William Sabandar, terpanggil karena tsunami hingga memimpin MRT

Ahmad Buchori

Tujuh tahun William Sabandar berstatus sebagai diaspora setelah menamatkan pendidikan master di University of New South Wales, Australia dan mengantongi gelar PhD di University of Caterbury, Selandia baru.

Pria kelahiran Makassar, 4 November 1966 itu enggan kembali ke Tanah Air karena situasi kondisi politik dan ekonomi belum stabil saat 1997 silam hingga Ia betah tinggal di Negeri Kiwi itu dan sempat ditawari menjadi pengajar di salah satu kampus ternama.

Hingga pada akhir Desember 2004, gelombang tsunami menerjang Aceh dan Nias yang membuat hatinya terpanggil untuk kembali ke Indonesia, mengabdi untuk negeri.

“Saya melakukan self-reflection ketika di luar negeri. Tsunami memanggil saya pulang, negara membutuhkan saya, saya harus memberi apa yang sudah saya dapat dari negeri ini,” kata pria berkacamata itu.

Lantas Ia bergabung dengan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias untuk membangun kembali kota yang luluh lantak tersapu gelombang tsunami, mulai dari jalan, jembatan, sekolah, hingga rumah sakit.

Misi kemanusiaan pria yang akrab disapa Willy tidak berhenti di situ, Ia juga sempat menjabat Ketua Tim Recovery Pasca Gempa di Myanmar saat menjadi Utusan Khusus Sekretaris Jenderal ASEAN.

Kariernya memang cukup berliku, William yang sejak kecil bercita-cita menjadi insinyur itu juga sempat bergabung dengan Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), Director of Corporate Affairs Sekretariat ASEAN, Deputi Operasional Badan Pengelola Reduksi Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Lahan atau REDD+ hingga staf ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merangkap Ketua Satgas Nasional untuk percepatan pengembangan energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi sebelum menjadi “masinis” perusahaan moda transportasi teranyar di Ibu Kota saat ini.

Memimpin perusahaan baru dengan moda transportasi baru merupakan tantangan besar baginya yang tidak pernah bermimpi menjadi orang nomor satu di MRT Jakarta.

Didorong keinginan untuk turut berkontribusi mengurai kemacetan Jakarta, Ia akhirnya menjawab tantangan itu.

“Saya ingin memiliki value untuk negara ini dengan menjawab tantangan MRT yang turut mengurangi kemacetan Jakarta. Ini yang men-trigger saya,” katanya.

Baca juga: Stasiun MRT Jakarta Fase II akan terintegrasi dengan Transjakarta

Di tahun pertama pengoperasian, bahkan belum genap setahun baru sembilan bulan sejak 24 Maret 2019 hingga 31 Desember 2019, MRT sudah melampaui target jumlah penumpang terangkut, yakni mencapai 95.000 per hari dari yang ditargetkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta 65.000 per hari.

Hingga akhir 2019, MRT mengangkut total 24,6 juta penumpang dengan ketepatan waktu 100 persen.

Pada tahun ini, juga akan ditingkatkan jumlah masyarakat terangkut (ridership) menjadi 100.000 penumpang per hari dari kapasitas maksimal kereta Ratangga Moda Raya Terpadu itu, yakni 173.000 penumpang per hari, namun pihaknya mengaku sulit apabila tidak didukung oleh pemerintah.

MRT Jakarta juga turut mengurangi kemacetan, seperti yang William cita-citakan.

Berdasarkan data yang diperoleh MRT, 80 persen polusi disumbang dari asap kendaraan bermotor, warga Jakarta yang menggunakan kendaraan pribadi 76 persen di mana sangat jauh dari prosentase warga yang menggunakan kendaraan umum, yakni 24 persen.

Hanya 16 persen kendaraan umum yang bisa diakses dalam jarak satu kilometer dan Jakarta menempati kota termacet keempat di dunia.

Pertumbuhan jalan yang hanya 0,01 persen tidak berimbang dengan pertumbuhan rata-rata 8,75 persen.

Kondisi tersebut menyebabkan kerugian secara finansial senilai Rp65 triliun per tahunnya.

“Saat ini predikat Jakarta sebagai salah satu kota termacet di dunia, turun dari peringkat empat ke peringkat 10,” kata William.

Menjaga Kesehatan Perusahaan

Perseroan daerah itu juga menyatakan pihaknya sudah membukukan keuntungan di tahun pertama beroperasi, yakni Rp60-70 miliar.

Ini lah yang menjadi keinginan William saat dirinya sudah tidak menjabat lagi sebagai petinggi MRT di masa depan, yakni menjadikan MRT sebagai perusahaan yang sehat, baik dari sisi konstruksi dan keuangannya.

“Saya ingin perusahaan ini sehat dari berbagai indikator, dari sisi konstruksi juga selesai tepat waktu, kualitasnya bagus dari sisi keuangan juga. Operasi di tahun pertama sudah 95.000 dari 65.000 penumpang dan sudah membukukan keuntungan, sesuatu yang jarang sekali untuk layanan transportasi publik,” ujarnya.

Saat ini, menurut dia, MRT Jakarta sudah memiliki budaya kerja yang baik, dengan disiplin, kredibilitas, tata kelola yang baik hingga cara kerja menuju kelas dunia, sehingga penyakit-penyakit semacam korupsi jangan sampai menggerogoti perusahaan yang sehat ini.

“MRT sudah di titik mendapatkan respek dan apresiasi masyarakat cukup tinggi, kalau itu dipertahankan cukup membuat bangga,” tuturnya.

Baca juga: MRT Jakarta optimistis pembayaran QR Code rampung dalam waktu dekat

Ia pun menaruh harap lewat satu kata pada MRT Jakarta, yakni kualitas karena semua harus berlandaskan kualitas dari sisi bisnis, pelayanan, keselamatan. Selain itu juga perlu adanya kolaborasi untuk mengintegrasikan moda transportasi di Jakarta dan Jabodetabek.

Ia masih berfokus untuk mewujudkan target 230 kilometer lintasan MRT terhubung, baik itu Utara-Selatan (Ancol-Lebak Bulus) maupun Timur-Barat (Cikarang-Balaraja).

Dengan teknologi serta budaya kerja yang dimiliki kini, William berharap pihaknya dapat menjadi operator transportasi perkotaan kelas dunia.

MRT juga terus berkolaborasi dengan operator di dunia, di antaranya menandatangani nota kesepahaman operasi dan pemeliharaan dengan Korea Selatan, penyediaan layanan konsultan terkait untuk meningkatkan operasi dan kinerja pemeliharaan dengan Jepang dan program pengembangan kapasitas dengan Hong Kong.

"Saya berharap, daerah-daerah lain juga bisa mengambil manfaat dari apa yang bisa dibangun, tidak perlu melihat ke luar negeri lagi,” katanya.

Baca juga: MRT Jakarta siapkan integrasi pembayaran transportasi umum

Baca juga: Revitalisasi Monas, MRT tegaskan proyeknya di Monas berizin