YLKI: Kurangi distribusi BBM oktan rendah untuk Program Langit Biru

Nusarina Yuliastuti
·Bacaan 2 menit

Langkah pemerintah melalui PT Pertamina (Persero) mendorong Program Langit Biru meningkatkan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) ramah lingkungan dinilai perlu didukung dengan cara mengurangi distribusi dan penjualan jenis BBM yang tidak ramah lingkungan atau BBM beroktan rendah.

“Penggunaan BBM ramah lingkungan akan membuat lingkungan lebih sehat dan nyaman bagi masyarakat," kata Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Menurut Tulus, penghapusan BBM tidak ramah lingkungan seperti premium telah sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mengurangi emisi karbon, sehingga perlu dukungan semua pihak agar Program Langit Biru bisa tercapai.

“Namun, pengurangan emisi karbon akan sulit tercapai jika masyarakat masih dominan menggunakan BBM yang tidak ramah lingkungan," ujarnya.

Baca juga: YLKI: Distribusi BBM tidak terganggu, konsumen tak perlu panik

Menurut catatan, program Langit Biru telah dilaksanakan di sejumlah kota wilayah Jawa-Madura-Bali (Jamali) termasuk Jakarta Pusat dan Utara, Jakarta Barat, Selatan dan Timur yang kemudian diperluas ke kota-kota besar lainnya di Indonesia.

BBM yang lebih berkualitas memiliki kadar oktan (Research Octane Number/RON) tinggi, sehingga lebih ramah lingkungan karena rendah emisi. Karena itu, Pertamina terus mendorong penggunaan produk BBM berkualitas yakni Pertalite dengan RON 90, Pertamax RON 92 dan Pertamax Turbo RON 98.

“Lebih dari 30 persen bensin premium digunakan oleh kendaraan bermotor. Jika premium tidak dihapus, ibu kota akan tenggelam oleh polusi. Penyebab tingginya polusi udara tinggi adalah masih banyak penggunaan BBM oktan rendah,” ujarnya.

Sementara itu, ahli kesehatan lingkungan Budi Hartono menyebutkan polusi udara disebabkan BBM RON rendah membuat pembakaran tidak sempurna dalam ruang bakar yang mengakibatkan peningkatan emisi.

Hal ini berdampak buruk terhadap kesehatan. Berbagai penyakit kronis pun mengintai, seperti akumulasi polutan yang masuk ke tubuh akan memengaruhi metabolisme tubuh.

"Kebanyakan berdampak pada gangguan pernapasan seperti ISPA. Tak cuma itu, ada lebih banyak penyakit turunan yang berpotensi besar menyerang masyarakat dengan kualitas udara buruk, di antaranya, masalah paru, jantung, tekanan darah, dan stroke," ujar Budi.

Baca juga: Pertamina berlakukan harga Pertalite setara Premium

Polusi udara juga disebabkan karena pembakaran BBM oktan rendah dapat mengakibatkan antara lain terhambatnya pertumbuhan paru, menurunkan fungsi paru, asma, infeksi pernapasan, serta memengaruhi perkembangan mental dan motorik.

Untuk itu diperlukan komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat untuk dapat mulai beralih pada BBM dengan RON tinggi yang lebih ramah lingkungan. Ditambah, dibutuhkan edukasi bagi masyarakat akan bahayanya BBM dengan RON rendah.

Polusi sangat terkait dengan stres, salah satu hasil penelitian menunjukkan paparan polusi udara yang tinggi saat usia bayi hingga anak-anak menyebabkan peningkatan kecemasan dan depresi ketika memasuki usia 12 tahun.

Dalam berbagai penelitian banyak disebut bahwa paparan polusi udara yang tinggi pada remaja dan dewasa muda membuat mereka lebih rentan terhadap gangguan kecemasan, bahkan perilaku bunuh diri.