'Wonder Woman 1984': momen kebenaran untuk Hollywood yang diluluhlantakkan pandemi

·Bacaan 3 menit

Los Angeles (AFP) - Setiap kali dia menggunakan laso, taruhannya besar. Tetapi dengan dirilisnya "Wonder Woman 1984" pada Hari Natal, perempuan superhero terbesar di dunia ini dapat mengubah masa depan film-film terlaris atau blockbuster.

Setelah beberapa kali ditunda dan pada saat dua pertiga dari bioskop-bioskop di Amerika Utara tutup karena pandemi, "Wonder Woman 1984" akan menjadi film studio marquee pertama yang menggebrak layar lebar sejak "Tenet" pada September.

Dalam sebuah terobosan baru, sekuel ini akan tayang perdana secara bersamaan di rumah-rumah lewat layanan streaming HBO Max yang merupakan bagian dari strategi baru nan lebih luas yang telah membuat marah para bintang dan pembuat film papan atas di seluruh Hollywood.

"Ini dunia baru yang gila ... semua neraka terlepas," kata sutradara Patty Jenkins yang bersatu kembali dengan bintang Gal Gadot guna menindaklanjuti hit tahun 2017 mereka yang mendapat pujian luas.

"Semua orang tak tahu apa yang mesti dilakukan, dan semua orang berusaha mencari tahu," kata dia dalam pembicaraan online yang dipandu oleh media yang mempublikasikan Hollywood, Variety.

Setiap harapan untuk melewati box office awal yang menakjubkan senilai 800 juta dolar AS pupus seketika oleh Covid.

Namun pemegang saham, studio pesaing, dan pecinta film akan sangat antusiastis menonton untuk melihat bagaimana kinerja sang superhero, baik dalam layar besar yang masih terbuka maupun dalam mendorong pelanggan baru ke HBO Max yang saat ini masih kerdil dibandingkan Netflix dan Disney+.

Mengintensifkan tekanan itu, perusahaan induk AT&T berlipat ganda sejak mengumumkan strategi untuk "Wonder Woman 1984" dengan mengonfirmasi bahwa film itu akan mengikuti pendekatan sama untuk semua film Warner Bros 2021, termasuk "The Matrix 4" dan "Dune."

Langkah tersebut menuai amarah dari para sutradara penggemar layar lebar, dan para bintang yang sudah terbiasa membawa pulang bagian dari keuntungan box office.

"Wonder Woman adalah judul yang amat sangat terkenal," kata Paul Dergarabedian, analis senior di Comscore. "Semua mata tertuju kepada film ini ... film ini sungguh penting."

Sekuel film ini sendiri melompat ke masa depan dari parit-parit Perang Dunia I yang asli ke kapitalisme Amerika yang merajalela pada 1980-an.

Wonder Woman menghabiskan puluhan tahun guna menjalani kehidupan soliter, sebelum sejumlah peristiwa memaksa dia mengambang dari petir untuk kembali mencegah malapetaka.

Sementara film pertamanya diawali dari kisah asal puteri Amazon, sekuel ini memperlihatkan karakter Gadot mengeksplorasi perjuangannya dalam "membantu umat manusia menjadi lebih baik," kata Jenkins kepada wartawan dalam konferensi pers virtual.

Seperti film komik sebelumnya, "1984" juga dikemas dengan banyak humor, dan mengimbuhkan koreografi pertarungan yang terinspirasi Cirque du Soleil yang mengandalkan rig kawat kuno dan pemeran pengganti ketimbang trik-trik komputer.

"Sejauh ini, ini adalah film tersulit yang pernah saya buat," kata Gadot.

Superheronya dihadapkan kepada dua penjahat sekaligus: Maxwell Lord, seorang taipan jahat yang diperankan oleh Pedro Pascal ("The Mandalorian"); dan lawan lamanya sebagaimana dalam buku komik, Cheetah, diperankan oleh Kristen Wiig ("Bridesmaids.").

Sejak petualangan terakhirnya, sukses DC Comics lewat Wonder Woman yang laris ini telah ditiru oleh Captain Marvel yang diperankan oleh Brie Larson dalam film-film-film produksi pesaing DC Comics, Marvel.

Gadot (35) yang mengaku "tidak berkesempatan melihat semua karakter perempuan kuat ini" tumbuh, memandang tren ini dengan bangga.

"Kami perempuan, tubuh kami berbeda, cara kami bergerak berbeda," kata dia. "Dan inilah cara kami melakukannya."

Apakah "Wonder Woman 1984" selaras dengan kesuksesan film pertamanya, adalah akan sulit dinilai, paling tidak pada awalnya di mana statistik streaming terkenal buram.

Angka pembukaan box office di bawah 40 juta dolar AS di luar negeri di mana film tersebut memulai debutnya pekan lalu, termasuk China, adalah mengecewakan, meskipun perbandingan pasti dengan statistik pra-pandemi adalah sulit dilakukan.

Tetap saja, "Wonder Woman 1984" menghabiskan biaya pembuatan sekitar 200 juta dolar AS.

Selain mengakui bahwa filmnya "dibuat untuk layar lebar", Jenkins mengatakan bahwa film tersebut telah ditunda "cukup lama" dan rasanya "sangat menyenangkan" ditayangkan kepada penonton apa pun medianya.

"Ini masa yang sungguh liar. Saya merasa tidak ada satu hal pun yang bakal bertahan dalam pandemi ini," kata dia.

"Setiap struktur yang Anda berusaha andalkan masuk krisis begitu saja dan hancur berantakan."

amz/bfm