Yen dan franc melonjak, dampak risiko buruk karena minyak dan corona

Agus Salim

Mata uang safe haven yen Jepang dan franc Swiss melonjak pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), setelah penurunan 30 persen harga minyak dan jatuhnya pasar saham membuat panik para investor dan mengirim harga-harga mata uang berayun liar.

Namun demikian, dolar AS tetap menguat terhadap mata uang negara-negara berkembang.

Investor juga khawatir setelah imbal hasil surat utang negara AS turun ke rekor terendah, dengan imbal hasil obligasi 10-tahun jatuh di bawah 40 basis poin dan seluruh kurva imbal hasil di bawah satu persen untuk pertama kalinya.

Baca juga: Dolar di kisaran 103,97 yen pada awal perdagangan di Tokyo

Pada saat yang sama, harga minyak anjlok 25 persen setelah Arab Saudi berjanji untuk memangkas harga dan mendorong produksi menyusul runtuhnya perjanjian pasokan OPEC.

Itu semakin meningkatkan kegelisahan di pasar yang sudah diliputi oleh pergerakan liar selama berminggu-minggu, ketika para investor berjuang untuk menilai kerusakan ekonomi yang disebabkan oleh virus corona.

"Dolar akan menguat terhadap mata uang Asia dan akan menghancurkan negara-negara EM (emerging markets), tetapi mata uang Eropa akan jauh lebih kuat daripada dolar AS karena Jerman dan Swiss akan menarik dana-dananya," kata John Taylor, presiden dan pendiri firma riset Taylor Global Vision di New York.

​​​​​​"Sementara Fed keluar menyelamatkan dunia dengan repo tak terbatas - dana krisis penjaminan untuk 'Pasar Eurodollar' dimanapun berada,” lanjut John Taylor.

Baca juga: Dolar AS di Tokyo diperdagangkan dikisaran 106,27 yen

Federal Reserve pada Senin (9/3/2020) meningkatkan suntikan tunai harian ke sistem perbankan untuk memastikan pasokan cadangan bank cukup.

Sementara itu dalam perkembangan virus corona, jumlah orang yang terinfeksi virus mencapai 110.000 di seluruh dunia ketika wabah mencapai lebih banyak negara dan menyebabkan lebih banyak kerusakan ekonomi.

Akibatnya, volatilitas mata uang melonjak.

Indeks volatilitas di pasar euro/dolar - pasangan mata uang yang paling banyak diperdagangkan di dunia - melesat ke tingkat tertinggi sejak April 2017 karena euro melonjak lebih dari satu persen ke level terkuat sejak Januari 2019.

Volatilitas tersirat dolar-yen satu bulan melonjak ke level tertinggi 11-tahun pada lebih dari 18 persen karena dolar merosot ke terlemah sejak 2016.

Baca juga: Dolar di kisaran 107,66 yen dalam transaksi awal di Tokyo

Dalam perdagangan sore, dolar melemah ke level 101,20 yen, terendah dalam lebih dari tiga tahun. Terakhir turun hampir tiga persen pada 102,23 yen.

Yen mencatat kenaikan tiga hari terbesar sejak krisis keuangan 2008. Mata uang Samurai itu melonjak sekitar sembilan persen dalam selusin hari perdagangan.

Euro menguat 1,4 persen menjadi 1,1443 dolar setelah sebelumnya menyentuh 1,1492 dolar, tertinggi sejak akhir Januari tahun lalu.

Indeks dolar turun ke tingkat terlemah sejak September 2018, dan terakhir di 94.913, merosot 0,5 persen.

Dolar juga turun 1,3 persen terhadap franc Swiss menjadi 0,9280 franc.

Baca juga: Dolar di kisaran paruh bawah 107 yen dalam perdagangan awal di Tokyo

Ada juga pergerakan besar dalam mata uang yang terkait dengan harga minyak.

Krona Norwegia jatuh ke rekor terendah. Euro menambahkan empat persen terhadap crown menjadi 10,857 krona dan dolar naik 3,1 persen menjadi 9,535 krona.

Dolar Kanada jatuh 1,5 persen terhadap greenback, yang naik pada 1,3620 dolar Kanada.

Dolar Australia dan dolar Selandia Baru sebelumnya turun hampir dua persen sebelum bangkit kembali.

Baca juga: Dolar AS di Tokyo diperdagangkan di kisaran 108,4 yen