Wisatawan asal Cirebon terkesan dengan tidak adanya antrean di MRT

Wisatawan yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon Deni Nurcahya merasa terkesan menggunakan transportasi mass rapid transit (MRT) karena tidak adanya antrean.

"Yang paling berkesan itu naik MRT karena semuanya serba tanpa uang tunai (cashless) sehingga tidak terjadi penumpukan penumpang," kata Deni selaku peserta program wisata pengenalan atau familiarization trip (famtrip) Pemerintah Kota Jakarta Selatan saat dihubungi di Jakarta, Kamis.

Menurut Deni, transportasi di DKI khususnya Jakarta Selatan semuanya serba praktis dengan fasilitas lengkap, dan modern sehingga menambah kenyamanan penumpang.

Transportasi seperti TransJakarta maupun MRT tentunya bisa menarik wisatawan luar untuk mencoba sembari berjalan-jalan di Jakarta, kata dia.

Terlebih, hanya perlu membayar minimal Rp3 ribu hingga maksimal Rp14 ribu sekali jalan tergantung naik dari asal stasiun MRT hingga tujuannya.

"MRT itu pokoknya efektif dan efisien sebagai transportasi dalam jarak jauh di Jakarta," tambahnya.

Deni bersama 50 peserta yang terdiri dari figur berpengaruh media sosial (influencer), mahasiswa, dan duta wisata asal Kabupaten Cirebon mengaku sangat antusias menjelajahi destinasi wisata urban di Jakarta Selatan.

Selain naik MRT, pertanian di ibu kota atau urban farming juga menarik bagi mereka lantaran memanfaatkan lahan hingga barang yang ada.

"Di Jakarta Selatan ternyata ada Agro Edukasi Wisata Ragunan yang memanfaatkan kontainer sebagai media tanaman," tambahnya.

Ke depannya, Harapan Dedi, pihaknya bisa terus bekerjasama dengan pihak Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Kota Administrasi Jakarta Selatan dalam bidang wisata maupun suvenir dari wilayah masing-masing.

Kegiatan famtrip merupakan acara yang diselenggarakan Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Kota Administrasi Jakarta Selatan dalam rangka pengenalan destinasi urban (perkotaan)

Adapun kegiatan ini berawal pada 2-3 November 2022 untuk Kabupaten Ciamis.

Sedangkan 7-8 November dari Kabupaten Garut, dan terakhir pada 16-17 November 2022 untuk peserta dari Kabupaten Cirebon.

"Diharapkan dengan adanya kegiatan ini para wisatawan bisa mengenalkan destinasi lewat media sosial dan menghidupkan perekonomian warga Jakarta," kata Kepala Suku Dinas Parekraf Kota Administrasi Jakarta Selatan Rus Suharto.

Rus menuturkan para peserta juga tertarik mendatangi pusat oleh-oleh di DKI Jakarta usai kegiatan dengan mengunjungi Tanah Abang dan Unit Pengelola Kawasan Perkampungan Budaya Betawi (UPK PBB) Setu Babakan yang bisa meningkatkan perekonomian pedagang.

Kegiatan famtrip ini bersumber dari APBD dengan jumlah Rp500 juta meliputi transportasi, penginapan, wisata, hingga konsumsi bagi seluruh wisatawan dari Ciamis, Garut, dan Cirebon.
Baca juga: Parekraf Jaksel fasilitasi musisi disabilitas hibur wisatawan Cirebon
Baca juga: Pemkot Jaksel promosikan Blok M dan Kemang kepada wisatawan nusantara
Baca juga: Agro Edu Wisata Ragunan jadi inspirasi Ciamis kembangkan wisata alam