Yogyakarta manfaatkan film untuk pelestarian sastra Jawa

Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta memanfaatkan berbagai media dan sarana dalam upaya pelestarian sastra Jawa, salah satunya melalui film yang diharapkan dapat lebih mudah diterima oleh generasi muda.

“Film yang kami produksi ini juga sudah ditayangkan di Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) pada akhir Oktober,” kata Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta Yetti Martanti di Yogyakarta, Selasa.

Film pendek besutan sutradara BW Purbanegara berjudul Gegaraning Akrami tersebut mengangkat kisah kehidupan sehari-hari anak muda masa kini, Ratih dan Bagas, yang mencoba menjembatani kebutuhan modern dan tradisional saat mempersiapkan pernikahan mereka.

Baca juga: Akademisi: Perlu upaya bersama pertahankan eksistensi sastra Jawa Kuno

Film berdurasi 22 menit tersebut memadukan sastra Jawa tradisional dengan budaya modern anak muda dalam sebuah kisah percintaan yang dikemas ringan agar mudah diterima generasi muda.

Yetti menyebut, media film dipilih sebagai salah satu upaya pelestarian sastra Jawa karena dinilai lebih mampu merepresentasikan situasi sosial budaya di sebuah daerah.

“Film pun akan memberikan dampak tidak langsung bagi penonton terkait nilai-nilai yang disampaikan,” katanya yang menyebut pelestarian sastra daerah saat ini menghadapi tantangan perubahan zaman dan budaya asing.

Baca juga: Yogyakarta gelar festival sastra wujud apresiasi pelestari sastra Jawa

Kesempatan untuk menayangkan film di UWRF, lanjut Yetti, juga sangat strategis karena kegiatan tersebut merupakan festival sastra tahunan yang cukup besar dan dihadiri oleh banyak pemerhati sastra dari berbagai negara.

Setelah ditayangkan di UWRF, film pendek tersebut akan ditayangkan di akun YouTube Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta dengan harapan lebih banyak masyarakat yang menontonnya.

Sementara itu, BW Purbanegara mengatakan, film berbahasa daerah di industri film nasional masih sangat jarang sehingga kehadirannya justru sangat dinantikan.

“Penayangan di UWRF juga memberikan kesempatan bagi film ini untuk mendapat penonton yang tepat dan apresiasi yang bagus,” katanya yang juga menjadi penulis naskah.

Baca juga: Yogyakarta gelar delapan kompetisi lestarikan sastra Jawa

Pengambilan gambar untuk film tersebut dilakukan di Jogja Library Center sebagai lokasi utama dengan pertimbangan bangunan memiliki arsitektur yang mendukung sisi artistik dalam film tersebut.