Werner dan Havertz jadi Biang Keladi Dipecatnya Frank Lampard?

Pratama Yudha
·Bacaan 3 menit

VIVAChelsea telah resmi berpisah dengan Frank Lampard. Pria asal Inggris itu dicopot dari jabatannya pada Senin 25 Januari 2021.

Keputusan ini tentu sangat mengejutkan. Tapi, bukanlah sebuah kejutan.

Pasalnya, pemecatan Lampard sudah diprediksi sejak lama. Penyebabnya jelas, prestasi The Blues yang menurun drastis pada kampanye terkini.

Berjalan separuh musim Premier League atau 19 pertandingan, Mason Mount cs terdampar di peringkat sembilan dan baru mengumpulkan 29 poin hasil dari delapan kemenangan, lima hasil imbang, dan enam kekalahan.

Produktivitas mereka juga terhitung kurang baik. Menceploskan 33 gol dan kebobolan 23 gol.

Sederet statistik itulah yang membuat Lampard akhirnya kehilangan pekerjaan di Stamford Bridge.

Lampard memang jadi salah satu pihak yang patut disalahkan atas menurunnya prestasi Chelsea musim ini. Sebab, dia tak bisa meracik komposisi tim dengan baik sehingga kerap tampil angin-anginan di lapangan.

Pria asal Inggris itu juga kesulitan menemukan starting XI andalannya. Dia kerap berganti-ganti formasi dan pemain tiap pekannya.

Dan yang paling disoroti tentu karena Lampard telah menghabiskan dana lebih dari £200 juta untuk mendatangkan tujuh pemain di musim panas lalu.

Di luar itu, Lampard jelas bukan satu-satunya sosok yang patut disalahkan. Performa minor The Blues juga dipengaruhi penampilan yang di bawah standar dari para pemainnya.

Padahal, Chelsea dihuni sederet pemain berkualitas. Namun, ada dua pemain yang patut jadi sorotan. Mereka adalah Timo Werner dan Kai Havertz.

Kedua pemain asal Jerman itu gagal memenuhi ekspektasi tinggi dari banderolnya yang mahal. Padahal, lebih dari separuh dana tersebut dikeluarkan untuk mendatangkan mereka.

Sayangnya, kedua pemain asal Jerman itu gagal memenuhi ekspektasi tinggi dari banderolnya yang mahal. Mereka malah jadi penyakit bagi The Blues.

Werner direkrut dari RB Leipzig seharga £53 juta. Sementara, Havertz dibajak dari Bayer Leverkusen dengan mahar £70 juta. Total, Chelsea menghabiskan £123 juta hanya untuk kedua pemain tersebut.

Nyatanya, performa keduanya sangat jauh dari harapan. Werner sejauh ini baru mengoleksi sembilan gol. Parahnya, dia sudah mandul dalam waktu yang lama.

Sebelum mencetak gol saat menghadapi Morecambe di Piala FA, dia sempat gagal mencatatkan namanya di papan skor dalam 12 laga.

Terakhir, dia mengoyak gawang lawan saat The Blues menang 4-1 atas Sheffield United, 8 November silam. Dan setelah bersua Morecambe, Werner kembali mandul dalam tiga laga.

Dia sempat memiliki peluang mencetak gol dari titik putih saat menghadapi Luton Town. Sial, sepakannya berhasil dibaca kiper Luton yang membuatnya kembali gagal menambah koleksi golnya.

Werner terlihat sangat frustrasi atas kegagalan itu. Dia bahkan sampai ingin merobek kostum yang dikenakannya. Padahal, bomber 24 tahun itu sempat mengawali musim dengan menjanjikan.

Lain Werner, lain pula kasus Havertz. Pemain termahal Chelsea musim ini memang sudah gagal menyatu dengan tim sejak pekan pertama. Dia tak bisa mengikuti ritme permainan Chelsea dan kerap dianggap tak ada di lapangan.

Diturunkan dalam 23 pertandingan, Havertz baru menorehkan lima gol dan enam assists. Jumlah itu jelas sangat jauh dari harga yang dibayarkan Chelsea pada Leverkusen.

Sayangnya, Lampard juga terlihat kehabisan ide bagaimana mengembalikan ketajaman Werner juga menemukan posisi yang tepat bagi Havertz. Jadilah kini Lampard menjadi tumbal dari buruknya performa kedua pemain tersebut.

Dia terpaksa mengakhiri kariernya sebagai manajer Chelsea lebih cepat. Lampard hanya bertugas selama 571 hari, menjalani 84 pertandingan, memenangkan 44 laga, imbang 15 kali, dan kalah dalam 25 kesempatan dengan persentase kemenangan hanya 52,4 persen seperti dikutip The Sun.