Wawancara Yoyok Sukawi: Cara Membagi Waktu Jadi Politisi dan Pengurus Sepak Bola

Bola.com, Semarang - Nama Yoyok Sukawi sangat familiar bagi publik di Kota Semarang dan Jawa Tengah. Pria bernama lengkap Alamysah Satyanegara Sukawijaya ini dikenal sebagai figur penting dalam sepak bola Semarang, khususnya PSIS.

Pria berusia 42 tahun ini adalah petinggi PSIS Semarang dengan posisinya saat ini adalah CEO. Yoyok sudah cukup lama menghabiskan waktunya untuk tim Mahesa Jenar.

Bersama PSIS, Yoyok dan pengurus lainnya merasakan pasang surut, dari prestasi hingga degradasi.

Selain dikenal sebagai sosok yang peduli dengan sepak bola Tanah Air, Yoyok juga politisi dengan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ia duduk di kursi komisi X DPR RI sebagai wakil rakyat untuk bidang pendidikan, olahraga, pariwisata dan ekonomi kreatif.

Kepada Bola.com, Yoyok Sukawi berbagi cerita mengenai perjalanan dirinya berkecimpung di sepak bola, membagi waktu dan tugas sebagai politisi, hingga cita-citanya membangun PSIS menjadi tim besar.

Berikut ini petikan wawancara eksklusif Bola.com dengan Yoyok Sukawi:

Awal Berkecimpung di Sepak Bola

CEO PSIS Semarang, Yoyok Sukawi (tengah) bersama perwakilan suporter di Stadion Citarum, Semarang, Senin (18/5/2020). (Istimewa/ Ofisial PSIS Semarang)

Bagaimana awalnya Anda berkecimpung di sepak bola, khususnya PSIS Semarang?

Awal saya menjadi pengurus sepak bola terutama di PSIS dari usia 20-an, ditunjuk sebagai manajer musim 2000 atau 2001.

Saya masuk di PSIS langsung menjadi manajer. Beberapa tahun kemudian menjadi General Manager, pelan-pelan hingga saya akuisisi sendiri klub PSIS ini.

Apa yang menjadi pertimbangan Anda mau dan masih berkecimpung di PSIS hingga sekarang?

Kebetulan keluarga besar saya menyukai sepak bola dan aktif dalam organisasi.Pertimbangannya, namanya juga warga Semarang, suatu kehormatan mendapat amanah menjadi manajer mengurusi PSIS. Saat itu saya masih muda sekali, tugasnya masih ringan hanya mengurusi tim.

Bisa diceritakan suka dukanya selama menjadi pengurus PSIS?

Suka dukanya banyak sekali. Kalau sukanya pasti saat tim menang, melihat euforia suporter. Menapaki prestasi, juara tiga, juara dua. Sembilan tahun di kasta dua kemudian naik lagi, itu pengalaman yang tak terlupakan.

Untuk dukanya terutama dalam 15 tahun terakhir sangat berat perjuangannya. Jujur waktu itu sepak bola masih menggunakan APBD.

Seperti berdiri di dua mata pisau, karena harus memanfaatkan anggaran pemerintah dengan baik, satu sisi harus bersaing dengan tim lain. Berbahaya jika itu salah penggunaan.

Kemudian PSIS waktu kalah atau saat dirugikan wasit. Namun dalam lima tahun terakhir sudah bagus perkembangan sepak bola Indonesia. PSIS dituntut untuk mandiri, itu sangat positif.

Bagaimana Anda melihat kondisi PSIS yang sekarang ini?

PSIS dulu prestasinya fluktuatif. Pernah juara lalu degradasi, kemudian berulang lagi. Dari situ kami ambil pengalaman bahwa sebuah klub itu mandiri dulu pondasinya.

Setelah itu tahun 2012 kami berbenah total. Tidak semata mengejar prestasi instan. Mulai dari infrastruktur, perusahaan, pembinaan suporter, memperkuat sisi bisnis, potensi pemain muda sebagai aset masa depan.

Di PSIS juga tidak pernah telat gajinya, kontrak pemain aman. Alhamdulillah tidak pernah ada masalah di internal tim.

Cita-cita untuk PSIS

Gelandang jangkar PSIS, Ibrahim Conteh (kiri) bersama CEO PSIS, Yoyok Sukawi. (Bola.com/Vincentius Atmaja)

Selain menjadi CEO PSIS, Anda juga menjadi ketua Askot PSSI Semarang, anggota Exco PSSI, hingga anggota DPR RI, bagaimana untuk membagi tugasnya?

Sebenarnya semua pekerjaan itu bebannya akan menjadi ringan, jika dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Komitmen besar sangat dibutuhkan. Basic saya memang sepak bola, sementara di keluarga ada bisnis properti dan SPBU.

Untuk itu saya fokus di olahraga dan politik. Saya berusaha memperjuangkan kepentingan olahraga, pendidikan, pariwisata yang sangat berkaitan dengan pekerjaan di Komisi X DPR RI maupun aktivitas di organisasi sepak bola.

Saya membuat undang-undang aturan kerja sama juga dengan Menpora, saling bersinergi. Kemudian saya menjadi ketua Askot Semarang, jika ditarik benang merah juga ada hubungannya. Membina pemain-pemain muda, mulai dari SSB, bisa masuk ke Elite Pro Academy PSIS. Tidak ada masalah sebenarnya.

Lalu di Exco PSSI juga sama saja, membantu persepak bolaan nasional. Pengalaman yang saya punya bisa ikut membantu. Kembali lagi asalkan punya waktu dan komitmen, semua akan baik-baik saja. Kemudian harus sepenuh hati, jangan nyarinya duit, berantakan semua nanti.

Dalam membangun sepak bola jangan dengan instan. Saya ngurusi PSIS selama 20 tahun belum pernah untung, rugi terus. Hanya beberapa tahun terakhir sudah bagus, ruginya jadi berkurang.

PSIS sekarang jadi sudah punya aset dan sebagainya. Kalau rugi ya terus, apalagi ngurusi Askot, apalagi di Exco PSSI, ngurusi ini itu. Tapi insyaallah kami menjalankan amanah di organisasi.

Cita-cita Anda untuk PSIS?

Markas PSIS kini sudah dipugar bagus, mes pemain ada sendiri, lapangan latihan sudah punya dua tempat. Tim sudah di liga 1 juga tidak muluk-muluk harus langsung juara, semua perlu diprogram bertahap.

Tinggal nunggu waktu bangkitnya saja tim PSIS. Termasuk di tahun ini sebenarnya waktu yang tepat mengukur kebangkitan PSIS, dengan target masuk lima besar dan sudah kembali ke Semarang. Namun karena wabah virus Corona membuat itu semua tertunda.

Video