Wejangan Jokowi untuk Gibran Agar Hati-Hati Mengawal Perdamaian Konflik Keraton

Merdeka.com - Merdeka.com - Konflik internal keluarga Keraton Kasunanan Surakarta menjadi perhatian Presiden Joko Widodo (Jokowi). Demikian juga saat kedua kubu yang berseteru belasan tahun akhirnya berdamai.

Jokowi memang pernah mendamaikan pertikaian di kalangan Keraton Surakarta, saat masih menjabat Wali Kota Solo, meski dalam konteks berbeda. Saat itu ada raja kembar yang bertahta seusai Paku Buwono XII mangkat. Kedua raja adalah Hangabehi yang bertahta di Kasunanan dan Tedjowulan yang berada Ndalem Sasana Purnama, Kota Barat Mangkubumen.

Seiring berjalannya waktu, keduanya bersatu. Hangabehi tetap menjadi raja bergelar Sri Susuhunan Paku Buwono XIII. Sementara Tedjowulan menjadi patih dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Harya Panembahan Agung.

Beberapa tahun kemudian, konflik keluarga kembali muncul. Yakni antara PB XIII dengan adiknya, GKR Wandansari alias Gusti Moeng. Istri KP Eddy Wirabhumi tersebut kemudian mendirikan Lembaga Dewan Adat (LDA).

Berdasarkan pengalaman tersebut, Presiden Jokowi pun memberikan wejangan kepada Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka. Wejangan terkait pertemuan damai kedua kubu yang kemudian berlanjut jamuan makan siang di Loji Gandrung. Keluarga Keraton Kasunanan yang telah menyatu kemudian meminta agar revitalisasi segera dilakukan.

Namun rencana tersebut tak sesuai harapan. Gibran menyebut revitalisasi masih menunggu pendanaan dan masterplan.

Gibran juga mengungkapkan jika dirinya mendapatkan wejangan atau masukan dari ayahnya, Presiden Jokowi saat bertemu di Yogyakarta akhir pekan lalu. Dia diminta agar berhati hati.

"Ya diminta hati-hati saja, tapi saya yakin semuanya lancar. Tinggal nunggu pendanaan, masterplan," ujar Gibran, Senin (9/1).

Jokowi juga mengatakan sebelum ada perdamaian kemarin, sebelumnya sudah ada perjanjian perdamaian. Bahkan dituangkan dalam perjanjian hitam di atas putih. Tetapi, konflik kembali terjadi.

"Makanya yang sekarang ini tidak ada hitam di atas putih. Ini gentlement agreement saja. Kalau mereka komitmen ya saya teruskan," katanya.

Sebaliknya, dikatakan Gibran, jika tidak komitmen, maka dirinya akan fokus ke revitalisasi Pura Mangkunegaran.

"Sejauh ini aman, kita enggak usah suudzon. Beliau (Jokowi) memperingatkan itu. Sejauh ini sudah terjadi seperti itu, tapi yakin selesai. Santai saja," tandasnya.

Gibran membandingkan revitalisasi di Pura Mangkunegaran yang berlangsung cepat. Hal tersebut karena sudah ada masterplan.

"Intinya kan itu bukan aset kami, ketika belum dibangun, sudah dibangun itu menjadi milik beliau-beliau itu. Ceritane dowo (panjang) sih," ucap dia.

Komunikasi Gibran dan Keraton Surakarta

Gibran mengemukakan, komunikasi dengan pihak keraton selama ini berjalan cukup lancar. Namun harus melibatkan banyak orang.

Dia mencontohkan, masih ada pihak yang mempertanyakan terkait pertemuan di Loji Gandrung antara dua kubu yang berkonflik beberapa waktu lalu.

"Aku wingi (kemarin) berita mendamaikan udah keluar, kok si ini nggak diajak, si ini nggak diajak, habis laporan ini lho mas. Ada yang seperti itu, padahal sudah ngajak semua. Tapi ya aku kon (disuruh) muter siji-siji (satu-satu) waktunya habis. Jadi satu pintu saja," bebernya.

Terkait masterplan revitalisasi Keraton Surakarta, Gibran menyampaikan, pihaknya sudah berdiskusi dengan salah satu keluarga keraton, GKR Wandansari yang sudah memiliki masterplan. Tetapi dirinya mengaku belum mempelajari secara detail.

Untuk revitalisasi Keraton Surakarta pihaknya tetap melibatkan budayawan dan sejarawan. Saat revitalisasi Pura Mangkunegaran, juga melibatkan sejarawan. Sebelum membuat masterplan, mereka mengumpulkan foto-foto sehingga ada gambaran bentuk aslinya seperti apa.

"Kalau Mangkunegaran itu cepat. Komunikasi, atau memanfaatkan aset, memanfaatkan event-event, kita promosi bareng-bareng, itu enak. Kita ingin skema yang seperti itu," tutupnya. [gil]