Wawancara Dirut Brantas Abipraya Bambang E Marsono: 2021 Masih Terpengaruh Pandemi, Namun Kami Sudah Antisipasi

·Bacaan 10 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi Covid-19 merusak tatanan ekonomi Indonesia. Termasuk juga kinerja dari perusahaan. PT Brantas Abipraya (Persero) pun juga terdampak.

Banyak proyek-proyek pembangunan infrastruktur yang sudah direncanakan dan bahkan disepakati untuk bisa berjalan di 2020 harus ditunda dahulu. Perusahaan harus mengencangkan ikat pinggang karena terdampak pandemi Covid-19.

Namun Brantas Abipraya tak menyerah, manajemen berusaha untuk bertahan di tengah pandemi. Banyak perusahaan lain terpaksa gulung tikar, tetapi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berusaha tetap eksis dengan memilih strategi efisiensi.

Strategi tersebut berhasil. Brantas Abipraya mampu bertahan dan bahkan masih membukukan kinerja positif. Oleh karena itu di 2021 perusahaan akan mulai tancap gas. Seperti apa cerita perusahaan di 2020 dan rencana 201, berikut cuplikan wawancara khusus Liputan6.com dengan Direktur Utama Brantas Abipraya Bambang E Marsono:

Anda menjabat Dirut Brantas Abipraya sejak 2011, apa pencapaian selama 10 tahun ini?

Bulan Juli nanti genap 10 tahun saya menjabat Dirut di Abipraya. Tentu saja banyak pasang surut yang kami alami. Tapi Alhamdulillah selama 10 tahun terakhir secara overall hasil usaha kami grafiknya menanjak cukup tajam.

Strategi yang kami lakukan secara konsisten adalah : Penetrasi Pasar, Penetrasi Produk, dan Diversifikasi. Diversifikasi pun terbatas pada bidang-bidang yang sesuai dengan core competences kami.

Kalau dulu mungkin Anda lihat Brantas Abipraya hanya mengerjakan proyek-proyek sumber daya air. Sekarang kami sudah mengerjakan berbagai jenis proyek mulai dari gedung, jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, air minum dan sebagainya. Itu hasil daripada Penetrasi produk yang kami lakukan.

Sedangkan Penetrasi Pasar menghasilkan perolehan proyek dari Owner yang lebih bervariasi. Kalau dulu kami hanya mendapatkan proyek-proyek dari Kementerian PUPR, dulu biasa disebut Departemen Pekerjaan Umum, sekarang kami sudah merambah ke kementerian lainnya, Pemda, BUMN, bahkan Perusahaan Swasta.

Kami juga melakukan diversifikasi yang terkait dengan bisnis inti kami. Tidak hanya diversifikasi dalam bidang jasa konstruksi, tapi kami juga sudah melangkah menjadi investor untuk beberapa bisnis yang lain. Seperti jalan tol, properti, dan pengadaan daya listrik atau PLTM-PLTM, khususnya powerplant yang terkait dengan energi baru terbarukan.

Kebetulan kami baru meluncurkan buku yang berjudul Menembus Batas Menjemput Impian: Brantas Abipraya Menuju The Living Company. Buku ini tidak hanya memuat cerita tentang sejarah Abipraya, tapi juga berisi tentang manajemen strategi yang kami lakukan untuk mengembangkan usaha selama 40 tahun Abipraya, terutama fokus kepada 10 tahun terakhir.

Banyak perusahaan terganggu pandemi Covid-19, Bagaimana dengan Brantas Abipraya?

Seperti halnya perusahaan yang lain, tentu saja dengan adanya pandemi, bisnis kami sangat-sangat terganggu. Hampir semua bisnis terganggu, ada yang sampai gangguannya begitu parah, sehingga harus mem PHK karyawan, atau bahkan menutup usahanya sama sekali. Untuk Abipraya secara umum gangguan yang terjadi dapat kami kelompokkan menjadi 2 jenis yaitu gangguan eksternal dan internal.

Secara eksternal gangguan yang terjadi adalah menurunnya jumlah proyek yang bisa kami peroleh, baik proyek Pemerintah, BUMN, maupun Swasta. Proyek-proyek yang kontraknya sudah ditanda tangani pun banyak yang pelaksanaannya ditunda, atau bahkan dibatalkan. Secara internal operasional kami juga terganggu.

Kecepatan pelaksanaan proyek berkurang jauh karena kami harus membatasi jumlah tenaga kerja dan jam kerja, sesuai dengan Prosedur Kesehatan dalam rangka Penanggulangan Covid 19. Pengadaan beberapa material proyek, terutama barang-barang impor juga sangat terhambat. Kalaupun tersedia barang, harganya akan mengalami kenaikan cukup signifikan.

Untuk proyek-proyek BUMN, kondisinya tidak jauh berbeda, mereka sangat menderita juga. Seperti misalnya BUMN yang terkait dengan bisnis angkutan, baik udara, laut maupun darat, boleh dikatakan pelanggannya turun drastis, sehingga proyek-proyek mereka semua ditunda atau dibatalkan. Itu tentunya berpengaruh untuk market kami.

Juga untuk sektor pemerintah, walaupun pemerintah mendorong pembangunan infrastruktur, namun demikian anggarannya sangat terbatas karena sebagian anggaran dipakai untuk penanggulangan Covid-19. Sehingga anggaran yang sudah dialokasikan ada beberapa yang mengalami reposisi, dialihkan untuk penanggulangan Covid-19.

Oleh karenanya secara eksternal tentu pasar kami menurun, proyek-proyek baru menurun, proyek-proyek lama juga banyak yang tertunda sehingga sales kami jauh menurun. Kemudian dari sisi internal, pelaksanaan proyek kami harus taat kepada protokol kesehatan. Jadi jumlah pekerja harus dikurangi, prosedur di proyek juga harus dipenuhi. Semua itu pengaruhnya tentu saja kepada produktivitas jauh menurun. Kemudian biaya pelaksanaan proyek jadi membengkak.

Belum lagi ditambah biaya untuk kesehatan, untuk penanggulangan Covid-19, biaya untuk obat-obatan dan sebagainya. (Hand) sanitizer, masker dan lain-lain tentu menambah biaya produksi.

Pada awal pandemi kami menyusun beberapa skenario. Ada skenario bila pandemi ini berlangsung selama 3 bulan, 6 bulan seperti apa, 9 bulan seperti apa, 12 bulan seperti apa. Dan kenyataannya pandeminya ini lebih dari 12 bulan.

Tapi Alhamdulillah, 2020 dapat kami lalui dengan baik, semuanya selamat. Abipraya masih bisa mencetak laba. Walaupun targetnya kami revisi, jadi sekitar bulan Juni sebelum berakhirnya semester I (2020), Kementerian BUMN sudah menyadari bahwa pandemi ini dampaknya luar biasa, sehingga BUMN-BUMN diberi kesempatan untuk mengajukan revisi terhadap RKAP tahun 2020.

Sehingga pada akhir Desember kemarin kami mengacunya pada RKAP yang sudah direvisi. Dan itu menurunnya jauh. Jadi kalau untuk sales itu revisi kami itu turun kira-kira 80 persen dari RKAP awal. Sedangkan untuk profit kami hanya berani memasang 10 persen dari RKAP awal, karena biaya penyelesaian proyeknya meningkat. Banyak sekali biaya di luar perkiraan.Alhamdulillah terhadap revisi RKAP kami bisa mencapai semua, baik itu nilai kontrak baru, kemudian pendapatan maupun laba bersih bisa terlampaui semua.

Untuk target 2021 bagaimana?

Sampai dengan saat ini belum ada pakar maupun ahli yang berani memprediksi kapan pandemi akan berakhir. Sehingga tahun 2021 ini kami menyusun target dengan asumsi bahwa sepanjang 2021 kami masih harus berjuang melawan Covid-19.

Jadi target kami memang sudah disusun secara konservatif, mudah-mudahan tidak perlu revisi lagi. Beda dengan tahun 2020 yang lalu, target disusun dalam kondisi normal, namun dalam pelaksanaannya ternyata terjadi pandemi, sehingga hatus mengalami revisi.

Namun demikian kami tetap optimis bahwa kondisi 2021 Insya Allah lebih baik daripada 2020. Sehingga kami pasang RKAP lebih tinggi daripada RKAP revisi 2020. Kami harus tetap tumbuh sehingga pendapatan kami targetkan 30 persen di atas 2020, sementara laba bersihnya kita pasang 75 persen di atas RKAP revisi 2020.

Pasar yang kami incar masih proyek-proyek infrastruktur, terutama yang didorong oleh pemerintah. Mudah-mudahan situasi ekonomi membaik, investasi meningkat, sehingga tahun 2021 nanti sudah mulai muncul proyek infrastruktur yang didanai oleh investor swasta.

Jadi intinya 2021 masih terpengaruh dengan kondisi pandemi ini. Namun demikian kami sudah tidak terlalu panik, karena kami sudah dapat beradaptasi dengan kondisi New Normal. Hal ini sesuai dengan budaya BUMN yang digaungkan Pak Menteri Erick Thohir yaitu AKHLAK (Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif dan Kolaborasi), dimana kami beradaptif dengan melakukan berbagai inovasi.

Pemerintah gencar bangun infrastruktur, apakah ini mendongkrak bisnis perseroan?

Sebagai kontraktor tentu saja Abipraya sangat mengandalkan proyek-proyek infrastruktur baik yang didukung dana pemerintah maupun swasta. Sementara sambil menunggu kondisi ekonomi membaik, untuk menjaga cash flow Investasi internal kami batasi dulu. Kebetulan di tengah pandemi ini pemerintah masih mengandalkan proyek-proyek infrastruktur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Nasional, artinya peluang pasar bagi kami masih cukup terbuka. Sehingga saat ini lebih dari 90 persen proyek kami merupakan proyek-proyek infrastruktur.

Brantas Abipraya tahun lalu sempat ada wacana IPO di pasar modal. Untuk tahun ini apakah wacana tersebut masih jalan?

Sebenarnya IPO sudah lama kita wacanakan, yaitu sejak 2016. Sudah beberapa kali kami mengajukan ijin untuk IPO, namun demikian karena sesuatu dan lain hal sampai dengan saat ini kami belum mendapatkan izin dari pemegang saham yaitu Kementerian BUMN.

Tahun ini kami coba mengajukan izin kembali pada pemegang saham untuk melakukan IPO. Jika disetujui paling cepat mungkin 2022 kami baru bisa melantai di bursa dengan menggunakan laporan keuangan akhir 2021. Menurut rencana dana hasil IPO akan kami gunakan untuk menggenjot perkembangan bisnis Abipraya ke depan. Jadi kita masih tetap berusaha untuk melakukan IPO, karena hanya dengan IPO ini Brantas Abipraya bisa tumbuh cukup signifikan seperti teman-teman lain yang sudah melakukan IPO lebih dahulu.

Cashflow beberapa perusahaan konstruksi terganggu pandemi. Brantas Abipraya bagaimana?

Hampir semua perusahaan saat ini mengalami kesulitan cashflow, termasuk juga Brantas Abipraya. Tapi seberapa besar tingkat kesulitannya itu yang berbeda-beda.

Alhamdulillah Brantas Abipraya untuk tahun 2020 bisa menjaga kondisi cashflow ini dengan cara menghemat pengeluaran. Pengeluaran yang kurang penting kami batasi, investasi yang sudah mendapatkan persetujuan kami tunda dulu, sampai dengan pembayaran gaji pun kami potong sebagian. Sementara pengluaran untuk penanggulangan Covid-19 kami prioritaskan.

Disisi lain walaupun sulit kami berusaha memaksimalkan cash in melalui skala prioritas. Untuk proyek-proyek pemerintah yang dananya sudah tersedia kami kebut pelaksanaan di lapangan sehingga terminnya bisa segera cair untuk membantu cash in kami, sementara untuk proyek-proyek yang dananya belum jelas kami tunda dulu pelaksanaannya, sampai ada kejelasan tentang ketersediaan dananya. Dengan strategi seperti itu Alhamdulillah walaupun sulit kami dapat melalui tahun 2020 dengan baik.

Kami berharap tahun 2021 ini kondisi ekonomi akan mulai membaik sehingga investasi meningkat dibanding tahun 2020. Kalau kita lihat indikatornya kelihatan sudah mulai mengarah kesana, mudah-mudahan dengan adanya vaksinasi masal, pandemi juga akan mereda.

Fokus utama infrastruktur untuk Brantas Abipraya saat ini sedang dimana?

Saat ini Abipraya banyak mengerjakan proyek infrastruktur di bidang sumber daya air. Berberapa proyek bendungan besar sedang kami kerjakan tersebar di seluruh Indonesia mulai dari aceh, jawa barat, jawa timur, NTB, Kalimantan, sampai ke Sulawesi. Di samping itu juga proyek infrastruktur perhubungan, jalan, jembatan, pelabuhan dan sebagainya banyak yang masih dalam tahap pelaksanaan. Sementara ini proyek-proyek gedung, perkantoran, apartemen, perumahan dan sejenisnya memang agak berkurang. Tapi nanti kalau situasi membaik mudah-mudahan itu juga sudah bisa menggeliat lagi.

Jokowi gencar meresmikan bendungan baru. Untuk yang dikerjakan Brantas Abipraya, tahun ini ada berapa bendungan yang akan diselesaikan?

Kemarin bendungan karya Brantas Abipraya yang sudah diresmikan pak Jokowi ada dua, yaitu Bendungan Tukul di Pacitan, Jawa Timur dan Bendungan Tapin di Kalimantan Selatan.

Insya Allah yang akan bisa diresmikan tahun ini untuk bendungan antara lain : Bendungan Keureuto di Aceh, Bendungan Bintang Bano di Sumbawa, Bendungan Semantok di Jawa Timur, Bendungan Ciawi di Jawa Barat.

Khusus untuk Bendungan Ciawi adalah merupakan Bendungan Kering Pertama di Indonesia yang dibangun untuk Pengendalian Banjir kota Jakarta, sesuai rencana akan selesai bulan Juni tahun 2021.

Cita-cita Anda terhadap Brantas Abipraya untuk kemajuan ke depan seperti apa?

Baru saja Brantas Abipraya meluncurkan buku Menembus Batas, Menjemput Impian: Brantas Abipraya Menuju The Living Company. Di dalam buku ini diceritakan perjalanan dan pengalaman Abipraya selama empat dasawarsa, serta mimpi masa depan yang ingin diraih dengan menembus batas imajiner yang menjadi penghalang Abipraya dalam menuju visi menjadi perusahaan terpercaya dalam industri konstruksi dan investasi.

Kami ingin Brantas Abipraya menjadi the living company. Artinya perusahaan yang bisa sustain, tumbuh terus secara berkelanjutan. November tahun 2020 Abipraya telah menginjak usia 40 tahun. Kami berharap Abipraya bisa mencapai umur 50-60 tahun, bahkan 100 tahun lebih.

Agar perusahaan dapat tumbuh berkelanjutan, pada dasarnya pimpinan harus mewariskan sesuatu yang baik kepada generasi penerus. Jadi kalau saya masuk ke Abipraya itu 10 tahun yang lalu, dan harus meninggalkan Brantas Abipraya tahun ini, maka pada saat saya meninggalkan Abipraya kondisi yang saya tinggalkan kepada penerus saya harus lebih baik daripada sewaktu saya masuk.

Untuk menjadi the living company, perusahaan harus memiliki empat ciri, yaitu yang pertama perusahaan harus adaptif, artinya bisa menyesuaikan dengan perubahan lingkungan yang terjadi. Terlebih seperti kondisi sekarang dimana persaingan semakin ketat, ditambah kondisi pandemi yang semakin tidak menentu.

Kedua, kita harus kohesif, artinya harus kompak. Tidak boleh kita saling sikut-sikutan di dalam, karena akan menghabiskan banyak energi.Ketiga kita harus toleran, maksudnya tidak hanya bisa mentolerir perbedaan suku, perbedaan budaya, agama dan sebagainya, tetapi juga harus bisa mengakomodasi perbedaan pendapat atau pemikiran satu sama lain.

Terakhir adalah terkait prinsip kehati-hatian, dimana kita harus pruden dan konservatif dalam bidang keuangan. Insya Allah dengan empat ciri itu Brantas Abipraya dapat menuju kepada the living company.