Xiaomi ke AS: Kami Bukan Milik Militer Komunis China

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 1 menit

VIVAXiaomi tidak terima tuduhan Amerika Serikat (AS) dan membantah memiliki hubungan erat dengan militer China. Mereka pun saat ini sedang mencari jalan keluar supaya dihapus dari daftar hitam Pemerintahan Presiden Donald Trump.

"Kami selalu mematuhi aturan dan beroperasi sesuai dengan hukum serta yurisdiksi yang relevan di mana kami menjalankan bisnisnya," demikian keterangan resmi Xiaomi, seperti dikutip dari situs Gizmochina, Senin, 18 Januari 2021.

Baca: Baterai Xiaomi Redmi 9T Diklaim Tangguh, Cuma Sekali Ngecas

Produsen smartphone terbesar ketiga di dunia ini juga menegaskan bahwa mereka menyediakan produk dan layanan untuk penggunaan sipil dan komersial.

"Kami tegaskan lagi di sini bahwa kami tidak dimiliki, dikendalikan atau berafiliasi dengan militer China. Kami juga bukan perusahaan milik militer komunis China seperti yang didefinisikan National Defense Authorization Act (NDAA)," ungkap Xiaomi.

Dengan demikian, Xiaomi akan mengambil tindakan untuk melindungi kepentingan perusahaan dan pemegang saham. Xiaomi juga sedang meninjau dampaknya terhadap seluruh lini bisnis mereka.

"Kami akan membuat pengumuman resmi lebih lanjut, jika diperlukan," paparnya. Xiaomi menjadi korban perang dagang AS dan China berikutnya setelah Huawei.

Xiaomi menjadi satu dari sembilan perusahaan teknologi yang masuk ke dalam daftar hitam yang dicurigai memiliki hubungan dengan Tentara Pembebasan Rakyat China.

Setelah penetapan ini maka investor Amerika Serikat tidak bisa lagi berinvestasi di Xiaomi. Para investor juga dilarang membeli saham dan sekuritas yang berkaitan dengan perusahaan teknologi milik Lei Jun tersebut.

Bukan itu saja. Investor harus melepaskan kepemilikan saham yang ada di Xiaomi hingga 11 November 2021. Padahal sejauh ini pemerintahan Trump belum memberikan bukti apa pun mengenai keterikatan Xiaomi atau perusahaan teknologi lainnya dengan militer China.