Wisata penanaman mangrove digital jadi strategi ekonomi biru

Wisata penanaman mangrove secara digital yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Sungai Kupah, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat merupakan salah satu strategi dalam pengembangan ekonomi biru.

Ketua Kelompok Wisata Rudi Hartono dalam rangkaian Development Ministerial Meeting Presidensi G20 Indonesia bertajuk Showcasing Session of Blue Economy Initiatives di Belitung pada Kamis, mengatakan program wisata ini memberi nilai tambah bagi ekonomi daerah.

“Penanaman mangrove secara digital itu wisatawan bisa menanam langsung ke lokasi wisata kami lalu nantinya pohon yang ditanam akan kami titik koordinat-kan,” kata Rudi.

Rudi yang merupakan penggerak pemuda-pemudi di Desa Sungai Kupah untuk pengembangan ekonomi biru ini mengatakan wisata penanaman mangrove digital merupakan salah satu inovasi.

Ia menjelaskan Desa Sungai Kupah sendiri merupakan pesisir yang berhadapan langsung dengan Laut Natuna dan terdapat benteng pembatas berupa hutan mangrove.

Desa Sungai Kupah terletak di penghujung hulu Sungai Kapuas sedangkan hilir berada di Selat Karimata yang berbatasan dengan Laut Natuna dan melewati garis khatulistiwa.

Sayangnya, hutan mangrove yang menjadi benteng perlindungan desa ini terkena abrasi sepanjang 2000 hingga 2017 sehingga desa sering terterjang ombak besar dan banjir.

Hal tersebut menginisiasi Rudi beserta pemuda-pemudi desa untuk melakukan inovasi dalam rangka memperbaiki ekosistem mangrove yang sekaligus dapat memberi nilai tambah bagi perekonomian desa.

“Kami sejak 2017 berdiskusi tentang abrasi di desa ini hingga kami mendapat sebuah komitmen bersama untuk mereboisasi hutan mangrove kami,” jelas Rudi.

Rudi mencanangkan penanaman mangrove digital yaitu para wisatawan dapat menanam mangrove baik secara mandiri datang maupun melalui panitia yang sebelumnya harus registrasi secara online.

Nantinya, mangrove yang ditanam itu akan ditentukan titik koordinat lokasinya sehingga para wisatawan bisa memantau tumbuh dan kembang mangrove tersebut secara online.

Bahkan para wisatawan pun akan diundang untuk hadir ke desa wisata ini untuk memperingati Hari Mangrove Sedunia bersama mangrove yang telah mereka tanam.

Tak hanya merawat mangrove yang akhirnya meramaikan wisata desa, Rudi beserta teman-teman turut menjaga lingkungan karena proses penanaman mangrove maupun media pembibitan sudah menggunakan bahan organik.

Mangrove di Desa Sungai Kupah ditanam menggunakan ecopolybag yakni terbuat daun nipah mengingat daun ini menjadi sampah yang tidak bisa didaur ulang sehingga ibu-ibu desa setempat menganyamnya untuk menjadi polybag.

“Lidinya itu kita ekspor ke India sedangkan limbah daun nipahnya dianyam menjadi polybag (untuk menanam mangrove),” kata Rudi.

Baca juga: Menteri Sandiaga promosikan wisata penanaman Mangrove Digital

Baca juga: KLHK: Restorasi mangrove bukti komitmen RI pada G20