Wawancara GM Arema FC, Ruddy Widodo: Musim Tersulit dan Hasrat Beribadah di Aceh

Bola.com, Malang - Arema FC menjadi klub yang cukup vokal selama kompetisi terhenti karena pandemi virus corona. Bukan hanya untuk urusan sosialisasi dalam upaya memutus rantai penyebaran virus, tapi juga saat menyampaikan sikap terkait lanjutan kompetisi Liga 1 2020.

Arema FC ingin berempati kepada semua yang terlibat dalam sepak bola Indonesia. Klub yang bermarkas di Malang, Jawa Timur, itu tak lagi ingin bicara soal untung dan rugi yang dialami klub sepak bola maupun stakeholder lainnya. Arema ingin semua tetap bisa bertahan dalam kondisi sulit.

Meski awalnya bersikeras memilih untuk tidak melanjutkan kompetisi, pada akhirnya Arema FC siap melanjutkan kompetisi. Namun, seperti yang sudah disampaikan oleh General Managernya, Ruddy Widodo, Arema akan siap mengikuti kembali kompetisi selama digelar dengan memperhatikan protokol kesehatan dan keselamatan.

Arema FC pun kini sudah siap untuk kembali berkompetisi. Manajemen klub sudah berkoordinasi dengan tim pelatih tentang rencana untuk kembali menggelar latihan tim bersama-sama, tentunya juga dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Kali ini, Bola.com berbincang dengan GM Arema FC, Ruddy Widodo, mengenai pandangannya terkait kelanjutan kompetisi yang rencananya digelar pada September mendatang.

 

Empati dan Kondisi Klub

GM Arema, Ruddy Widodo. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Selama pandemi virus corona ini, Anda tampak begitu keras berpikir menjaga eksistensi klub. Apakah ini memang menjadi ujian tersulit selama Anda menjadi General Manager Arema FC?

Kondisi saat ini memang menjadi yang paling sulit. Ketika kompetisi berhenti karena sanksi FIFA pada 2015, klub masih bisa bernafas karena ada pemasukan dari turnamen maupun undangan uji coba. Aktivitas tim saat itu juga masih normal. Sekarang, tiga bulan nyaris tanpa pemasukan.

Sejak itu kami berusaha mencari solusi. Tidak bisa terus seperti ini, jangan pasrah dengan keadaan. Semua harus tetap produktif dengan tentunya mengikuti protokol kesehatan dan mengikuti anjuran pemerintah.

Kalau lingkup sepak bola, kompetisi jadi aset terpenting yang harus berlanjut. Alhamdullilah rencananya akan diputar kembali pada September. Banyak elemen yang kehilangan pemasukan saat kompetisi berhenti, seperti pedagang merchandise, pedagang makanan, dan lain-lain.

Memperhatikan mereka yang kehilangan pemasukan, Anda memilih berempati daripada memikirkan keuntungan atau kerugian klub?

Lebih mudah kompetisi selesai karena kondisi ini force majeure. Kontrak pemain, pelatih, dan yang lain akan gugur kedepannya. Petinggi klub masih bisa makan dalam kondisi ini, tapi bukan itu yang dipilih.

Hidup ini harus punya empati. Selain menjaga eksistensi klub, kita harus melihat orang-orang di sekitar. Karyawan manajemen, tukang masak di mes pemain, dan masih banyak yang lain juga butuh penghasilan.

Kalau untuk kompetisi, seperti kami sampaikan sebelumnya, harus ada sejumlah penyesuaian, seperti gaji pemain hingga protokol kesehatan yang perlu diterapkan dalam setiap latihan atau pertandingan. Meski subsidi naik menjadi Rp800 juta, tapi itu masih kurang karena pemasukan klub belum normal.

Belum tahu juga apakah kompetisi dilanjutkan tanpa pennton atau tetap ada penonton tapi dibatasi jumlahnya. PSSI masih melihat perkembangan virus corona ini sampai pertengahan Agustus. Sebagai antisipasi, manajemen juga tetap mencari dana untuk menutup kekurangan dalam lanjutan kompetisi nanti.

 

Kompetisi Ideal?

General Manager Arema FC, Ruddy Widodo. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Wacana yang dikemukakan PSSI, Liga 1 berlanjut pada September. Menurut Anda, apakah momentum bergulirnya kembali kompetisi ini sudah ideal?

Jangankan September, jika maju menjadi Agustus pun kami siap. Namun, dengan catatan protokol kesehatan sudah dibuat. Begitu juga dengan persiapan penyelenggara, medis, dan sebagainya untuk mengantisipasi agar virus corona tidak menyebar di lingkungan sepak bola

Kalau teknis latihan tim, saya sudah berkomunikasi dengan pelatih. Dia mengatakan satu bulan sudah cukup untuk mempersiapkan kembali tim ini.

Mengenai kelanjutan kompetisi yang direncanakan hanya digelar di Pulau Jawa. Apakah menurut Anda itu kebijakan yang ideal?

Kami memilih untuk mengikuti saja kalau bicara soal venue pertandingan. Satu hal yang jelas, sesuai dengan keputusan yang disepakati bersama.

Sebenarnya ada satu keinginan pada musim ini, yaitu saya ingin ikut mendampingi laga tandang tim ini ke markas Persiraja Banda Aceh, karena saya ingin salat di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Namun, tentu keinginan tersebut harus tertunda dulu tahun ini kalau memang kebijakannya kompetisi dipusatkan di Jawa.

Setelah pandemi virus corona mengganggu jalannya kompetisi sepak bola musim ini, Anda merivisi target Arema FC?

Tim ini tetap berupaya sesuai target awal, yaitu masuk zona Asia pada musim depan. PSSI sudah menegaskan juara kompetisi tahun ini tetap menjadi wakil Indonesia di Piala AFC musim depan. Jadi kami tetap ada hasrat untuk itu.

Sekarang tinggal bagaimana menjaga kondisi tim dalam situasi seperti ini agar semua tetap sehat, karena sangat memungkinkan banyak pemain kemudian positif terinfeksi virus corona jelang pertandingan dan hasilnya kemungkinan tim menjadi WO atau mengganti jadwal. Maka dari itu, sudah menjadi tugas semua orang untuk menjaga pola hidup sehat.

 

Video