"Yogyakarta Komik Weeks" 2022 bangkitkan ekosistem komik Indonesia

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar pameran Yogyakarta Komik Weeks 2022 di Jogja National Museum (JNM) mulai 27 Oktober- 5 November 2022 untuk membangkitkan kembali ekosistem pegiat dan seniman komik Indonesia.

Pameran bertajuk "Aksi Transisi" itu memamerkan sebanyak 60 karya dari 30 pemenang lomba komik Kukuruyug #8 dan 30 seniman komik DIY melalui sistem kurasi.

"Yogyakarta Komik Weeks yang dilaksanakan setiap tahun ini diharapkan membangun dan mengembangkan ekosistem komik Indonesia," kata Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakhsmi Pratiwi saat pembukaan pameran di JNM, Yogyakarta, Kamis.

Dengan terbangunnya ekosistem komik tersebut, Dian berharap karya komik dari DIY dan Indonesia pada umumnya kelak dapat bersaing di kancah internasional.

Baca juga: Festival Cergam rayakan peran Arswendo di dunia komik

Baca juga: Komik Raden Saleh diluncurkan di Frankfurt Book Fair 2019

Adapun pemilihan tema "Aksi Transisi", kata dia, agar dapat mengakomodasi gagasan dan ide kreatif dari peserta lomba komik maupun seniman yang sedang bertransisi dari masa pandemi ke masa endemi.

Sejumlah karya komik tersebut antara lain berjudul "Alat Sekolah" yang menggambarkan suasana saat penerapan pembelajaran jarak jauh, hingga "Ekonomi Bangkit Kembali".

"Karya-karya komik dalam pameran ini menjadi bukti ketangguhan seniman dan komunitas komik Indonesia untuk tetap produktif dan mampu merespon zaman," ujar dia.

Salah satu komik yang dipamerkan dalam Yogyakarta Komik Weeks 2022 di Jogja National Museum (JNM). ANTARA/Luqman Hakim
Salah satu komik yang dipamerkan dalam Yogyakarta Komik Weeks 2022 di Jogja National Museum (JNM). ANTARA/Luqman Hakim

Sementara itu, Kurator Pameran Yogyakarta Komik Weeks Catur Danang berharap pameran tersebut dapat menumbuhkembangkan talenta-talenta baru seniman atau pegiat komik Indonesia.

Menurut Danang, pembuatan komik di Indonesia, khususnya di Yogyakarta memiliki sejarah panjang.

Komik di Tanah Air, menurut dia, pertama dibuat oleh komikus Abdul Salam yang merekam peristiwa Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta melalui komik yang diterbitkan pada 1951 atau jauh sebelum maraknya komik dari Jepang.

"Komikus Abdul Salam dia bikin komik yang dibukukan pertama kali, kisah Serangan Umum 1 Maret 1948. Dia selaku pelaku sejarah dan bikin komik nya pada 1951," imbuhnya.

Menurut Danang, teknik pembuatan komik perlu disebarluaskan karena bisa menjadi salah satu media yang digemari anak muda dalam merespons dan menyampaikan gagasan nya dengan bahasa tutur dan gambar sehingga mudah dipahami.

"Dalam perkembangannya komik tidak sekadar bacaan anak dan dewasa tetapi juga merupakan produk budaya dan industri yang mencerminkan karakter suatu bangsa," ujar dia.