Wayang mistis, cerita bukan dari dalang, tetapi dari wangsit

MERDEKA.COM. Wayang Gandrung, wayang mistis dari Kediri ini punya keunikan yang tidak dimiliki oleh wayang lain. Pergelaran wayang pada umumnya, lakon atau cerita datang dari sang dalang. Tetapi tidak dengan wayang Gandrung.

Saat penentuan alur cerita dalam pagelaran wayang, sang dalang seperti Mbah Kandar tidak memiliki otoritas menentukan  lakon. Semua hanya berdasarkan wangsit yang diterima Lamidi (60), pewaris ketujuh Wayang Gandrung dari kakek buyutnya Ki  Demang Proyosono. Wangsit datang ke Lamidi setelah dirinya melakukan laku ritual.

Peran kuat Lamidi dalam pengaturan proses ‘mungel’ (proses pementasan) merambah ke seluruh aspek aktualisasi Wayang  Gandrung, baik fisik maupun psikis.

Laku ini sekaligus membangun kerangka mistik yang terstruktur bagi menguatnya mitos masyarakat terhadap Wayang Gandrung.

Selain sang dalang tidak memiliki otoritas, penunjukan sebagai dalang juga hanya berdasarkan wangsit. Cerita ini dialami  oleh Mbah Kandar, sang maestro seni tradisi yang sejak tahun 1982 menjadi dalang Wayang Gandrung.

Sebelum menjadi penerus dalang Wayang Gandrung, dirinya adalah petani biasa yang tidak memiliki keahlian atau kepintaran  khusus dalan seni pewayangan, seperti yang dia lakoni sekarang ini.

"Kulo ujug-ujug saged dalang sak wangsule angsal wangsit ken dados dalang Wayang Mbah Gandrung (Saya tiba-tiba bisa  mendalang setelah mendapat wangsit supaya menjadi dalang Wayang Mbah Gandrung," kata Mbah Kandar yang selalu ceria.

Adegan berikutnya adalah berdasarkan wangsit sang pewaris dalam setiap pertunjukan yang akan dilakoni oleh Mbah Kandar,  sang dalang Wayang Gandrung. Dalam setiap pementasan lakon selalu berubah-ubah sesuai wangsit. Beberapa lakon tersebut antara lain Barong Skeder, Bagawan Mintuno, Kuda Sembrani, Naga dan lain sebagainya.

Merdeka.com sudah beberapa kali menyaksikan pegelaran Wayang Gandrung dan dua kali menyaksikan keanehan. Setiap kali  mengambil gambar di atas tungku dupa yang sedang dipenuhi asap dan api, tampak beberapa kali penampakan. Antara lain,  kepala naga, srigala yang menginjak kepala manusia.

Sulit jika dipikir dengan nalar, keanehan terjadi dan mengharuskan diam untuk mengikuti kekhusyukan Lamidi ketika  mengeluarkan wayang dari kotak penyimpanan, wayang dikeluarkan satu persatu, dihunus dari kantung/sarung kain secara  khidmat dan keempat wayang yang merupakan cikal bakal diasapi dengan dupa dan kemudian diserahkan kepada sang dalang.

Sekadar diketahui Wayang Gandrung kali pertama ditemukan di dalam kayu ada empat yakni Wayang Mbah Gandrung Kakung (Panji  Asmorobangun), Wayang Mbah Gandrung Putri(Galuh Candrakirono), Wayang Joko Luwar dan Wayang Raden Sedono Popo, namun  setelah disimpan dalam kotak keempat wayang tersebut membawa teman-temanya kurang lebih 40 buah.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.