Wawancara Imajiner dengan Raja Keraton Agung Sejagat

Liputan6.com, Semarang - Sejak semalam gawai saya matikan. Saya tak mau repot dengan berita kerajaan Keraton Agung Sejagad. Karena sesungguhnya ini bagi saya hanya sebuah pertunjukkan saja. Sebuah satire realisme.

Pagi ini, gawai saya nyalakan puluhan pesan masuk. Mayoritas di grup WA yang mendiskusikan keberadaan Sinuhun Toto Santoso Hadiningrat, sang raja Keraton Agung Sejagad. Celakanya, dari banyak grup itu, nyempil satu pesan, dan hanya memberi salam saja.

"Rahayu...." demikian salam singkat.

Karena tak ada nama yang muncul, saya mencoba membuka profilnya. Tertulis namanya dengan simpel, Sinuhun. Fotonya adalah sepasang suami istri berseragam hitam dengan variasi warna merah dan kuning. Tak salah ini adalah sang Raja Keraton Agung Sejagat.

"Selamat pagi sinuhun. Rahayu juga," saya berbasa basi menjawab.

"Hari ini saya menyediakan waktu khusus buat sampeyan. Kita bisa wawancara. Saya tunggu di kantor polisi, soalnya saya udah ditahan. Tapi kebenaran akan tetap saya suarakan, di manapun saya berada," jawabnya.

"Ya. Siap," saya hanya menjawab singkat.

Cuci muka dan ganti pakaian tanpa mandi, saya langsung menuju lokasi yang dijanjikan. Hanya butuh beberapa menit, saya sudah berada di hadapannya. Atas kesepakatan bersama untuk efisiensi waktu, saya langsung wawancara.

"Sebenarnya apa yang ada di benak sinuhun kok berani mendirikan kerajaan Keraton Agung Sejagad?"

"Ini bukan masalah berani. Ini adalah hari kebangkitan. Bagaimanapun Majapahit itu negara besar yang jaya. Utusan Kaisar Mongol Khu Bilai Khan yang berkuasa di Tiongkok saja mampu kita usir dengan telinga dipotong. Dan kaisar besar itu, nyatanya nggak berani menyerbu."

"Kayaknya Singasari deh, jaman Kertanegara bukan Majapahit," saya mencoba memotong.

"Halah sama saja. Siapapun rajanya pesan utamanya adalah keberanian menegakkan kedaulatan. Iya to? Kerajaan Keraton Agung Sejagat juga gitu," sinuhun Toto menjawab.

 

DEC dan Gafatar

Toto Santoso berpose di samping patung Hitler untuk kemudian ia meniru seragam tentara NAZI menjadi seragam para punggawa kerajaannya. (foto: Liputan6.com/Instagram/Edhie Prayitno Ige)

"Lha kok saat itu ada pawai atau kirab budaya, pakai naik kuda dan kudanya dituntun. Apa yang diinginkan?”

"Sampeyan tolong jangan berpikir terlalu rumit. Kerajaan ini hadir kan untuk memberi kegembiraan pada masyarakat. Jadi karnaval itu hanya sebagai hiburan masyarakat saja. Bukankah mereka sudah menderita dengan kenaikan tarif listrik, kenaikan iuran BPJS, kenaikan cukai rokok, kenaikan tarif tol dan lain-lain. Kalau bukan saya yang menghibur, trus siapa? Saya ini raja lho, punya tanggung jawab menjaga kegembiraan rakyat."

"Iya ya. Bahkan sampeyan cengengesan ketika ada warga yang ngomong kalau perempuan selain kanjeng ratu adalah selir-selir," saya mengangguk-angguk.

"Saya ikhlas menjadi bahan tertawaan. Karena hidup itu sesungguhnya hanya mampir bercanda saja. Jadi nggak usah baperan."

"Dulu sampeyan pernah bikin geger dengan Jogja DEC usai heboh GAFATAR. Nggak kapok?" hati-hati saya bertanya.

"Kapok? Itu bahasa mana? Dari seluruh kamus yang saya punya, tak ada kosa kata kapok. Apa sih artinya?" Sang Raja ini malah balas bertanya.

"Kok sampeyan yakin kalau Keraton Agung Sejagat bisa menjadi reinkarnasi kerajaan Majapahit yang jaya?"

"Ya yakin saja. Yakin itu nggak perlu bukti bisa melihat. Sampeyan yakin nggak kalau Gusti Allah ada?”

“Yakin dong,” saya cepat menjawab agar dikira religius.

“Pernah lihat? Belum kan? Nah ini juga sama. Saya yakin ada perjanjian Majapahit dan Portugis yang berlaku 500 tahun. Karena yakin, saya nggak perlu melihat dokumennya to?”

“Tapi nyatanya sampeyan malah ditangkap polisi?” saya mencoba ngeyel.

“Saya nggak bisa komentar apapun, kecuali mengutip Injil. ‘Bapa ampunilah mereka, karena mereka tak tahu apa yang dilakukannya.’ Jelas sekali kan kalau mereka nggak tahu apa yang sudah diperbuat.”

“Alasan utama adalah karena Sinuhun dianggap menyebar kebohongan sehingga menimbulkan keonaran,” saya terus mencoba memancing.

“Keonaran? Lha pas prosesi kirab budaya saja ada rakyat melintas dengan sepeda motor di depan pasukan, mereka juga nggak diapa-apain kok. Saat kirab atau karnaval juga banyak yang menyambut kami dari masyarakat. Malah juga hansip-hansip ikut menjaga. Keonaran macam apa yang saya timbulkan? Coba bandingkan dengan kasus di Papua di mana wakil Bupati Nduga sampai mengundurkan diri. Penanganan demo yang juga berisik dan menelan nyawa, lebih onar mana coba?”

 

 

Akting yang Baik Adalah yang Tidak Akting

Suasana sidang Kerajaan Agung Sejagad, terlihat serius. (foto: Liputan6.com/GB/edhie prayitno ige)

“Emangnya Keraton Agung Sejagat itu maunya agar rakyat gimana sih?” saya mencoba menyelami isi kepalanya.

“Ya nggak ada kesewenang-wenangan. Dalam konstitusi kami, yang tak mengikuti aturan kami selaku penguasa jagad harusnya kami musnahkan. Kami perangi. Tapi lihat apa yang kami lakukan? Diam dan melalui pendekatan kemanusiaan. Setiap hari rakyat berdatangan ke keraton, mengeluhkan kesulitan hidup mereka. Kami suguhi teh, kadang juga cemilan seadanya, kami beri keleluasaan bertemu raja, permaisuri, mahapatih. Kami duduk sama rendah, makan makanan yang sama. Coba bandingkan dengan negara sampeyan, ada yang mau lewat saja rakyatnya harus berhenti dan memberi jalan. Itu kan namanya asu,” ia mulai berapi-api.

“Berapa gaji sampeyan sebagai raja?” tanya saya.

“Gaji? Raja itu nggak boleh terima gaji. Semua kebutuhan hidupnya sudah disiapkan Gusti Allah. Bahkan raja itu harusnya ikhlas berbagi. Seorang pemimpin itu nggak boleh mikir dirinya, keluarganya, atau kelompoknya. Kalau dalam negara sampeyan ya partai. Mosok ada yang korupsi kok nangkap saja harus minta ijin yang hendak ditangkap. Mosok organisasi maling kok dilindungi.”

“Sampeyan maksudkan PDIP?” saya mencoba memancing.

“Bukan. Kalau PDIP kan jelas. Partainya wong cilik, marhaenis, berjuang untuk rakyat kecil. Bahkan ketua partainya kan anak Soekarno yang masih trah Majapahit. Nggak mungkinlah melindungi koruptor. Nggak mungkin juga menjual aset negara kan itu nasionalis. Nggak mungkin juga bikin sengsara rakyat dengan menaikkan harga-harga dan mencabut subsidi. Sampeyan mbok jangan terlalu curiga to,” nada suara Sinuhun berubah.

“Tapi nyatanya sampeyan tetap mendirikan Keraton Agung Sejagad? Berarti kan nggak setuju dengan pemerintahan Indonesia saat ini? Makar kan?” saya mulai emosi.

“Ini dua hal berbeda. Keraton Agung Sejagat ini sejatinya adalah sebuah pertunjukkan teater arena yang kolosal. Melibatkan ratusan pemain. Saya menjadi raja itu kan tuntutan skenario. Jika menjadi raja dalam kesenian ditangkap dan dituduh makar, bagaimana dengan seni Ketoprak, Wayang Orang, trus lagi ada Raja Dangdut Rhoma Irama kok nggak ditangkap? Malah ada Presiden Jancukers, Presiden Penyair, Presiden PKS itu kok juga nggak ditangkap? Kecuali siapa itu yang korupsi sapi? Tapi itu kan jaman dulu dan karena korupsi bukan karena presiden. Saya ini hanya menjalankan tuntutan peran. Ini pertunjukkan teater. Wong senjata yang saya gunakan nantang Amerika saja cuma panah dan tombak mainan kok. Cerdas dong. Perilaku nggak cerdas macam inilah yang membuat kita terpuruk.”

“Jika benar ini hanya pertunjukkan, apa sih pesan yang ingin sampeyan sampaikan?” saya melunak.

“Ya, saya hanya ingin merefleksikan kondisi masyarakat kita. Memiliki nasionalisme tinggi dan rindu kejayaan sebuah bangsa. Rindu keadilan. Dan itu hanya bisa mereka nikmati di panggung pertunjukkan.”

“Sekali lagi, jika itu benar hanya pertunjukkan teater, akting sampeyan, bahkan sampai figuran yang menonton karnaval sampeyan sangat menjiwai. Layak dapat penghargaan,” saya mengomentari.

“Bukankah akting yang baik adalah yang tidak akting? Nah kesalahan utama pejabat negara di Indonesia, akting mereka masih akting. Memaknai akting sebagai kepura-puraan. Datanglah ke Purworejo, saya ajari. Kemarin itu kelompok kami menggelar pertunjukkan malah nggak pakai tiket nonton lho. Keren kan?’

Saya nggak punya pertanyaan lagi. Isi kepala saya ingin segera saya segarkan dengan guyuran air. Saya jadi ingat kalau belum mandi. Buru-buru ambil handuk dan matikan konten video yang saya tonton sambil berimajinasi wawancara ini. [][][]

Tulisan ini adalah opini pribadi Edhie Prayitno Ige (jurnalis liputan6.com, tinggal di Semarang)