Yang Klasik Etnis Pernah Berjaya

Liputan6.com, Solo Mari bercengkerama dengan masa lalu, masa tempat-tempat tertentu berada di puncak popularitas. Taman Sriwedari Solo salah satunya.

"Dulu Taman Sriwedari atau Bon Rojo (sebuah Kebon Raja) Sriwedari sangat ramai pengunjung. Bon Rojo ini tempatnya nyaman dan syahdu," kata Utomo (65), salah satu warga Solo saat mengenang Taman Sriwedari pada tempo dulu.

Bagi Utomo, keberadaan Bon Rojo Sriwedari memang menjadi magnet hiburan untuk masyarakat umum pada saat itu. Selain bisa menyaksikan aneka koleksi flora dan fauna, para pengunjung juga bisa menyaksikan pentas hiburan wayang orang Sriwedari yang pentas setiap malam.

Masyarakat yang gemar bertualang berselancar mencari ilmu juga bisa mengunjungi Museum Radya Pustaka yang memiliki koleksi serat, buku maupun tulisan para pujangga keraton.

Dari sekian peninggalan Taman Sriwedari, kini yang masih bisa dinikmati hanya tinggal pentas wayang orang di Gedung Wayang Orang Sriwedari dan Museum Radya Pustaka. Sedangkan keberadaan kebun binatang yang dulunya menjadi ikon Taman Sriwedari telah pindah di lokasi lain, yakni di Taman Satwa Taru Jurug yang letaknya tak jauh dari aliran Sungai Bengawan Solo.

Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta KGPH Dipokusumo menjelaskan tanah yang digunakan untuk lokasi Taman Sriwedari atau Bon Rojo memang awalnya milik orang Belanda yang bernama Johannes Busselar.

Tanah tersebut pada masa pemerintahan Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono X bahwa tanah yang memiliki luas sekitar 10 hektare dibeli pihak Keraton Kasunanan Surakarta melalui KRMT Wirjodiningrat.

"Dalam perkembangan sejarahnya memang tanah itu dibeli oleh keraton pada zaman Sinuhun PB X," kata dia kepada Liputan6.com, Kamis, 9 Januari 2020.

Kaitan dengan Kebun Raya Bogor

Museum Radya Pustaka yang terletak di kawasan Taman Sriwedari.(Liputan6.com/Fajar Abrori)

 

Selanjutnya tanah yang kini lokasinya di pinggir Jalan Slamet Riyadi, Sriwedari, Laweyan itu  oleh Sinuhun Paku Buwono (PB) X pada waktu itu dikembangkan menjadi taman kota.

Menurut Dipokusumo, pembangunan Bon Rojo Sriwedari itu sang raja terinspirasi setelah mengunjungi Kebun Raya Bogor. Sinuhun PB X begitu takjub dengan keberadaan taman kota tersebut yang dipenuhi dengan berbagai pepohonan.

"Beliau itu memikirkan bahwa suatu kota ke depan itu harus ada yang namanya taman kota. Maka beliau terinspirasi dari Kebun Raya Bogor itu dan membuat taman kota yang namanya Kebon Rojo Sriwedari itu pada 1901," ungkapnya.

Selain itu, lanjut dia, di Bon Rojo Sriwedari itu juga terdapat kebun binatang. Tujuan membangun kebun binatang di taman raja itu unutk memindahkan koleksi binatang di keraton supaya bisa dilihat oleh masyarakat umum. Tak hanya binatang, koleksi burung-burung milik keraton juga ikut dipindahkan ke Bon Rojo.

"Yang jelas Bon Rojo pada masa PB X memang menjadi taman kota yang di situ utamanya sebetulnya kebun binatang. Koleksi binatang di keraton seperti gajah, macan, rusa dipindah ke Sriwedari. Begitu pula berbagai burung yang ada di keputren keraton ikut dipindah ke Bon Rojo agar masyarakat umum bisa melihatnya," ungkapnya.

Simak video pilihan berikut:

Wayang Orang

Pentas wayang orang di Gedung Wayang Orang Sriwedari Solo.(Liputan6.com/Fajar Abrori)

Menurut Dipokusumo, selain membangun kebun binatang, Sinuhun PB X juga melengkapi Taman Sriwedari dengan tempat hiburan. Lantas, sang raja memerintahkan untuk membangun gedung untuk tempat pertunjukan wayang orang di Bon Rojo itu. Hal ini dilakukan untuk memfasilitasi kerabat keraton maupun abdi dalem yang gemar menari untuk mementaskan tarian kisah Mahabharata maupun Ramayana di gedung tersebut,

“Putra-putri dalem dan wayah dalem Sinuhun PB X yang suka menari dan para abdi dalem untuk menari di gedung tersebut,” ujarnya.

Dengan keberadaan gedung wayang orang yang menjadi pusat hiburan itu membuat masyarakat awam bisa melihat pentas tarian wayang orang yang sebelumnya dipentaskan di dalam tembok keraton. Bahkan, hingga kini pentas wayang orang pun masih bertahan dari gempuran kesenian modern.

"Tarian-tarian itu kalau di dalam keraton tidak semua orang bisa melihatnya. Sekarang dengan adanya gedung wayang orang itu masyarakat umum bisa melihatnya," ucapnya.

Tak hanya pusat kesenian dan hiburan, PB X juga menylap kawasan itu menadi pusat kegiatan ahraga sepak bola lantan di bagian barat taman tersebut dibangun sebuah Stadion Sriwedari lengkap dengan lapangannya. Keberadaan memanjaka para kerabat keraton serta masyarakat umum untuk bermain sepak bola di lapangan tersebut.

Bahkan, stadion tersebut selanjutnya juga menjadi tempat penyelenggaran Pekan Olahraga Nasional (PON) I pada tahun 1948.

Selikuran

Penampakan menara Masjid Sriwedari di eks Taman Sriwedari Solo.(Liputan6.com/Fajar Abrori)

Menurut Dipokusumo, sejak masa pemerintahan Paku Buwowo X, Taman Sriwedari menjadi tempat penyelenggaraan malam Sselikuran pada bulan Ramadan. Pada malam tersebut, Keraton Kasunanan Surakarta dan masyarakat Solo menggelar kirab seribu tumpeng.

"Saat malam selikuran ada malaman Sriwedari. Banyak masyarakat yang datang ke Bon Rojo. Pada zaman itu ramai banget karena seolah-olah malaman Sriwedari itu menjadi ikon masyarakat termasuk keberadaan lampu sorot saat pasar malam yang pada saat itu sangat langka,” akunya.

Bahkan sejak beberapa tahun terakhir kirab seribu tumpeng yang diawali dari Keraton Kasunanan Surakarta juga mengambil rute titik akhir di Sriwedari, tepatnya di Pendopo Sriwedari.  Setelah itu, nasi seribu tumpeng itu akah dirayah oleh para abdi dalem dan masyarakat umum.

Mulai Surut

Bekas bangunan cafe di Sriwedari yang telah mangkrak, Kamis (9/1).(Liputan6.com/Fajar Abrori)

Pamor Taman Sriwedari mulai surut pada tahun 1980-an.Dipokusumo mengungkapkan kebun binatang yang terdapat di Taman Sriwedari dipindah ke Taman Satwa Taru Jurug. Pemindahan tersebut lantaran berdasarakan kebijakan Wali Kota Solo saat itu, Hartomo yang akan mengembangkan kawasan Sriwedari untuk menjadi tempat hiburan saja.

“Kalau ada kebun binatang tidak nyambung kalau untuk dikembangkan menjadi tempat hiburan terus binatang-binatang dipindah  ke Jurug. Setelah itu Sriwdari jadi taman hiburan rakyat yang aneh-aneh. Seolah inti spirit awal sebagai taman kota memudar,” kata dia.

Lantas di kawasan tersebut selain muncul restoran RM Boga d Taman Kapujanggan. Setelah itu di kawasan itu juga muncul kafe-kafe di sekitar Museum Radya Pustaka. Sebagai taman kota pun seolah citra tersebut pada waktu itu menjadi pudar. Bahkan di seberang gedung wayang orang juga dulu berdiri tempat hiburan lengkap dengan aneka permainan serta panggung hiburan.

Pemerintah Kota Solo mengeluarkan kebijakan untuk membangun masjid di kawasan Sriwedari. Tak pelak sejumlah tempat hiburan di lokasi itu terkena gusur. Masjid Taman Sriwedari Surakarta itu resmi dibangun mulai Februari 2018 silam yang ditandai dengan peletakan batu pertama.

Rencananya masjid tersebut berbentuk joglo dan bakal dilengkapi dengan menara. Bahkan, salah satu menara masjid tersebut memiliki tinggi hingga mencapai 114 meter. Hingga kini proses pembangunan masjid tersebut masih berlangsung.