Wawancara Eksklusif Ketua Umum The Jakmania: Karier, Komunitas, dan Pergeseran Budaya

Bola.com, Jakarta - Diky Budi Ramadhan terpilih sebagai Ketua Umum The Jakmania untuk periode 2020-2023 pada Februari lalu. Berasal dari Koordinator Wilayah (Korwil) Manggarai, pria yang tenar dengan nama Diky Soemarno ini mengungguli kandidat lainnya, Joey Roey dari Korwil Lebak Bulus.

Diky menggantikan Tauhid Indrasjafrief alias Bung Ferry sebagai Ketua Umum The Jakmania, yang masa kepemimpinannya telah habis setelah mengomandoi suporter Persija Jakarta itu sejak 2017.

Diky berhasil mengumpulkan 699 suara dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Raya The Jakmania pada 9 Februari 2020. Sementara satu-satunya pesaingnya, Joey Roey, hanya kebagian 134 suara.

"Terima kasih sudah mempercayakan saya sebagai Ketua The Jakmania. Kami juga harus berterima kasih untuk Bung Ferry. Saya butuh kalian semua untuk membuat Persija juara lagi. Kita bikin tahun ini juara lagi," ujar Diky setelah terpilih menjadi Ketua Umum The Jakmania pada medio Februari 2020.

"Kami akan bikin The Jakmania kece, keren, dianggap lagi, dan buat The Jakmania lebih berarti untuk Persija. Saya berharap semuanya berkomitmen untuk membangun, bekerja sama untuk organisasi. Kekuatan kita karena cinta Persija. Saya berharap teman-teman punya komitmen kuat untuk mendukung Persija," imbuh Diky.

Diky adalah The Jakmania sejati. Pria berkacamata ini tercatat sebagai suporter paling muda saat mendaftarkan diri sebagai anggota The Jakmania pada 1998 atau setahun setelah organisasi suporter Persija ini terbentuk. Saat itu, usianya baru sekitar sepuluh tahun.

Sebelum menjadi Ketua The Jakmania, Diky telah aktif di organisasi suporter yang kental dengan warna oranye ini. Posisinya di masa kepemimpinan Bung Ferry adalah Sekretaris Umum (Sekum) The Jakmania.

Pada pekan lalu, Diky berkesempatan untuk mengunjungi Kantor KapanLagi Youniverse (KLY) di Jakarta untuk menjadi perwakilan The Jakmania dalam turnamen BOLA Esports Challenge gagasan Bola.com, Bola.net, dan Vidio yang bekerja sama dengan Persija dan The Jakmania.

Dalam sela-sela turnamen tersebut, Bola.com melakukan sesi wawancara dengan Diky. Berikut petikannya:

Bekerja di Bidang Industri Kreatif

Ketua Umum The Jakmania, Diky Soemarno, saat bermain FIFA 20 di Kantor KLY, Gondangdia, Kamis (25/6/2020). Acara bertajuk BOLA Esports Challenge ini mempertemukan pemain Persija dengan The Jakmania pada pertandingan FIFA 20. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Apa aktivitas Anda selain menjadi Ketua The Jakmania?

Saya sekarang masih bekerja di agensi. Saya menjadi social media handling. Saya juga menjadi creative director. Saya juga kerja di Event Organizer (EO). Jadi, pekerjaan saya banyak di bidang industri kreatif.

Pekerjaan saya sehari-hari itu, yang pertama mengatur konten media sosial sebagai provider konten. Kedua, sebagai EO, saya membuat acara dan event. Ketiga, saya creative director untuk pembuatan iklan televisi dan video klip.

Keluarga mendukung kesibukan Anda?

Dengan tidak menjadi Ketua The Jakmania saja, waktu saya sudah sangat terbatas dengan keluarga. Apalagi saya punya istri dan satu anak yang berusia tujuh tahun. Baru saja naik ke kelas 2 SD. Kalau bagi waktu, semua orang di dunia bisa berhasil jika bisa membagi waktu dengan baik.

Jadi memang ketika dulu, terpilih sebagai Ketua The Jakmania, saya akan menyerahkan 30 persen waktu untuk The Jakmania. Karena dari 100 persen, ada waktu yang harus dibagi untuk keluarga, pekerjaan, dan diri saya.

Mereka juga punya hak atas waktu saya. Tapi, The Jakmania tetap menjadi bagian dalam hidup saya. Itu harus tetap saya pikirkan. Saya harus pintar-pintar membagi waktu.

Punya anak yang masih kecil, apakah Anda akan membimbing anak Anda menjadi The Jakmania juga?

Anak saya bebas mau menjadi apa, atau mau mencintai sepak bola atau tidak, dan mau jadi penggemar Persija atau tidak. Tapi, kalau saya mau mengarahkan, pasti saya arahkan.

Pada akhirnya, pasti saya akan serahkan semua kepada dia. Saya tahu, saya anak bungsu dari empat bersaudara dan tahu bagaimana keluarga yang baik dan benar. Jadi, harus mengajak anak saya menjadi anak yang sesuai apa yang dia pilih dan bertanggung jawab atas itu.

Ketika sekarang, saya telah memilih untuk menjadi The Jakmania. Saya menjadi The Jakmania dari 1998. Masih kelas 5 SD waktu itu. Saya sampai menangis ke ibu saya untuk daftar menjadi anggota The Jakmania hingga akhirnya menjadi anggota yang paling kecil. Anggota ke-49. Berarti sejak saat itu, saya berkomitmen dengan Persija. Saya senang menonton Persija.

Namun, ada masanya, ketika saya menginjak kelas 3 SMA, saya mulai jarang nonton karena fokus belajar. Tapi, sebelum dan sesudahnya, tepatnya pada 2010, saya mulai aktif lagi menonton Persija.

Komunitas dan Pergeseran Budaya The Jakmania

Ketua Umum The Jakmania, Diky Soemarno, mengapresiasi event turnamen BOLA Esports Challenge yang bisa mendekatkan suporter dengan pemain idola. (Bola.com/M. Iqbal Ichsan)

Lima sampai sepuluh tahun belakangan, mulai menjamur komunitas suporter Persija. Bagaimana tanggapan Anda?

Komunitas itu kekayaan untuk The Jakmania. Komunitas itu berdasarkan hobi atau terhadap kesukaan. Misalnya yang diatur oleh The Jakmania. Karena domisili saya di Manggarai, maka saya masuk di Korwil Manggarai. Tapi, karena saya suka sama sepeda, saya bergabung dengan Jak Ontel. Atau misal saya bekerja di mana, saya bergabung dengan Jakantor.

Tapi, secara internal, jatidiri The Jakmania itu tetap tergabung ke dalam satu organisasi di daerahnya secara administratif. Tapi, di luar itu, dia mau bergabung dengan komunitas mana, itu bebas-bebas saja. Tapi, harus sesuai peraturan dan hal-hal yang disepakati oleh korwilnya.

Dengan adanya komunitas, bukannya malah membuat sekat antaranggota The Jakmania?

Tidak. Menurut saya perbedaan itu kekayaan. Bagaimana kita menyatukan perbedaan tanpa saling menyinggung satu sama lain.

Alhamdulillah saat ini di Indonesia, mungkin baru The Jakmania yang solid tetap satu. Walaupun stadionnya besar, tribune banyak, tapi semua menganggap berada di bawah naungan organisasi bernama The Jakmania.

Beberapa tahun belakangan, sejumlah The Jakmania mulai mengubah gaya penampilan dan cara mendukung. Bagaimana pandangan Anda terhadap fenomena ini?

Menurut saya sah-sah saja. Walaupun saya tetap menyarankan, ketika datang ke stadion, tetap pakai baju kebanggaan. Jersey Persija dan lain-lain. Tapi hak setiap orang untuk melakukan sesuatu selama orang itu tidak melanggar hukum, bebas-bebas saja.

Tapi, saya pribadi menyarankan dan sebagai Ketua The Jakmania saya berani bicara, kalau bisa memang ke stadion menggunakan jersey kebanggaan klub kita. Kenapa? Satu, ketika kita dalam satu bendera, terlihat satu warna pada fisik, maka orang akan jauh lebih respek dibandingkan warna-warni.

Maka dari itu, AD/ART The Jakmania yang diperbarui, untuk kaus anggota The Jakmania yang baru berwarna oranye. Kami terkenal dengan warna dan lahir dari warna oranye meski Persija berwarna merah. Maka warna oranye tidak bisa jauh dari warna The Jakmania.

Video