Wisatawan dan mahasiswa asing belajar membatik di Surabaya

Sejumlah wisatawan dan mahasiswa asing belajar membatik di Kampung Batik Tin Gundih Jalan Sumber Mulyo IV, Kelurahan Gundih, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya, Jawa Timur, Kamis.

Koordinator perajin batik Kampung Batik Tin Gundih Siswojo mengatakan, ada 15 mahasiswa asing yang belajar di di Kampung Batik Tin berasal dari Bangladesh, Pakistan, Myanmar, Thailand, Filipina, Singapura, dan juga Malaysia.

"Mereka sangat senang belajar membatik di tempat kami mulai dari siang hingga malam," kata Siswojo yang juga Ketua RW 4 setempat.

Kampung Batik Tin yang diresmikan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi pada 24 Juni 2022 itu menjadi tempat belajar batik bagi mahasiswa asing. Mereka belajar di kampung tersebut sejak 8 November 2022.

Baca juga: Pemkot Surabaya patenkan enam motif batik khas Kota Pahlawan

Baca juga: Wali Kota Eri kenalkan batik Surabaya di "Karnaval Nang Tunjungan"

Menurut dia, para mahasiswa belajar membatik dan merasakan sensasi membatik, terutama Batik Tin yang merupakan ciri khas kampung tersebut.

Di sela-sela membatik, mereka juga mengapresiasi dan berharap supaya Batik Tin itu bisa terus berkembang hingga ke mancanegara.

"Alhamdulillah mereka mengganti kain dan pewarna kami, itu menjadi pemasukan tersendiri bagi para perajin," kata dia.

Siswojo juga menegaskan bahwa sebelum mahasiswa asing itu datang untuk belajar, sebenarnya sudah ada mahasiswa nusantara dari berbagai daerah di Indonesia yang datang terlebih dahulu ke kampung tersebut yang berasal dari Maluku, Papua, NTT, NTB, dan juga Kalimantan.

"Kalau yang dari mahasiswa nusantara ada 20 mahasiswa. Mereka belajar membatik juga. Jadi, di tempat kami sudah sering jadi jujukan belajar membatik," ujar dia.

Camat Bubutan Ferdhie Ardiansyah mengaku bangga karena Kampung Batik Tin kini sudah dikenal warga dari luar negeri. Karena itu, dia pun berharap para mahasiswa yang telah belajar di kampung tersebut bisa menyebarkan informasi itu kepada saudara atau teman-temannya di negaranya.

"Yang paling penting, di tempat padat karya itu bisa menyerap pekerja, karena sekarang ini sudah ada 25 warga yang terlibat dalam produksi pembuatan Batik Tin Gundih. Mereka terdiri dari 16 MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) dan sembilan orang lainnya non-MBR," kata dia.

Dia menjelaskan, sebelumnya para perajin ini telah mendapatkan sejumlah pelatihan keterampilan membatik dari Kelurahan Gundih. Bahkan, kini mereka juga mendapatkan pendampingan dari sejumlah kampus di Surabaya.

"Alhamdulillah sekarang sudah banyak pesanan mereka, dan tentunya itu bisa mengangkat perekonomian mereka," ujar dia.

Selain padat karya di Kecamatan Bubutan, ternyata padat karya di Kecamatan Genteng juga sudah dikunjungi wisatawan mancanegara. Setidaknya sudah ada dua wisatawan mancanegara dari Austria yang mengunjungi padat karya di Kampung Ketandan Kelurahan Genteng pada 21 Oktober 2022.

"Jadi, di Joglo di Ketandan itu kami bentuk padat karya membatik yang baru dibentuk sekitar Agustus lalu. Nah, ketika wisatawan mancanegara itu berkunjung ke Kampung Ketandan, mereka juga tertarik dengan batik kami dan akhirnya membeli batik khas Ketandan itu," kata Camat Genteng Muhammad Aries Hilmi.

Sebenarnya, di Genteng sudah ada beberapa padat karya yang dibentuk pihak kelurahan dan kecamatan, yaitu di Kampung Ketandan dan di Peneleh. Di dua tempat tersebut, masing-masing ada 10 MBR yang menjadi perajin batik. Kini, mereka juga sudah banjir orderan, katanya.

"Dalam waktu dekat ini, infonya ada rombongan wisatawan mancanegara yang akan berkunjung ke Peneleh, sehingga kami akan pasarkan juga batik milik kami. Melalui cara ini, tentu ini akan sangat membantu warga untuk membangkitkan perekonomiannya," kata dia.

Baca juga: "Maspati Surabaya" jadi percontohan kampung binaan BUMN

Baca juga: Enam motif batik khas Surabaya dipamerkan lewat konser musik