Wolff: Sistem Konvergensi Mesin adalah Sebuah Penghinaan

Luke Smith
·Bacaan 2 menit

F1 sedang mempertimbangkan kemungkinan pembekuan pengembangan mesin sejak 2022, yang memungkinkan Red Bull tetap menggunakan power unit Honda setelah keluarnya pabrikan Jepang itu pada akhir musim depan.

Ferrari mengungkapkan pada Jumat (27/11/2020), bahwa mulai kompromi dengan pembekuan mesin. Jadi tinggal Renault yang menentang rencana itu.

Bos Ferrari, Mattia Binotto, dan prinsipal Red Bull, Christian Horner, menekankan perlu adanya mekanisme untuk konvergensi power unit. Perlu dipastikan tak ada perbedaan besar dalam kinerja ketika pembekuan diberlakukan.

Sebelumnya, Wolff mengklaim tak ada tempat untuk keseimbangan sistem performa-gaya di F1. Ia melihat proposal Binotto dan Horner sama saja.

“Saya tak melihat ada perbedaan, dan saya pikir ini jadi permulaan berakhirnya (F1). Power unit tidak hanya diukur dengan sheer power maksimal, tapi itu tergantung pada kemampuan mengemudi, bobot, pendinginan, dan memperkenalkan formula sederhana yang cocok untuk semua, tidak mungkin. Itu bukan yang akan didukung Mercedes,” katanya.

Ketika ditanya tentang peluang diperkenalkan kembali sistem token, yang memungkinkan pabrikan yang kalah saing untuk mengejar, mantan pembalap Austria tersebut menegaskan bahwa itu sebuah penghinaan untuk saran yang dibuat.

“Kami punya sistem token masa lalu ketika regulasi keluar. Karena beberapa kolega kami ingin token dihapus agar bisa mengejar, kami setuju penghapusan token,” tuturnya.

“Sekarang beberapa kolega kembali dengan sistem konvergensi, yang jujur saya katakan, itu sebuah penghinaan. Ketika Anda melihat beberapa tahun terakhir, dan pengembangan performa mesin, Ferrari jelas yang punya mesin terkuat di 2018, dan masih yang terbaik pada 2019.

“Kami mengembangkan mesin, kami terus mendorong batasan, dan kami membawa sesuatu ke lintasan pada 2020 yang kami harap bisa menyusul.”

Baca Juga:

Wolff Kritisi Regulasi Baru Power Unit Wolff Tegaskan Tiga Balapan Beruntun Butuh Pengorbanan Besar

Wolff melanjutkan serangannya. Jika konvergensi diterapkan maka akan menimbulkan gejolak karena tak ada seorang pun yang mau dipermalukan.

“Itu kenapa saya tak bisa memahami bahwa setiap pabrikan mobil yang yakin dengan kemampuannya mengembangkan sebuah power unit dan sebuah sasis, ingin mekanisme yang membuat keseimbangan power unit keluar,” ia menjelaskan.

“Saya kira tidak ada seorang pun yang menerima dipermalukan seperti itu di hadapan publik.”

Wolff khawatir kalau F1 menempuh rute itu, akan menimbulkan keraguan besar terhadap kinerja. Efek negatif lainnya adalah kemungkinan para pabrikan mempermainkan sistem.

“Saya melihat itu di DTM di mana beban yang diperkenalkan berdasarkan performa Anda, dan satu-satunya yang kami dengar setelah kualifikasi adalah ‘baiklah, saya akan memenuhi syarat untuk pole jika saya tak punya 5 kg di mobil,” ucap Wolff.

“Itu adalah keseluruhan narasi musim-musim DTM. Formula 1 harus berada sangat, sangat jauh dari itu atau kami akan berakhir seperti GT, di mana Anda mendesain power unit untuk satu-satunya topik manipulasi sistem.”