WIKA akan investasi smelter nikel pada 2022

Faisal Yunianto
·Bacaan 2 menit

PT WIjaya Karya (Persero) Tbk. atau WIKA pada tahun 2022 berencana untuk melakukan investasi pada smelter nikel sebagai bahan dasar komponen baterai, khususnya baterai bagi motor listrik Gesits.

"Tentunya kami memiliki cita-cita tidak hanya mengerjakan atau membangun smelter (nikel) saja, namun WIKA ingin berkontribusi untuk bisa berinvestasi pada smelter nikel dengan teknologi RKEF (Rotary Kiln-Electric Furnace) dan HPAL (High Pressure Acid Leaching) sebagai bahan dasar daripada baterai," ujar Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito dalam seminar daring di Jakarta, Rabu.

Agung mengatakan bahwa saat ini WIKA menjadi leading dalam pembangunan smelter nikel. WIKA melihat investasi pada smelter nikel tersebut penting untuk ke depannya karena WIKA memproduksi motor listrik Gesits, dimana komponen utamanya adalah baterai yang hingga sekarang masih impor.

Sedangkan baterai kendaraan listrik yang ada di Indonesia nantinya akan dikelola oleh konsorsium Indonesia Battery Corporation. WIKA sendiri nantinya akan berpartisipasi seperti dalam perakitan dan penggabungan komponen baterainya.

WIKA juga berencana untuk melakukan aksi korporasi pada tahun 2024 yakni melakukan transformasi PT Wijaya Karya Rekayasa Konstruksi atau WRK menjadi WIKA Energi dan assembling baterai.

"Di tahun 2024 WIKA akan mentransformasi PT. Wijaya Karya Rekayasa Konstruksi atau WRK menjadi WIKA Energi. Kemudian kita juga di 2024 akan melakukan assembling untuk baterai," kata Dirut WIKA tersebut.

Sebelumnya PT Ceria Metalindo Indotama (CMI), anak entitas PT Ceria Nugraha Indotama (CNI), menandatangani kontrak kerja sama dengan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) untuk mengerjakan pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel di Wolo, Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Dirut WIKA Agung Budi Waskito menyampaikan proyek pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian nikel dalam pengoperasiannya kelak akan menggunakan rute rotary kiln-electric furnace yang sudah terbukti untuk mengolah bijih nikel kadar 1.59 persen Ni menjadi feronikel dengan kadar 22 persen.

Baca juga: Sinergi WIKA-CNI percepat pembangunan "smelter" feronikel
Baca juga: RI bisa jadi produsen utama baterai-kendaraan listrik di Asia Tenggara
Baca juga: Wamen BUMN harap Holding EV Battery investasi terintegrasi hulu-hilir