Wawancara dengan Anas Urbaningrum Berakhir Ricuh

TRIBUNNEWS.COM, SOREANG -  Sesi wawancara antara wartawan dengan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum nyaris berakhir ricuh. Anas sebenarnya terlihat senang dan siap meladeni pertanyaan wartawan. Namun sikap over acting yang ditunjukkan Satgas Partai Demokrat membuat sesi wawancara menjadi ricuh.

Awalnya rombongan Anas tiba di Sentra Bisnis UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) Warung Lobak di Soreang, Kabupaten Bandung, Sabtu (20/8/2011) sekitar pukul 14.30 WIB.
Anas hadir bersama sejumlah petinggi Partai Demokrat, termasuk Ketua DPD Partai Demokrat Jabar Iwan Sulanjana. Begitu turun dari mobil, Anas langsung dikelilingi satgas Partai Demokrat.

Anas didampingi sejumlah pejabat teras partai pelat merah itu kemudian meninjau sejumlah kerajinan yang terdapat di kios-kios sentra bisnis tersebut. Usai melakukan peninjauan, Anas kemudian diwawancarai sejumlah wartawan tentang kasus yang menimpa Nazaruddin.

Ketika wartawan menyodorkan perangkat wawancara, tiba-tiba satgas Partai Demokrat menghalanginya. Namun dengan santai Anas meminta satgas agar membiarkan wartawan melakukan wawancara. Sambil tersenyum mantan Ketua Umum PB HMI ini kemudian menjawab singkat tentang kasus Nazaruddin.

"Kasus itu sedang diproses di KPK. Tentu KPK memiliki standar dalam mengusut kasus itu. Jadi kita hormati saja proses hukum di KPK," kata Anas.

Begitu wartawan hendak mewawancarainya kembali, belasan satgas itu langsung menghalangi dan mendorong wartawan untuk menjauh. Nyaris terjadi baku pukul pada peristiwa itu. Terlebih setelah kamera salah seorang wartawan televisi ditepis oleh seorang satgas saat hendak mengambil gambar.

Sesi wawancara pun praktis hanya berlangsung satu menit. Para wartawan memilih meninggalkan tempat acara. Padahal, sedianya Anas hendak berdialog dengan para pelaku UMKM di sebuah ruangan di Sentra UMKM Warung Lobak.

"Kami datang kesini itu diundang secara resmi oleh Partai Demokrat. Seharusnya mereka bisa mengakomodir media untuk melakukan wawancara. Bukannya justru mendorong-dorong kami. Bung Anas saja mau kok diwawancarai. Mengapa satgas nya justru menghalang-halangi," kata Saufat Endrawan, wartawan RCTI.

Menurut Saufat,  kasus pelarangan wawancara dengan Ketua Umum DPP Partai Demokrat justru semakin mencoreng citra partai itu sendiri. Padahal, kata Saufat, Partai Demokrat sekarang ini sedang terpuruk karena disangkutpautkan dengan kasus korupsi yang menjerat Nazaruddin, mantan Bendahara partai tersebut.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.