Yunani Kembali Lockdown Nasional Usai Kasus Corona COVID-19 Meningkat

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Athena - Perdana Menteri Yunani mengumumkan masa penguncian (lockdown) selama tiga minggu secara nasional dalam upaya untuk menghentikan peningkatan infeksi virus corona sebelum tekanan pada sistem perawatan kesehatan negara menjadi tak tertahankan.

"Saya telah memilih sekali lagi untuk mengambil tindakan drastis lebih cepat daripada nanti," kata Kyriakos Mitsotakis, menambahkan bahwa Yunani telah mengalami peningkatan kasus yang agresif selama lima hari terakhir.

Di bawah aturan penguncian baru, yang berlaku pada Sabtu hingga 30 November, semua toko kecuali apotek dan toko makanan akan tutup di seluruh negeri. Restoran akan bisa mengantarkan makanan tapi tertutup untuk pelanggan yang ingin makan di tempat.

Penduduk hanya akan diizinkan meninggalkan rumah mereka untuk bekerja, janji medis atau latihan fisik.

Perbedaan utama dengan kuncian yang diberlakukan negara pada musim semi adalah taman kanak-kanak dan sekolah dasar akan tetap buka. Sekolah menengah akan tutup dan beroperasi dengan basis pembelajaran jarak jauh.

Yunani telah melaporkan lebih sedikit kasus virus corona daripada negara-negara Eropa, namun tetap mengambil langkah antisipasi.

Tetapi, Yunani melaporkan rekor tertinggi 18 kematian dan 2.646 kasus baru kemarin, mendorong para pemimpin mengambil langkah ini.

Sejauh ini, Yunani telah mengonfirmasi 46.892 kasus virus korona dan 673 kematian sejak dimulainya pandemi.

Dengan mengkonfirmasi langkah-langkah terbaru, Yunani bergabung dengan daftar negara-negara Eropa yang terus bertambah yang memberlakukan penguncian baru.

Corona di Eropa

Polisi menyisir area lapangan Esplanade du Trocadero dekat Menara Eiffel saat lockdown di Paris, Prancis, Rabu (18/3/2020). Sampai Selasa (17/3/2020), Prancis memiliki 6.633 kasus virus corona COVID-19 dengan 148 kematian. (Ludovic MARIN/AFP)
Polisi menyisir area lapangan Esplanade du Trocadero dekat Menara Eiffel saat lockdown di Paris, Prancis, Rabu (18/3/2020). Sampai Selasa (17/3/2020), Prancis memiliki 6.633 kasus virus corona COVID-19 dengan 148 kematian. (Ludovic MARIN/AFP)

Pada Kamis pagi, walikota Paris Anne Hidalgo mengumumkan ibu kota Prancis akan ditempatkan di bawah lebih banyak pembatasan setelah Prancis memberlakukan kuncian nasional.

Banyak toko tutup lebih awal di malam hari dalam upaya untuk mengekang gelombang kedua.

Walikota mengatakan, tindakan itu diperlukan karena beberapa warga tidak menghormati aturan yang ada, membahayakan kesehatan banyak orang.

Berita itu muncul dua hari setelah Prancis mencatat angka kematian Corona COVID-19 tertinggi di antara negara Eropa mana pun sejak musim semi -- 854 kematian.

Demikian pula dengan pemerintah Italia yang memperkenalkan penguncian baru di empat wilayah yang terkena dampak terburuk di negara itu dan pengetatan pembatasan di tempat lain karena beban kasus Italia terus meningkat.

Pemerintah Norwegia juga memperketat pembatasan pada hari Kamis. Semua bar harus tutup pada tengah malam, dan perdana menteri Erna Solberg mengatakan kepada orang Norwegia untuk menghindari bepergian di dalam negeri dan sebisa mungkin tinggal di rumah.

Norwegia telah memberlakukan pembatasan baru pada pertemuan minggu lalu. Jerman dan Belgia juga telah memerintahkan penguncian nasional dalam beberapa hari terakhir.

Saksikan Video Berikut Ini: