Wawancara Khusus Dirut MTF: Dari Restrukturisasi Kredit hingga Mobil Listrik

·Bacaan 7 menit

Liputan6.com, Jakarta Pandemi Covid-19 memukul hampir semua sektor. Mulai dari sektor kesehatan hingga ekonomi harus berjuang menghadapi dampak pandemi.

Pemerintah pun bergerak cepat mengambil berbagai langkah. Terutama membantu masyarakat yang terdampak pandemi yang hingga kini belum usai. Salah satunya pemberian restrukturisasi kredit.

Adalah PT Mandiri Tunas Finance (MTF) yang ikut ambil bagian sejak tahun lalu menerapkan program restrukturisasi. Program yang memberikan keringanan kredit kepada nasabah terdampak pandemi Covid-19.

Di sisi lain, MTF juga ikut ambil bagian membuat berbagai terobosan demi menyukseskan program mobil listrik yang tengah digaungkan pemerintah sebagai upaya mengurangi pemakaian energi fosil. Diharapkan ke semua program yang dilakukan dapat mendukung pemulihan ekonomi nasional.

Direktur Utama MTF Pinohadi G Sumardi melalui wawancara dengan Jurnalis Merdeka.com, Dwi Aditya Putra membeberkan apa saja langkah perusahaan di masa pandemi demi membantu masyarakat dan pemerintah.

Berikut petikan wawancara lengkapnya:

Bagaimana awal cerita Mandiri Tunas Finance memberikan keringanan kredit pada saat pandemi?

Kita kan groupnya Bank Mandiri, bank pemerintah. Kita diimbau juga restrukturisasi. Jadi dikasih keringanan dalam bentuk restrukturisasi. Memang kita cukup intens banget karena tidak bayar bunga sama tidak bayar angsuran.

Kita tetap pilih-pilih kan. Dalam artian yang terdampak saja.

Intinya kita ikut melaksanakan program pemerintah Pak Jokowi juga karena banyak yang terkena dampak. Kita melakukan itu dari Maret selama enam bulan. Itu kita bebaskan semua pembayaran.

30 Persen ada dari semua portofilio. Tapi 30 persen itu besar loh. Kita kayaknya terbesar dibanding perusahaan leasing atau otomotif dan finance yang lain.

Memang kita juga jadi terkena dampak karena tidak ada inflow. Karena memang kita groupnya besar dalam artian di belakang ada Tunas Mandiri, jadi masih survive gitu. Tapi kita kalau dibandingin yang lain, dampaknya kita juga lumayan kan. Karena kita lebih longgar.

Berapa nilai pembiayaan restrukturisasi sepanjang 2020?

Rp 13,8 triliun direstrukturisasi. Direstrukturisasi bukan berarti kitanya yang kesulitan tapi kita bantu mereka.

Skemanya bagaimana, konsumen mengajukan?

Iya mengajukan. Kita juga selektif ya misalkan mereka pegawai negeri, mungkin ya tidak (diberi) karena kan mereka sudah menerima gaji. Kalau swasta-swasta yang perusahaan seperti cafe itu kan tidak ada yang datang cafenya. Dia punya cicilan mobil ya kita tangguhkan, kasih keringanan itu.

Tapi kan gini ya, kita kasih keringanan mereka berarti kita tidak menerima inflow, otomatis kan kita harus membayar pinjaman kita ke bank lain.

Ada tidak yang sengaja memanfaatkan program restrukturisasi?

Itu yang agak susah. Bisa saja sih. Kita kan tidak mungkin mengecek satu-satu yang terdampak. Tapi pasti ada sih yang memanfatkan. Bilangnya susah tapi tidak.

Tapi kan intinya itu shifting aja. Jadi bayar juga bukan berarti tidak bayar. Tapi kan lihat nanti gitu loh.

Berapa besaran kredit macet sepanjang 2020?

Pada saat itu sih lumayan agak tinggi NPL-nya. Pada saat awal-awal 3 persen. Tapi kan itu kalau dibanding industri masih di bawah.

Tapi sekarang sih sudah turun lagi di bawah 1 persen. Tapi intinya kita kan pasti jaga kualitas.

Jadi gini kita bener-bener memprihatinkan konsumen kita. Kalau konsumen kita kira-kira bisa bayar, coba tolong dong bayar. Tapi kalau memang lagi sulit, ya kita restrukturisasi, diundur. Cuma jangan sampai kita sangat meminimalisir kalau kita tarik (unit).

Bicara 2020, semua sektor terdampak pandemi Covid-19. Apa yang membuat MTF bertahan?

Yang pasti kita banyak funding-funding kan dari Mandiri ya. Kita terus terang tidak minta restrukturisasi ya, kalau kita minta restrukturisasi orang kan tanda tanya semua. Masa sih harus direstrukturisasi perusahaan sebesar ini? Jadi kita tetep sih bayar biasa saja.

Tapi secara keseluruhan sih kita untung ya, tapi kalau untuk di buku MTF-nya lose. Tapi itu kan secara ke Mandirinya untung. Yang bikin bertahan ya karena group besar. Kalau group besar kan saling membantu ya.

Kemarin kita juga dari Mandiri juga dapat fasilitas yang tidak terlalu mahal. Karena Mandiri pasti bantu, itu kita masih survive.

Kita tidak sama sekali PHK, tidak ada. Pengurangan gaji tidak ada, THR juga bayar. Normal saja gitu. Bonus pun kita juga rencana mau bagi. Jadi kan Mandiri groupnya untung.

Istilahnya Bank Mandiri punya cabang, cabangnya rugi misalnya apa iya tidak dapat bonus? Iya dapat, cuma mungkin kecil. Karena memang Mandirinya untung. Kulitas untuk pegawai masih kita jaga. Tidak ada sama sekali, kecuali yang kontrak. Dalam artian mau tidak mau mereka diperpanjang pada saat itu tapi bulan Juni Juli 2020.

PT Mandiri Tunas Finance. (Foto: MTF)
PT Mandiri Tunas Finance. (Foto: MTF)

Berapa target pembiayaan di 2021?

Di 2021 kita targetkan Rp 20 triliun. Tahun 2020 Rp 16,1 triliun. Kalau dibandingkan kan gini Gaikindo itu kan satu juta mobil baru. Kita kan mobil baru ya.

Tahun lalu, 2020 itu, 540 ribu, tapi tahun ini Gakindo bilang 700-800 ribu. Kalau 750 ribu saja berarti target kita bisa aman.

Apa gebarakan yang dilakukan untuk mengejar target itu?

Iya yang pasti sekarang kita kan sudah ada Autofiesta juga buat jualan online. Orang yang takut pandemi tidak usah keluar rumah.

Kita kerja sama juga dengan Mandiri. Bunga juga sebetulnya rendah banget 2,7 persen kan itu rendah.

Tapi memang DP kita naikin karena mengurangi risiko. Tapi kan bunga sudah rendah dalam artian dapatnya cuma dari kick back asuransi sama administrasi.

Apalagi yang Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) mandiri itu rendah banget bunganya. Karena dana juga dari Mandiri kan.

Target NPL tahun ini berapa?

Kita targetkan di bawah 1 persen. Di bawah 0,8 kalau bisa.

Pernah sepanjang tahun NPL meningkat?

Iya itu yang 3 persen itu. Di awal pandemi. Tapi sudah turun lagi. Kalau ada grafiknya dibandingkan market mah 5-6 persen kita masih di bawah jauh.

Bagaimana MTF melihat perpanjangan masa restrukturisasi?

Iya tapi kita juga ada catatan dalam artian kita tidak memberikan seperti tidak bayar itu dan lain-lain.

Kebijakan kami, restrukturisasi boleh tapi bayar bunga 50 persen. Jadi ada duit masuknya, masa sih tidak ada sama sekali, bohong lah kalau tidak ada sama sekali.

Jadi akan lebih selektif lagi memberikan restrukturisasi?

Lebih selektif. Karena kemarin kita kena pukulan juga tapi tetap ada kita kasih. Tapi ada syaratnya, sampai ke direksi itu.

Yang lama-lama masih belum aja masih tetap kita kasih keringanan, tapi tetap ujung-ujungnya bayar.

Ada tidak rencana untuk pembiayaan mobil listrik?

Kita ada 70 pembiayaan Hyundai mobil listrik. Kalau Tesla ada 2, kalau tidak salah.

Tentu ini kan pak Presiden Joko Widodo minta percepatan. Kemarin kebetulan kita sudah kerja sama dengan medco, kita juga mau kerja sama dengan yang lain-lain.

Jadi mereka yang nyiapin listriknya, Bank Mandiri fundingnya, kita sediain mobilnya. Orang kan belum tentu mau beli cash. Jadi kita bertiga sama swasta.

Rencana kerja untuk pembiayaan mobil listrik sendiri bagaimana?

Mobil listrik ini sangat penting ya. Indonesia itu telat. Jepang juga telat. Ada kan China. Itu kan sembilan tahun lagi minyak abis. Jadi sudah jelas, mobil listrik spiritnya tidak pakai energi fosil seperti minyak dan batu bara.

Intinya kita pasti dukung lah. Karena banyak sekali nih Indonesia potensinya kan, lagi diincer kan. Nikel sendiri sudah dilirik-lirik, Teslanya juga sudah mulai bangun pabrik.

MTF sendiri mungkin ada strategi untuk pembiayaan mobil listrik?

Itu makanya kerja sama yang tadi itu. Sama Mandiri, dan Medco jadi itu bertiga.

Mobil listrik perkembangannya pasti bertahap. Tidak mungkin kan jor-joran. Mau dicharge di mana? Kan harus dipikirin juga kan, mikirin dari hulu ke hilir. Masa saya bilang silakan mau charge di rumah, kan 700 watt bisa sehari semalaman. Matiin segala macem, repot.

Ngecharge juga tidak sembarangan. Mana ada orang mau charge satu jam di pinggir jalan, ada tidak? Nongkrong gitu, mana mau. Dia kan harus di pinggir sekolah, di pinggir restoran, mal.

Saya kan tinggal di luar negeri cukup lama. Itu di pinggir-pinggir pasar minimarket itu tempat charge dijejer.

Di Amerika Serikat kan gitu semua. Tidak mungkin di SPBU. SPBU berapa menit, ini ngecharge satu jam tidak mungkin. Ini kan perlu infrastruktur. Infrastrukturnya itu dikerjasamakan.

Kerjasamanya itu harus bareng-bareng, kita kan tidak punya duit, duitnya dari Mandiri. Kemarin sudah bicara-bicara juga kalau funding kan kalau mau beli mobil listrik harus murah dulu. Pastikan dibebasin PPnBM.

Tetapi aturannya sendiri harus diubah. Maksudnya peraturan dari OJK dan segala macem harus kerja sama juga dong bahwa ini lebih mulus, karena buat menarik kan.

Sudah itu ditambah lagi peraturan agak memaksa kan. Misalnya bos-bos BUMN contohin lah pakai mobil listrik. Terus misalnya kendaraan BUMN yang oprasional busnya, bus listrik. Kalau tidak gitu kan repot.

Teknologi kan makin maju. Jadi mobil itu awal-awalnya itu mobil listrik. 1800 akhir Thomas Alva Edison menciptakan mobil listrik. Tapi kan kecil, cuma bisa dua orang. Tiba-tiba datang yang pakai bensin.

Perkembangan teknologi yang bensin ini naik, yang listrik gini-gini aja. Jadi semuanya pakai mobil tenaga fosil, tenaga bensin. Jadi revolusinya dengan mobil tenaga bensin, nah ini lupa nih listrik. Karena memang saat itu minyak banyak.

Pembiayaan tahun ini ditargetkan tadi sekitar Rp20 triliun, itu sudah dialokasikan untuk mobil listrik?

Iya untuk mobil listrik termasuk. Untuk beberapa persennya kita lagi cari situasi dulu. Tapi yang pasti kita akan all out di mobil listrik. Intinya itu mobil listrik kita dukung 1.000 persen.