Wawali Bandung Sebut Tak Ada Klaster Covid-19 Sekolah saat PTM Terbatas

·Bacaan 2 menit
Sekda Kota Bandung Ema Sumarna meninjau simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) di SD Santo Yusup 2, Kota Bandung, Senin (7/6/2021). (Liputan6.com/Huyogo Simbolon)

Liputan6.com, Bandung - Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana menyebut tidak ada klaster penularan Covid-19 yang terjadi pada saat pembelajaran tatap muka (PTM) berlangsung secara terbatas di sekolah. Guna mengantisipasi adanya klaster di sektor pendidikan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memperketat verifikasi dan validasi sekolah.

"Karena memang prosesnya agar sekolah itu melaksanakan PTMT cukup ketat. Kita atur verifikasi validasi cukup banyak. Sekolah yang lolos gelombang pertama itu sekitar 300-an," ujarnya di Bandung, Jumat (24/9/2021).

Yana melanjutkan, pada gelombang berikutnya semakin banyak sekolah yang mengajukan PTM terbatas. Saat verifikasi dan validasi, ada sekitar 1.600 yang lolos dan dapat menggelar PTM terbatas.

"Waktu itu kita tegaskan, kalau ada satu yang melanggar SOP, protokol kesehatan, sekolah itu kita tutup lagi," katanya.

Menurut Yana, pengawasan bisa dilakukan bersama-sama dari tingkatan yang ada di sekolah hingga Dinas Pendidikan. Pihak sekolah dan siswa harus sama-sama menjaga protokol kesehatan.

"Karena rata-rata siswanya yang senang ingin sekolah. Mudah-mudahan siswanya menjaganya dengan benar. Kemudian orang tua ikut jaga juga," ucapnya.

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Vaksinasi Covid-19

Selain itu, Yana mengungkapkan vaksinasi Covid-19 untuk para peserta didik juga menjadi salah satu faktor untuk mengantisipasi terjadinya klaster dan syarat digelarnya PTM terbatas. Beberapa hari ini di melihat cukup banyak yang fokus di usia 12-17 tahun. Dari sekitar 238.000an orang, baru sekitar 30-40 persen yang sudah divaksin.

"Kemarin vaksin untuk usia 12-17 tahun kita sempat terhambat karena harus Sinovac. Alhamdulillah kita sudah dapat 600.000 dosis. Ini kita akan percepatan," katanya.

Salah satu percepatannya, yakni dengan vaksinasi massal di sekolah. Lokusnya sudah tidak melihat domisili peserta didik yang ada di sekolah tersebut.

"Kita tidak melihat lagi anak ini warga Kota Bandung atau bukan, karena dia berkegiatan di sekolah itu. Vaksinnya harus di sekolah itu. Supaya herd immunity-nya satu sekolah itu," ujar Yana.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel