tanda fase preshock pada anak penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) yang menjadi awal masuknya stadium lanjut DBD.

"Stadium preshock atau menuju shock di mana pada stadion ini anak-anak penderita DBD akan mengalami penurunan tekanan darah, anaknya semakin lemas atau bahkan bisa terjadi shock," ucapnya dalam keterangan yang diterima ANTARA di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan fase preshock merupakan tanda anak memasuki stadium ketiga penyakit DBD yang disebabkan nyamuk aedes aegypti ini. Pada kondisi ini, tekanan darah anak akan melemah, dan denyut jantung juga akan lebih cepat yang disebut dengan takikardi.

Jika anak masuk pada fase ini, pemberian cairan harus tercukupi baik dari pemberian minum maupun infus agar tidak terjadi stadium 4 yaitu staduim shock.


Baca juga: Ahli: Demam berdarah dengue terus meningkat saat COVID-19 terkendali

Baca juga: RSCM: Potensi kasus DBD perlu diperhatikan sejak musim panas


"Jika sudah memasuki stadium shock harus dipantau ketat karena biasanya sudah masuk ICU dan harus dipantau ketat, cairan juga harus tepat tidak boleh berlebih tidak boleh kurang," ucapnya.

Nita mengatakan demam berdarah Dengue terdiri dari empat stadium. Diawali dengan stadium pertama yaitu gejalanya yang tidak begitu berat seperti penyakit virus lainnya atau hanya demam saja.

Namun jika berlanjut ke stadium kedua, akan muncul bintik merah sebagai tanda perdarahan di kulit.

"Bintik merah itu salah satu perdarahan di kulit, anak juga bisa mimisan dan yang paling ditakutkan adalah jika anak ada perdarahan di saluran pencernaan atau perdarahan di otak," ucap Nita.

Selain DBD, penyakit yang juga sering mengintai anak adalah campak yang disebabkan karena virus golongan paramyxovirus.

Virus ini biasanya akan menyebabkan gejala seperti demam dan lemas pada anak, lalu pada hari ketiga biasanya akan timbul ruam-ruam merah di kulit seperti bintik-bintik kecil yang disebut rash morbilliform.

Pada campak biasanya juga disertai dengan seperti pilek dan batuk. Bahkan kondisi yang lebih berat bisa menjadi bronkopneumonia atau peradangan paru-paru.

"Campak bisa terjadi sepanjang tahun dan campak ini sifatnya sangat menular jadi sangat mudah sekali anak-anak tertular dari temannya, kakak atau adiknya bisa," ucapnya


Baca juga: Kemenkes paparkan mitigasi preventif atasi dengue di Indonesia

Baca juga: RSCM sebut penyakit DBD miliki spektrum perjalanan yang unik