Yenny Wahid ingatkan potensi pemuda tentukan masa keemasan Indonesia

Direktur The Wahid Foundation Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid mengingatkan masa keemasan Indonesia tahun 2045 dapat tercapai jika memaksimalkan potensi para pemuda saat ini.

"Masa keemasan itu dapat tercapai kalau bisa meletakkan pondasi yang benar di masyarakat, bisa memaksimalkan kontribusi dari anak-anak muda," katanya saat memberikan kuliah kebangsaan di FISIP Universitas Indonesia, Jakarta, Jumat.

Mengusung tema, sumpah pemuda, pemuda dan daya perubahan di tengah tantangan global, Yenny mengatakan saat Indonesia memiliki 64 juta pemuda usia produktif.

"Kalau mereka terfasilitasi dan potensi diri tercapai optimal, itu bisa tercapai masa keemasan indonesia," katanya menegaskan.

Dia menyatakan Indonesia tahun 2045 sudah mencanangkan diri pada masa keemasan, dimana Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor empat terbesar di dunia.

Mantan koresponden media Australia The Sydney Morning Herald itu mengatakan Indonesia merupakan negara yang sangat beruntung, karena lebih dari 50 persen penduduknya merupakan usia produktif.

Penduduk yang usia produktif kata dia, mereka akan bekerja, lalu membayar pajak dan negara pun mendapatkan penghasilan yang digunakan untuk membangun kembali fasilitas kepada masyarakat seperti jalan raya, rumah sakit, sekolah hingga bandar udara.

"Bonus demograsi Indonesia, terkadang kita kurang memahami sebagai peluang yang sangat luar biasa," ungkapnya.

Direktur The Wahid Foundation Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid di FISIP UI. ANTARA FOTO/HO-Humas UI. (1)
Direktur The Wahid Foundation Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid di FISIP UI. ANTARA FOTO/HO-Humas UI. (1)

Dia juga mengingatkan saat ini manusia mengalami tiga tantangan besar atau tiga tantangan besar yang dialami masyarakat dunia yakni disrupsi dalam hal teknologi, ekologi dan emosi atau ideologi.

Kata dia, teknologi informasi terkait internet of things, sosial media, blockhain hingga digital currency mengubah lanskap,
teknologi yang menghasilkan otomatisasi.

Dia mencontohkan dimana pekerja pabrik digantikan oleh mesin, dengan robot, industri membutuhkan efisiensi, sehingga mereka melihat teknologi merupakan solusi untuk menghemat efisiensi.

Selain itu, persoalan ekologi seperti kenaikan suhu bumi, kelangkaan sumber daya dan energi, perpindahan sukarela maupun akibat perang dan konflik.

Kemudian, Ideologi dalam hal politik mayoratarianisme dan supremasi identitas, politik identitas, persebaran narasi kebencian yang dimonetisasi, diskriminasi sosial dan terorisme.

Dia menegaskan sebuah negara atau komunitas terbelah, energi-nya menjadi hilang, tidak dapat membangun karena masuk dalam konflik, karena begitu banyak ongkos digunakan untuk mengatasi konflik.

"Biaya untuk mengatasi konflik begitu besar, sehingga begitu penting untuk menjaga persatuan dan kesatuan, kalau tidak kita tidak akan mendapatkan masa keemasan," pesannya.