Widodo - Indonesia, UEA tandatangani kesepakatan bisnis senilai sekitar $ 23 miliar

JAKARTA (Reuters) - Indonesia menandatangani 11 kesepakatan bisnis dengan Uni Emirat Arab senilai Rp314,9 triliun ( 23 miliar dolar AS) yang mencakup investasi dalam sektor energi dan lainnya, Presiden Indonesia Joko Widodo mengatakan melalui akun Twitter-nya pada Senin.

Widodo menyaksikan penandatanganan perjanjian dengan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohammed Bin Zayed selama akhir pekan saat kunjungan resmi ke Abu Dhabi, kata cuitannya.

Presiden Widodo, yang memulai masa jabatan keduanya pada Oktober, berkeinginan untuk meningkatkan investasi asing untuk membantu menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi terbesar di Asia Tenggara itu, di mana pertumbuhan ekonominya telah macet pada kisaran 5% selama beberapa tahun.

Di sektor petrokimia dan gas, Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC) menandatangani perjanjian dengan perusahaan Indonesia PT Pertamina dan PT Chandra Asri Petrochemicals, kantor berita UEA, WAM melaporkan.

Mereka termasuk perjanjian untuk ADNOC memasok 528.000 ton gas minyak bumi cair (LPG) ke Pertamina pada akhir 2020, kata WAM.

Sebelum kunjungan, para menteri Indonesia telah menjabarkan beberapa kesepakatan, termasuk kesepakatan antara Pertamina dan ADNOC untuk meningkatkan kilang di Balongan, Jawa Barat.

Widodo mengatakan lima perjanjian juga ditandatangani antara kedua pemerintah. Kesepakatan itu mencakup pendidikan, kesehatan, pertanian, dan anti-terorisme, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Widodo dan putra mahkota juga membahas rencana untuk membentuk dana kekayaan negara, kata Menteri Koordinator Kelautan dan Investasi Indonesia Luhut Pandjaitan.

Softbank Jepang dan International Development Finance Corp (IDFC) AS juga tertarik untuk mengambil bagian dalam dana tersebut, kata Pandjaitan dalam sebuah pernyataan.

UEA akan dapat menggunakan dana tersebut untuk berinvestasi dalam pengembangan modal baru yang diusulkan Indonesia di provinsi Kalimantan Timur di Pulau Kalimantan.

Ia juga tertarik untuk berinvestasi dalam pengembangan properti di provinsi Aceh di pulau Sumatera Indonesia, kata Pandjaitan.