Yoshihide Suga, Anak Petani Stroberi yang Jadi PM Jepang dan Dikabarkan Mundur

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Tokyo - Yoshihide Suga tengah jadi sorotan karena dikabarkan bakal mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri (PM) Jepang. Hanya sekitar setahun mengemban posisi tersebut dari pendahulunya, Shinzo Abe.

Ayahnya hanyalah seorang petani stroberi dan guru di Yuzawa, sebuah kota di prefektur Akita. Namun, Yoshihide Suga berhasil menjadi tokoh berpengaruh di Jepang.

Tahun lalu, ia dilantik menjadi Perdana Menteri Jepang. Menggantikan Shinzo Abe yang terpaksa mundur akibat masalah kesehatan, demikian dikutip dari laman The Guardian, Jumat (3/9/2021).

Namun, jabatan ini tak lama dipegang oleh Suga. Pada Jumat, 3 September 2021, ia menyatakan akan mengundurkan diri.

Sumber-sumber partai mengatakan dia tidak akan mencalonkan diri dalam pemilihan pemimpin partai yang berkuasa pada September 2021, menyiapkan panggung untuk penggantinya setelah hanya satu tahun menjabat.

Tahun lalu, Yoshihide Suga menjadi PM setelah dipilih oleh parlemen Jepang. Suga mendapatkan total 314 suara dari 465 anggota DPR Jepang.

“Dia sangat pendiam,” kata Hiroshi Kawai, mantan teman sekelas SMA, tentang Suga.

"Dia adalah seseorang yang tidak akan kamu sadari jika dia ada di sana atau tidak."

Setelah lulus dari sekolah menengah di Yuzawa, Suga melakukan perjalanan ke Tokyo, di mana ia mengambil serangkaian pekerjaan paruh waktu, termasuk tugas di pabrik kardus dan pasar ikan Tsukiji, untuk membayar biaya universitas.

Karirnya dalam politik dimulai pada tahun 1987 untuk kursi di dewan kota Yokohama, Jepang di mana ia dikenal sebagai "wali kota bayangan".

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Popularitas Suga di Masa Pandemi

Yoshihide Suga (wikimedia commons)
Yoshihide Suga (wikimedia commons)

Pada Desember tahun 2020, tingkat popularitas Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga sempat anjlok ke level 50,3 persen.

Rakyat Jepang tidak puas dengan penanganan COVID-19 pemerintah dan meminta agar sektor kesehatan diutamakan ketimbang ekonomi.

November 2020, popularitas PM Suga masih berada di level 63 persen. Ini adalah pertama kalinya sejak 2017 popularitas PM merosot lebih dari 10 poin.

Menurut laporan Kyodo, sentimen negatif terhadap PM Suga juga melonjak dari 19,2 persen bulan lalu menjadi 23,8 persen.

Sebanyak 76,2 persen responden berkata mencegah infeksi seharusnya menjadi prioritas ketimbang menggairahkan ekonomi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel